Senin, 23 September 2013

Cerpen ke-6




Radar Bojonegoro Minggu, 23 Desember 2012

Aku, Ibu dan Penyesalan

Gagal itu ibarat sobekan tiket  yang harus dikumpulkan dan disatukan agar kertas itu menjadi utuh lagi, kertas yang kusebut tiket kesuksesan. Ya, aku harus menyatukan sobekan tiket itu agar  bisa masuk ke pintu kesuksesan untuk meraih mimpiku!

 “Nyesek iku naliko aku kelingan pas awakmu ngelarang aku sekolah nang SMA Sampoerna Bogor“.Batinku dalam hati saat jam berdenting menunjukkan tepat pukul dua siang. Aku yang saat itu tengah berbaring dikamar meneteskan air mata. Alunan lagu yang kudengarkan telah menyeretku dalam kejadian 20 bulan yang lalu.
Entah kenapa kaset dalam otakku seperti memplay kejadian 20 bulan lalu ditengah kegalauan yang menimpaku saat ini. Aku yang kini tengah merasakan downnya kondisi fisikku akibat kurang istirahat serta bingung karena begitu banyak permasalahan yang sedang kuhadapi.
Mungkin omelan ibukku beberapa waktu lalu juga menjadi faktor kegalauanku saat ini, omelan yang selalu kupikirkan sebelum aku tidur, saat aku sedang sendiri atau kapanpun saat aku diam tanpa aktivitas. Yang jelas, aku memang tengah merenungkan apa yang dikatakan ibuku. Meresapi setiap kata yang ditujukannya padaku. Kata yang terlontar ikhlas dan tulus dari hatinya. Aku mengakui jika aku memang aku bersalah dan pantas mendapatkan omelan itu. Bahkan sampai saat ini pun masih teringat jelas ungkapan kekecewaan ibu padaku.
Kulepaskan headset yang menutupi telingaku, membuka bantal yang menutupi wajahku lalu mengusap air mata yang turun dengan tanganku. Rumah dalam keadaan sepi, ibuku tidur di kamar sebelah yang hanya berbatas tembok bata. Ayahku sedang tak ada dirumah dan adikku bermain diluar rumah. Semoga saja ibuku tak mendengar isak tangisku ini. Bahkan jangan sampai ibuku tahu.
Berkali kali air mataku turun lalu kuusap lagi, turun lagi kuusap lagi. Begitu terus sampai aku berhenti menangis. Mungkin inilah saat aku bisa menyadarkan diriku, mencoba menyadari akan kebodohanku, kemalasanku, serta sikapku yang tak mau mendengar nasihat ibu dan selalu memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan yang matang.
Walaupun kejadian itu sudah lama ingin kututup rapat-rapat dan aku tak mau menyinggungnya lagi. Tapi sepintar-pintarnya seseorang dalam menutup kenangan paling buruk sekali pun suatu saat sengaja atau tanpa sengaja kenangan itu akan teringat kembali.
Dan ceritanya sewaktu aku akan meninggalkan bangku SMP, aku berniat untuk mendaftarkan diri sebagai salah satu penerima beasiswa SMA Sampoerna Malang. Awalnya niat itu tak kuceritakan pada orang tuaku, jadi aku mengurus sendiri segala keperluan yang kubutuhkan. Termasuk mencari informasi ke sana-sini, mengurus persyaratan disekolah, melengkapai administrasi, dll. Dan ketika persyaratan sudah lengkap semuanya aku baru bilang orang tuaku sekaligus meminta tanda tangan sebagai salah satu syarat persetujuan dalam formulir. Alhamdulillah, aku mendapat respon yang cukup baik dari mereka, orang tuaku mendukungku untuk mengikuti seleksi beasiswa itu.
Setelah semuanya kurasa beres, 3 hari sebelum penutupan penerimaan administrasi oleh pihak sampoerna aku baru mengirimkan administrasi bersama beberapa temanku melalui kantor pos. Sampai tiba waktunya pengumuman siapa saja yang lolos test administrasi, yang selanjutnya berkesempatan untuk pergi ke Malang mengikuti test tulis. Dari ke 9 orang temanku yang mendaftar, hanya 1 yang lolos. Lelaki, teman sekelasku. Yang memang telah menajdi rivalku selama ini. Tentu saja rival dalam belajar agar aku atau dia bisa mendapatkan nilai yang lebih tinggi. Namun aku mengakui jika dia memang pantas mendapatkan kesempatan itu . Dia lebih matang dariku, baik dari persiapan, sikap, mental maupun kecerdasannya.
Ya sudah, mungkin itu belum rezekiku. Bukankah di kota kelahiranku ini masih banyak sekolah yang mampu mendidik serta membimbingku untuk meraih apa yang aku cita-citakan. Semenjak kegagalan itu, tentu saja aku harus berjuang tak kalah kerasnya lagi untuk bisa bersekolah di salah satu sekolah favorit di tempat aku lahir. Sekolah yang menjadi impian keduaku jika aku tidak diterima di Malang. Bahkan sekolah itu sudah menjadi mimpiku ketika aku masih duduk di bangku taman kanak-kanak samping sekolah menegah atas itu.
Namun, di suatu waktu aku lupa entah kapan tepatnya. Siang hari ketika aku berada di rumah temanku, ayahku yang di rumah mendapat telfon dari Jakarta yang bilang kalau aku berkesempatan mengikuti test tulis dan interview untuk menjadi salah satu pelajar di SMA Sampoerna Bogor. Ayahku yang selesai berbicara dengan mbaknya dari Jakarta sana melalui telfon rumah, langsung menelfon aku, memberi tahuku tentang kabar baik itu. Ah tentu saja aku kaget, namun hatiku tak kalah senangnya. Setidaknya aku masih berkesempatan untuk mendapatkan beasiswa dan tentu saja mampu meringankan bebean ekonomi yang ditanggung keluargaku.
Malamnya semenjak kejadian siang tadi aku tak bisa tidur. Berbagai macam pikiran melayang-layang dalam benakku. Tentu saja yang kupikirkan nanti seperti apa ya testnya, sulit tidak, sanggupkah aku? Loloskah aku? Jika tidak aku harus bagaimana? Dan saat itu test dari Bogor hampir bersamaan dengan persiapan PSB di kotaku. Tentu saja aku galau.
Kuhubungi lelaki yang saat itu menjadi teman dekatku, meminta pertimbangan darinya harus bagaimana aku. Mungkin saja dia bisa memberiku saran, mengajariku sesuatu, meberiku semangat dll.
Kukira dia bisa mendukungku, namun berbeda dengan apa yang aku pikirkan. Dia tidak meresponku. Ya, dia tidak mendukungku untuk melanjutkan test beasiswa itu. Hingga hari berganti hari menjelang test tersebut, dia, lelaki itu terus merasuki pikiranku, melarang aku untuk tidak mengikuti serangkaian test itu.
Aku yang saat itu tengah merasa berada di puncak kebahagiaan bersamanya bimbang harus bagaimana. Aku tak melakukan sesi konsultasi pada orang tuaku. Dan orang tuaku sendiri memang mendukung, tapi kurang responsive agaknya. Pikiranku pun terpecah belah, satu sisi jika aku diterima di Bogor apa yang harus aku persiapkan? Sanggupkah aku jauh dari kedua orang tuaku? Berpisah ratusan kilometer dengan keluargaku kelak. Termasuk berpisah dengan lelaki yang kusayangi yang sudah menemaniku berbulan-bulan. Fokus belajar disana untuk meraih cita-citaku. Dan akan bertemu mereka setahun sekali. Ya Tuhan, berikan jalan untukku, berikanlah aku pilihan yang Kau anggap baik untukku, doaku dalam setiap sujudku.
Persiapanku memang belum matang ditambah lagi dengan keinginan lelaki itu yang tak merelakan aku pergi.
Bapak, bukan ayahku kandung, melainkan orang yang kupanggil Bapak itu orang yang selama ini juga telah membiayai sekolahku, bertanya padaku. “ Jadi dimana nduk? Wes siap test di Bogor atau niat sekolah di sini?”.  Ketika aku menyambangi tokonya, mengembalikan tabung elpiji yang habis dipakai ibuku memasak. Bibirku kelu, rasanya tak bisa menjawab. Namun kata yang terlontar dari bibirku adalah “Saya siap dimana saja, kalau di Bogor semoga Allah memberi kekuatan dan kemudahan, kalau di sini semoga Allah memberi rezeki yang lancar untuk Bapak dan Ayah agar bisa membiayaiku sekolah lebih tinggi.“
Nyess rasanya di hati, ketika berbagai pihak mendorongku untuk tetap melaksanakan test itu hingga akhirnya hari dimana test itu dilaksanakan jatuh juga. Dua hari aku menjalani test tersebut. Awalnya pshycotest dan test tulis. Aku tak terlalu mengalami kesulitan dalam test tersebut, tapi test di hari kedualah yang membuat pikiranku kacau. Sesi pertama adalah test interview bersama pihak sampoerna, entah kenapa saat aku ditanya bagaimana kesanggupanku untuk meninggalkan kedua orang tuaku, aku menangis dan air mata yang turun tak sedikit. Aku tak bisa menjawab pertanyaan yang mereka lontarkan padaku, bahkan isak tangisku begitu terasa senggukannya dihadapan mereka. Dan saat itulah kuketahui bahwa AKU BELUM SIAP MENINGGALKAN MEREKA. Padahal, saat aku test interview tersebut ada 2 orang pihak sampoerna yang mensurvei rumahku, melihat kondisi keluarga dan tempat tinggalku.
Se-Bojonegoro Tuban Cepu yang lolos, tidak semuanya di survey rumahnya melainkan hanya beberapa saja. Dugaan orang tuaku, MUNGKIN aku lolos, karena yang diketahui mereka bahwa survey rumah itu adalah tahapan terakhir dari semua test. Namun dalam batinku, apa benar aku kelak akan lolos dan besekolah disana? Mengingat sewaktu test interview tadi aku sempat menangis, dan tentu saja itu akan menurunkan poinku. Tapi etahlah, Wallahuallam.
Sampai akhirnya pengumuman siapa saja yang diterima itu muncul ke publik, dan aku tidak termasuk diantara mereka. Aku mbatin, “maafkan aku buat semua yang sudah mendukungku. Aku belum mampu membahagiakan kalian, mungkin inilah jalan yang dipilih Tuhan, yang terbaik untukku. Bekerja keras menempuh pendidikan disini bersama kalian orang-orang yang menyayangiku”.
Usai kegagalan yang kedua kalinya tentu saja aku tak boleh patah arang. Ya, aku harus tetap berusaha. Berusaha agar aku bisa masuk di salah satu sekolah tempatku lahir yang menjadi mimpiku. PSBpun dimulai, aku kembali mengikuti serangkaian test tulis yang diselenggarakan pemerintah. Dan hasilnya, Alhamdulillah aku bisa menjadi salah satu murid di sekolah tersebut.
Sebagai murid baru, tentu saja harus melewati Masa Orientasi Siswa yang menurutku sangat berkesan sekali. Termasuk harus memenuhi biaya administrasi yang meliputi pembelian seragam, daftar ulang dan pemRayaran uang gedung sekolah.
Aku tau, tentu saja orang tuaku tak memiliki nominal sejumlah uang yang harus dipenuhi begitu saja. Aku harus merelakan sepeda ontel yang telah setia mengantarkanku belajar di bangku menegah pertama untuk dijual, membeli baju seragam sekolah menegah atas. Dan tentu saja untuk administrasi lainnya masih dibantu orang yang kusebut Bapak itu.
Permulaan yang baik, menyadarkanku betapa kerasnya pengorbananku untuk dapat melanjukan sekolah. Dan seharusnya dari permulaan itulah aku tak boleh patah semangat.
Semester pertama di bangku SMA berjalan baik dan aku mampu menembus peringkat kelas, bahkan pararel 10 besar di sekolah. Tapi, untuk semester kedua semuanya menjadi kabur. Ya, nilaiku turun. DRASTIS. Kenapa hal itu terjadi?
Hubunganku dengan lelaki yang sempat melarangku untuk bersekolah di Bogor kandas. Padahal saat itu aku merasa hubungan kami baik-baik saja. Begitu pula orang tuaku yang menganggap kami ayem tentrem. Ya, orang tuaku telah dekat mengenal lelaki itu.
Kandasnya hubunganku bersama lelaki itu yang membuatku anjlok, bagaimana tidak? Semuanya berakhir beberapa hari menjelang ulangan semester. Dan aku tak terlalu paham sebab musababnya dia meninggalkanku. Layaknya remaja, bukan hal yang tidak biasa kalau tidak GALAU. Lalu malas untuk belajar, gak konsen dengan ulangan serta hal-hal lain yang SEHARUSNYA tak boleh terlalu kupikirkan.
Namun semenjak kandasnya hubunganku, aku harus mengakui bahwa keadaan dan semangatku sudah tak membara seperti dulu lagi. Bahkan 6 bulan semenjak kejadian itu, masih berdapak sekali kemalasanku. Ya, aku berlebihan memang. Tapi lelaki itulah yang menemaniku selama 2 tahun, tempatku mencurahkan keluh kesah dan memang salahku pula aku tak terlalu dekat dengan orang tuaku. Jadi wajar saja aku kehilangan control yang mengakibatkanku galau berlebihan.
Sempat terjadi pertentangan antara keluargaku dan aku yang saat itu aku memilih masuk jurusan social. Tapi keluargaku menginginkan aku di jurusan alam. Bahkan sempat pula terlontar dari kata kakekku, yang tidak mau membiayaiku lagi jika aku masuk program social.
Aku menyakinkan pada mereka, ilmu social lah duniaku. Bukan ilmu alam. Dan aku lah yang memenangkan perdebatan itu akhirya,          meskipun aku harus mendapat cercaan dari berbagai pihak yang menyayangkan aku memilih jurusan social.
Akan kubuktikan pada mereka bahwa kelak aku juga bisa menjadi yang terbaik di program social, dan muluruhkkan pemikiran mereka bahwa social itu sebenarnya BUKAN TEMPATNYA anak bodoh.
Namun apa yang terjadi? Aku mengalami tekanan yang luar biasa, berbagai masalah memRayangiku. Orang tuaku semakin tak mampu membiayaiku, orang yang kupaggil Bapak kini sedang mengalami penurunan ekonomi pula. Lalu kakekku? Sama saja. Bahkan beliau harus memenuhi kehidupan om dan pamanku yang mengalami pemutusan hubungan kerja.
Aku bangkit dari sebuah kekurangan, tapi berkali-kali aku bangkit kerap kali pula aku jatuh. Aku menyesal, kenapa dulu dan sekarang aku tidak dekat dengan orang tuaku, khususnya ibuku. Hingga ibuku sangking jenuhnya sampai melontarkan kekecewaannya terhadapku. Kenapa aku dulu kurang bersemangat mengikuti test itu, andai saja diterima pasti semuanya tidak akan seperti ini to nduk. Ucapan ibuku saat aku pulang larut malam, yaitu pukul 11 malam. Karna aku dolan dan tak bilang pada ibuku. Akhir-akhir ini pula aku juga sering tak membantu ibuku menyelesaikan pekerjaan rumah, sering keluar malam bersama teman-teman, pulang sekolah juga tak langsung pulang. 
Dan malam itulah ibuku memarahiku habis-habisan, malam saat aku pulang dari bermain pukul 11 malam. Puncak kekesalan ibuku padaku.
Sekarang aku benar-benar menyesalinya.
Mengingat kembali rentetan peristiwa 20 bulan terakhir hingga sekarang. Membuat hatiku terasa pilu, betapa aku telah mengecewakan mereka hanya karna lelaki yang mengendorkan semangatku dulu.
Baiklah, ini memang jalan hidup yang digariskan Tuhan untukku. Jika aku tak mampu mendapatkan kesempatan beasiswa itu mungkin salah satu dari tiga adikku yang sekarang masih mengenyam bangku sekolah dasar yang akan mengobati kekecewaan mereka dan menggantikanku.



Pernah dimuat di Radar Bojonegoro
Minggu, 23 Desember 2012 dengan judul SEPURANE



Cerpen ke-5

Banggakah Kau denganku Pak?

Ini bakatku, ini duniaku, tolong hargai aku! Beri aku kebebasan, beri aku kesempatan, agar aku bisa menjadi ‘AKU’.

“Pak, benjing jam sedoso saged tindak dateng pendopo mboten? Alhamdulillah, lomba nari kolowingi angsal juara setunggal. Bapak diundang wangsul dateng mriko kaleh panitia, niki pak undangane. Mengken dateng mriko njeh wonten materi kangge berangkat dateng provinsi mbesok Pak.“ kataku pada Bapak yang sedang membaca koran paginya. Aku sengaja bertanya tentang kesanggupan Bapak menghadiri acara penyerahan hadiah atas keberhasilanku meraih juara satu dalam serangkaian acara festival kesenian di kotaku. Aku menyodorkan undangan tersebut pada Bapak, berharap Bapak segera membuka dan membacanya. Aku ingin mengetahui respon Bapak, maka aku mengulur-ngulur waktu bersepatu dan mengecek kembali isi tasku.
            Namun Bapak masih sIbu dengan korannya, ketika kulirik halaman yang tengah beliau baca tertera berita dengan tulisan yang diblok besar-besar berjudul MENDIKNAS SEGERA PUTUSKAN PENGHAPUSAN SEKOLAH BERSTANDART INTERNASIONAL. Dalam hati aku menggerutu kenapa Bapak tak segera mengambil undangan itu.
Ternyata usahaku sia-sia, Bapak tak juga menyentuh amplop itu untuk dIbua dan dibaca. Sampai aku selesai bersepatu dan mengecek buku-buku di dalam tas, padahal Bapak juga sudah selesai membaca berita. Karna kulihat Bapak sedang membolak-balik halaman korannya, mencari berita yang pas untuk dibaca lagi.
Kenapa sih Bapak tak segera meresponku, atau sekedar bertanya, atau mengucapkan selamat. Gerutuku dalam hati. Ekspresi Bapak datar, sIbu dengan korannya. Menyebalkan.
Selalu saja begini ketika aku menyampaikan sesuatu pada beliau perihal juara-juara yang kuraih atas prestasiku di bidang seni dan sastra. Tak ada respon yang bisa membuat hatiku berbunga-bunga. Hanya ibu yang bisa membuat ku tersenyum senang. Hanya ibu saja rasanya yang mampu menghargai jerih payahku. Hanya ibu yang membiarkanku menggeluti dunia yang kumau. Tidak dengan Bapak yang kurang suka jika aku bergelut dalam dunia seni dan sastra.
Ketika aku pamitan pada Ibu setiap akan berangkat sekolah, selalu saja teruntai doa yang menyejukkan dari bibirnya. Doa alias pesannya padaku itu mampu membuatku bergairah untuk belajar di sekolah. Walaupun nantinya di kelas aku akan bertemu dengan pelajaran yang akan menyita pikiran dan energi seperti matematika, kima dan fisika.
Lain pula dengan Bapak, yang kerap kali membuat bibirku cemberut karna beliau selalu saja bilang “Belajar yang serius biar bisa ikut olimpiade SAINS. Bapak kan bangga jadinya.”
Selalu ucapan itu yang dilontarkannya ketika aku pamit akan berangkat sekolah. Seperti pagi ini, Bapak berkata seperti itu lagi ketika aku pamitan dengan Bapak. Membuatku badmood bukan kepalang.
Sepanjang perjalanan berangkat ke sekolah aku masih saja sebal dengan sikap Bapak tadi. Aku membayangkan apa yang akan terjadi, apa Bapak bisa datang atau tidak? Kalau Bapak tak bisa datang tak apalah setidaknya beliau memberiku ucapan selamat atau sedikit responsif atas prestasiku ini.
Bapak, orang yang disiplin. Keras kepala bukan main. Pendiriannya kuat. Kalau mau A harus dituruti. Pernah ketika kemarin kakak ingin melanjutkan pendidikan di Fakultas Ilmu Komunikasi, tapi Bapak menentangnya. Katanya, kalau mau sekolah ya di jurusan ilmu matematika, kimia, fisika atau tehnik. Kan pinteranya ketahuan, kelihatan kalau punya skill yang tidak diragukan. Kalau komunikasi semua orang jug a bisa gomong dan tampil di. Kakakku membantah keinginan Bapak, terus memaksa Bapak agar menyetujuinya melanjutkan pendidikan di jurusan ilmu komunikasi.
 Kakak ingin menjadi wartawan, bekerja di dunia media massa, hal itu kutahu ketika kakak curhat padaku karena kesal dengan sikap Bapak. Dan aku hanya menimpali curhatannya dengan ucapan begini “Turuti wae mas, daripada dinengno terus dan muring-muring ae gak jelas, gawe aku sumpek nok omah”. Dan kakakku kesal pula dengan jawabanku, menghantamku dengan bantal boneka kitty dan berlalu meninggalkan kamarku dengan muka masam.
Melamun dalam berkendara membuat pikiranku kacau. Berkendara sambil mikir reno-reno dapat memperlambat laju motorku dari biasanya. Tapi aku tak merasakannya. Dan sekarang, aku linglung ketika sampai di depan gerbang sekolah, pintu gerbang sudah ditutup. Kulirik jam di handphoneku. Tepat pukul 06.50. Aku telat 5 menit, pantas saja satpam sudah menutup pintu gerbang ini.
Aku memarkir motorku, memanggil-manggil pak satpam yang tengah asyik membaca koran lokal di pos jaganya. Aku merajuk pada pak satpam yang berpawakan tinggi besar ini agar mau membukakan pintu gerbang untukku. Setelah berdebat kurang lebih lima menit dan berkat kebaikan hati guru piket hari ini aku bisa masuk dan mengikuti pelajaran. Walaupun nantinya saat pulang sekolah aku harus menulis kalimat BAPAK IBU GURU, MULAI BESOK SAYA BERJANJI TIDAK AKAN DATANG TERLAMBAT LAGI sebagai hukuman. Aku harus menulis kalimat tersebut di kertas folio, menulis satu lembar penuh bolak-balik.
Hari ini aku mengalami tiga guncangan batin. Yang pertama sikap Bapak, yang kedua telat, yang ketiga harus menjalani hukuman dan berarti itu membuat waktu pulang ke rumah molor.
Esok harinya, hari Minggu. Hari libur sekolah dan hari libur kerja Bapak. Otomatis Bapak harus bisa datang ke Pendopo, HARUS. Aku ingin membuat Bapak bahagia ketika aku dipanggil maju ke depan dan mendapat penghargaan berkat keluwesanku menarikan tari tradisional dan nanti di pertengahan acara aku akan membacakan puisi. Puisi yang ssesungguhnya kutujukan untuk Bapak. Oleh karena itu aku berharap Bapak dan Ibu datang.
Minggu yang kunanti. Pagi yang indah ketika kubuka jendela, basahnya embun membasahi kaca jendela kamarku. Sejuknya udara pagi begitu terasa karena kamarku berada dibawah pohon mangga yang usianya sudah tua dan daunnya yang rimbun. Sepaang burung milik  Bapak yang digantung di dahan pohon yang ku tak tau apa namanya berkicau dengan merdu, karena Bapak tengah memandikannya dengan menyemprotinya air. Menambah suasana bahwa pagi ini akan menjadi hari yang menyenangkan menurutku.
Dua jam kemudian, ketika aku akan berangkat mandi sebelum menghadiri acara itu penyerahan hadiah, Bapak memanggilku dan bilang “Nduk, Bapak ndak bisa datang. mau ke kantor ada tugas.”
            “Inggih pak mboten nopo-nopo, mengken kulo tak berangkat kalih Ibu kaliyan dek Iqbal.” Begitu jawabku. Ah aku benar-benar kecewa. Sangat kecewa. Kupikir penampilan Bapak yang sudah necis ini untuk menghadiri acaraku, tapi ternyata tidak.
            Perasaan kecewa yang amat dalam menyelimuti benakku, berkali-kali setiap ada lomba dan aku berhasil meraih juara Bapak jarang bisa datang. Kalau pun bisa ya hanya 20 menit saja, itu paling lama. Ah bapak, selalu begitu. Selalu menuntutuku untuk menggeluti dunia akademik daripada minatku yang menggebu-gebu dibidang seni dan sastra misal.
            Selalu saja aku ditekan untuk mengikuti bimbingan belajar swasta dikotaku. Menyita waktuku saja. Aku lebih suka menghabiskan waktu untuk mengikuti ekstrakulikuler di sekolah daripada harus ikut bimbingan belajar. Bahkan setiap penerimaan raport Bapak selalu ngedumel gara-gara nilai raportku hampir turun kalau tidak begitu ya pas dengan standart penilaiannya.
            Alhasil 30 menit sebelum acara dimulai aku berangkat dengan Ibu dan Iqbal. Kulaju motorku dengan kecepatan 70km/jam. Ibu ngomel dijalan, muring-muring. “Jangan ngebut-ngebut to nduk, iki lo mboncengno Ibu mbek adek. Lampu abang kok yo mbok trabas ae. ”
            “Iyo buk, santae to. Biasa ae, okeeee!” kataku sambil menyakinkan Ibu. Ibu dan Iqbal yang kuboncengkan tak tenang hatinya, khawatir karena keselamatannya berada ditanganku dan aku hampir saja mencelakakan mereka.
            Aku berhasil tiba lima menit sebelum acara dimulai, aku mencarikan tempat duduk untuk Ibu dan Iqbal di bangku yang agak depan lalu kupersilahkan Ibu dan Iqbal duduk, aku pamit ke backstage untuk koordinasi dengan panitia mempersiapkan penampilanku nanti.
            Selama acara berlangsung aku tak bisa konsentrasi dengan acara ini. Pikiranku menerawang jauh, situasi seperti ini membuatku risau. Apa aku harus bahagia? apa aku harus bersedih? Bahagia karena setidaknya aku bisa menunjukkan pada ibu jika aku memang benar-benar serius dengan dunia seni dan sastra. Sedih karena gagal menyakinkan Bapak agar mau mendukungku bergelut di dunia seni dan sastra.
            Ah Bapak, guratan wajahmu tergambar jelas dalam benakku sekarang. Membuat perasaan ini gelisah karena aku belum bisa membuat Bapak bangga denganku. Pak, sampai kapan Bapak akan tersenyum lepas karena bahagia padaku? Apa mungkin senyum itu akan ada jika aku lolos dan memenangkan Olimpiade SAINS seperti keinginan Bapak? Atau apa jika aku menjadi peringkat satu dikelas karena prestasi akademikku yang gemilang? Iya pak? Begitu?
            Pak, apa kau bangga denganku  dengan  diriku yang berhasil meraih banyak penghargaan setiap mengikuti lomba seni, sastra atau sekedar olahraga renang dan bulutangkis? Apa Bapak bahagia? Apa Bapak bangga padaku?
            Pak, biarkan aku bebas seperti sekawanan burung yang terbang dari satu pohon ke pohon yang lain itu.  Pak, biarkan aku menjadi angin yang bisa menyejukkan hatimu dengan kemampuan yang aku miliki di bidang yang kutekuni. Pak, biarkan aku menjadi AKU sendiri.
Kelak, aku akan membahagiakannmu dengan secuil prestasi di bidang akademik. Tapi kelak Pak, Insya Allah. Tidak sekarang, hanya belum waktu saja. Lamunku dalam hati.
Tiba-tiba aku tersentak dengan kehadiran seorang pria setegah baya dengan tubuh agak gendut dan kepala botak yang menyalamiku dan mengajakku bicara.
“Oalah, ini to yang namanya mbak Evilia Selamat ya berhasil meraih juara 1 lomba nari. Reni sering cerita sama Bapak, pengen kayak mbak Via katanya yang jago nari dan baca puisi”, ucapan seorang Bapak yang kutahu ia adalah Bapaknya Reni. Adik kelasku yang juga mengikuti ekstra tari disekolahku, kutahu orang tuanya adalah pegawai sipil dibalai kepariwisisataan kotaku.
“Terimakasih Bapak. Dek Reni narinya juga luwes dan lincah. Bahkan bisa lebih bagus dari saya nanti jika mau belajar terus.” Jawabku dengan seulas senyum dan wajah memerah karena bahagia mendapat pujian seperti tadi.
“Nanti kalau ekstra lagi, Reni kasih semangat lagi ya biar lebih jago narinya. Itu lo mbak, pelajarannya sudah kendor. Tapi sepertinya dia tertarik dengan kesenian. Ya saya dukung. Daripada tidak punya potensi sama sekali. Setiap saya suruh belajar pasti ada saja alasannya yang katanya mau ekstra tari lah, latian dance, latian cheers. “
“Iya Pak, besok saya akan mengajari dek Reni untuk belajar nari lagi. Biar lebih semangat. Itung-itung kalau nanti saya sudah lulus SMA, kan dek Reni bisa jadi penerus saya. Yang mengharumkan nama sekolah”.
“Yawis, Bapak permisi dulu ya mau ke belakang panggung.” Kata pak Handoko
“Nggih Bapak, Monggo.”
            Lamunan yang membuatku gelisah buyar seketika dengan kedatangan Pak Handoko, rasanya kedatangan Pak Handoko membuatku makin pilu saja. Ah, andai saja Bapak seperti Pak Handoko. Andai saja.
            “Mbak pia mbak pia sudah dipanggil ayo maju kedepan,” kata Iqbal yang mengganduli lenganku memintaku segera maju ke podium karena giliranku membacakan puisi dan menari sudah tiba.
            “Anggap saja Bapakmu ada disini, melihatmu. Api aku tak tahu dimana dududuknya,” sahut Ibu yangsepertinya terasa ada kontak batin kerena menimpali apa yang tengah kulamunkan.
            Aku beranjak dari dudukku, melangkah menuju podium, orang-orang yang duduk di bangu barisan depan  memalingkan wajah ke belakang. Melihatku berjalan menuju arah podium.
            Ingin rasanya aku berteriak. Bapak, Lihatlah anakmu disini, tengah menunggu kedatanganmu!

Cerpen ke-4

                                                                                                            Sepuluh November    

Ini bukan aroma kematian
Tapi aroma perjuangan
Lukisan sejarah yang dilukis di kanvas raga
                                                           
Tak ada yang berubah di tempat ini, seperti embun pagi yang muncul di ketiak daun, merdunya gemerisik daun-daun pepohonan, dan suara burung bersiul. Memandangi embun pagi dan mendengarkan merdunya aliran sungai adalah ketenangan sendiri bagiku. Terlebih lagi ketika ingatanku kembali ke masa sepuluh tahun lalu, ketika aku sedang bermain air di sungai dan ditemani kakek.
Ah, tiba-tiba saja kerinduan akan kakek merasuki rongga hatiku, menyeretku pada kenangan beberapa tahun lalu, sewaktu kakek masih hidup. Kakek seringkali bercerita padaku tentang sejarah Indonesia. Apalagi ketika beliau menceritakan tentang para gerilyawan yang gugur di medan pertempuran.
Beruntung, kakek masih hidup hingga usianya mencapai angka delapan puluh lima dan baru berpulang beberapa hari lalu. Mati, adalah sesuatu yang pasti. Barjuang adalah pilihan. Begitulah kata-kata kakek yang sampai sekarang masih tersimpan jelas di otakku.
Matahari semakin memancarkan teriknya, aku bergegas kembali kerumah untuk mandi. Hari ini adalah hari istimewa bagiku dan bagi sosok yang sudah kembali kerumah abadinya. Hari ini tanggal sepuluh November, hari yang telah dinobatkan oleh pemerintah menjadi hari pahlawan. Dengan semangatnya kuguyur badanku dan mengenakan baju muslim hitam pemberian budhe untuk pergi mengunjungi peristirahatan terkahir kakek di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa.
Ini bukan pertamakalinya aku mengunjungi makam pahlawan, karena dulu sebelum kakek          meninggal, beliau kerap mengajakku melakukan ziarah kubur untuk mendoakan teman-teman kakek yang gugur di medan pertempuran.
“Nduk, ayo cepet kalo ganti. Semuanya sudah siap.” Panggil Bapak dari ruang tamu yang memecah lamunanku. “Iya Bapak, sebentar, ini masih pakai jilbab.” Kataku seraya berkaca di meja rias.
Jilbab  dan baju hitam dengan sulaman putih yang membentuk sulur bunga ini selalu kukenakan saat aku berziarah. Begitupula dengan kacamata coklat yang kukenakan sekarang selalu menjadi pakaian yang kukenakan saat berziarah bersama kakek mengunjungi makam pahlawan dulu.
Kakek tak pernah absen mengunjungi makam setiap bulan sekali, dan aku lah cucu yang selalu setia menemaninya pergi. Mendorong kursi rodanya dan membawakan bunga,
“Nduuuuk, ayo to cepat sudah jam delapan, upacaranya sudah selesai, ayo berangkat, nanti keburu siang!”
“Iya Pak, ini Rara sudah selesai”, segera kuberlari keluar kemar sambil memandangi sekilas foto kakek yang duduk di kursi roda sambil mengenakan seragam veteran dan terlihat beberapa lencana terpsang di bajunya, tanda penghormatan yang dimiliki kakek, kata kakek dulu sewaktu aku mengantarnya ke studio foto.
Di dalam mobil, keheningan menyapa kami. Tidak terucap kata sedikitpun dari Ibu, Bapak, dan Adikku. Hanya ada suara batuk Ibu yang sesekali berbunyi karena memang beberapa hari terakhir Ibu sedang sakit.
Aku rindu kakek. Kematian kakek tigapuluh dua hari lalu belum dapat aku ikhlaskan sepenuhnya. Kakek meninggal saat aku berada di Bandung. Belum sempat kupandangi raut muka dan senyum beliau untuk terakhir kalinya. Karena ujian semester yang membuatku tak bisa pulang dengan segera. Dan di hari pahlawan ini, aku pulang, khusus untuk mendoakan kakek dan teman-temannya.
Kakek, seringkali menceritakan teman-temannya yang dimakamkan di taman makam pahlawan tersebut, dan keberadaan makam pahlawan ini juga usaha dari kakek dan teman-teman veterannya yang empatpuluh tahun tahun lalu meminta kepada pemerintah untuk membuat pemakaman umum bekas pejuang Indonesia dan veteran yang meninggal dunia untuk menjadi taman makam pahlawan, hingga akhirnya pemerintah menyetujui dan berdirilah taman makam pahlawan ini.
Ketika akan melaksanakan tabur bunga, kakek selalu mendikteku untuk mencari dimana makam nama teman-teman yang ia sebutkan. Aku sudah hapal benar dimana letak makam teman-teman seperjuangan kakek, kerapkali aku mengantarnya ke makam untuk tabur bunga, tapi kakek selalu lupa dan beliau selalu mendikteku berulang kali. Ah, dasar kakek, batinku.
Sambil kudorong kursi rodanya menuju makam yang dimaksud, kakek selalu menceritakan padaku betapa heroiknya perjuangan teman-temannya dulu. Bahkan kerapkali kakek meneteskan airmata saat kami berdoa di makam tersebut.
Pernah kutanya mengapa kakek menangis? Selalu saja beliau menjawab “Kakek ingatpas jaman dulu perang ngelawan sekutu nduk, banyak yang mati karena tertembak pistolnya musuh, banyak yang mati juga kena bom, bahkan ada juga yang mati karena ditawan dan sisiksa oleh musuh.”
Tak terhitung berapa kali tubuh kakek terkena timah panas dari sekutu kala itu. Terbukti masih ada bekas-bekas luka di tubuh kakek meskipun sudah kering. Tapi bagiku, luka yang membekas  dalam diri kakek adalah lukisan sejarah yang dilukis di kanvas raga.  Lukisan yang dilukis oleh musuh yang dalam sekejap mampu meluluhlantakkan semangat juang karena sakit dan panasya tembakan. Hingga akhirnya memilih mundur daripada mati terlebih dahulu.
Tak terasa, akhirnya aku sampai juga di makam pahlawan. Banyak orang berpakaian nuansa hitam untuk melakukan prosesi tabur bunga dan mendoakan keluarganya yang mati di medan pertempuran atau memang sudah tutup usia bukan semasa perang. Apalagi ini momen istimewa.
Kata kakek ketika kutanya mengapa hanya tanggal sepuluh November ditetapkan hari pahlawan? bukankah hari-hari sebelumnya rakyat Indonesia juga bertempur melawan sekutu.
“Tanggal sepuluh November adalah hari yang berbeda nduk, pada waktu itu di Surabaya sedang terjadi pertempuran hebat. Ribuan nyawa gugur dalam pertempuran tersebut karena Inggris meluluhlantakkan Surabaya melalui jalur darat, air, dan udara.  Inggris marah nduk sama rakyat Surabaya karena jendral Inggris mati ditangan arek Surabaya. Teman-teman kakek nduk, banyak yang mati waktu itu, disana sini banyak bom berjatuhan, tembakan dan bom tak terkendalikan. Banyak anak kehilangan orang tuanya, tanah-tanah di Surabaya banyak tergenang darah dan banyak pula tulang belulang berceceran. Beruntung nduk kakekmu ini selamat waktu itu.”
Dan setiap kakek menceritakan kejadian tragis itu, selalu terbayang betapa pilunya hati kakek karena ditinggal orang tua selama-lamanya dengan cara yang mengenaskan. Betapa kuatnya bom kala itu, yang bisa menyebabkan seseorang tak utuh lagi kondisinya, bisa menjadi mayat yang tinggal tulang belulang berceceran atau seperti abu karena habis terbakar.
Kupiaskan lamunanku tentang kakek dan cerita-cerita perjuangannya. Aku menuju makam yang masih basah tanahnya dan masih segar bunganya. Seingatku, ini adalah bunga yang diberikan oleh Paman Sam sebelum beliau pergi merantau ke Kalimantan.
Di nisan kakek, airmataku tumpah, aku tak peduli apakah adik, bapak dan ibu melihatku. Aku hanya ingin menangis, menumpahkan segala kerinduanku pada kakek. Sosok ringkih yang duduk di kursi roda dengan rambut yang memutih, kulit keriput, mata sayunya dan giginya yang sudah tak ada lagi satupun.
Aku berdoa denga khusyuk memohon kepada Tuhan agar perjuangan-perjuangan kakek sewaktu perang dulu bisa menjadi tiket masuk untuk menuju surga. Kutaburkan bunga yang dibawa oleh ibu dan seikat mawar merah dan putih yang kubeli dari uang tabunganku.
Usai berdoa dan menabur bunga, kekecup nisan kakek, kutumpahkan kerinduanku di nisan yang bertuliskan nama kakek dan tahun meninggalnya. Kemudian aku beranjak berdiri dan mengunjungi makam salah satu teman kakek yang kata kakek sudah tak memiliki keluarga laki.
Kata kakek, teman kakek ini pada waktu berperang dulu masih  bujang alias belum menikah dan tidak mempunyai orang tua. Sungguh malang sekali nasib teman kakek satu ini, hanya aku dan kakek yang setia mengunjunginya untuk menabur bunga dan mendoakannya setiap sebulan sekali.
Ada banyak nama-nama pejuang yang gugur dan dimakamkan disini, bahkan banyak pula makam tak dikenal yang membuatku miris karena jumahnya tak hanya satu dua atau tiga, bahkan puluhan makam tak dikenal ada disini.
Pikiranku berkelana ketika pertama kali kudapati banyak makam tak dikenal disini. Korban pertempuran yang mati dimakamkan disini dan hanya ditemukan tulang belulang dan tidak dikenal identitasnya saja ada sebanyak ini. Betapa heroiknya perjuangan kala itu hingga menewaskan ribuan jiwa dalam waktu beberapa hari saja.
Kakek, sungguh beruntung dirimu. Masih ada beberapa petak tanah di makam ini untuk menjadi tempat peristirahatan terakhir pejuang-pejuang Indonesia. Di Hari Pahlawan ini, sejarah hidupku mencatat bahwa engkau lah pahlawan yang pernah kukenal, engkaulah pahlawan yang selalu setia menemani masa kecilku hingga aku dewasa kini.
Desiran angin menerpa wajahku, banyak daun berguguran, aroma wangi bunga yang ditaburkan di makam menyeruak masuk kedalam hidungku. Ini bukan aroma kematian, tapi aroma perjuangan, batinku.