Tampilkan postingan dengan label Tugas Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas Kuliah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Desember 2015

Analisis Faktor-Faktor Kegagalan dan Keberhasilan terkait Perasaan Inferioritas dan Superioritas dalam Hasil Belajar

Adler, tokoh psikologi individual menyakini bahwa setiap individu dalam hidupnya pasti mengalami perasaan inferioritas dan superioritas. Inferioritas adalah perasaan tidak terampil dalam menghadapi tugas atau kondisi tertentu sehingga individu akan berjuang untuk meraih superioritas, yaitu perasaan untuk berada pada kondisi yang diharapkan untuk mengktualisasisasikan diri dalam teori hierarki kebutuhan Maslow. Dalam kehidupan, inferioritas erat kaitannya dengan kegagalan dan superioritas dengan keberhasilan. Contoh, saat menempuh pendidikan tentunya setiap individu pasti menjalani proses belajar  yang tidak hanya dibangku sekolah, melainkan juga di masyarakat dan keluarga. Hasil dari proses belajar tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan kognitif dalam menerima pengetahuan, namun juga dipengaruhi oleh proses sosial yang dijalani.
Perasaan inferioritas atau kegagalan yang pernah saya alami ialah saat tidak lolos di seleksi terakhir penerimaan beasiswa SMA Sampoerna Bogor. Saya merasa gagal karena pada test interview tidak memberikan jawaban yang optimal karena menjawab pertanyaan dari psikolog sambil menangis. Mungkin psikolog menilai bahwa saya kurang memiliki kepercayaan diri dan ketidaksiapan untuk sekolah di Bogor. Padahal saya memiliki harapan besar untuk diterima beasiswa Sampoerna Foundation. Saya juga gagal masuk di SMAN 1 Bojonegoro karena pada saat test saya juga merasa tidak optimal karena tidak belajar terlebih dahulu dan kurang fasih berbahasa inggris serta terlalu berharap bahwa bisa lolos beasiswa. Kegagalan ini membuat saya merasa merasa tidak dapat membanggakan orang tua . Lalu saya mendaftar di SMAN 2 Bojonegoro, di SMA ini saya berusaha menggunakan seluruh kemampuan agar prestasi akademik dan non akademik saya baik. Dan hal tersebut terbukti karena saya  mendapat peringkat pararel dan kelas, menjadi ketua MPK, aktif di kegiatan ekstra dan intra sekolah, menjuarai beberapa kegiatan non ekstra, sering menjadi delegasi sekolah di ajang pendidikan tingkat provinsi, dll. Keberhasilan tersebut saya raih untuk menebus kesalahan saya karena gagal mendapatkan beasiswa dan saya berpikiran bahwa saya mampu membanggakan orang tua saya dengan cara lain.
Menurut teori perkembangan kogitif Piaget, remaja usia 11 tahun hingga dewasa berada pada tahap operasional konkret. Pada tahapan ini, individu memiliki penalaran hipotesis-deduktif, yaitu kemampuan membuat dugaan dalam membuat keputusan untuk memecahkan masalah sehingga dapat membuat kesimpulan yang sistematis. Contoh diatas, penalaran muncul ketika individu karena merasakan kondisi yang tidak sesuai harapan dan  mendapatkan masalah dan harus membuat suatu keputusan untuk memecahkan masalah tersebut. Individu berjuang untuk mencapai keberhasilan atau superioritas dengan cara-cara yang dianggapnya mampu untuk mengaktualisasikan diri. Pencapaian superiotitas dilakukan dengan memiliki minat sosial positif, gaya hidup baik serta menggunakan kekuatan kreatifitas diridengan optimal.
Kegagalan dalam contoh diatas disebabkan karena faktor dari dalam, yaitu pola pikiran individu dan kepercayaan diri sehingga saat interview individu menunuukkan  sikap kurang siap dan percaya diri. Sedangkan keberhasilan individu dilatarbelakangi oleh faktor dari dalam yaitu, menurut teori Belajar Sosial Bandura, adanya  self efficacy dalam diri bahwa individu yakin bisa mengorganisasikan dan melakukan strategi-strategi tertentu untuk meraih tujuan, berpikir positif, meregulasi diri sehingga bisa mengaktualisasikan dirinya meskipun berada pada kondisi yang sulit. Faktor luar juga mempengaruhi individu yaitu adanya dukungan dari keluarga dan pihak-pihak terkait. Dalam hal ini, individu mampu menjalin interaksi sosial yang baik sehingga lingkungan memberikan dorongan kepada individu agar terus berusaha mencapai tujuannya.
Hal ini juga sesuai dengan teori ekologi Bronfenbenner bahwa konteks sosial dimana individu tinggal mempengaruhi perkembangan. Pada rentang mikrosistem, interaksi langsung dengan lingkungan luar keluarga dan keluarga mempengaruhi individu dalam usaha pencapaian tujuan. Rentang mesosistem, individu mampu membuat keputusan-keputusan bagi dirinya karena keluarga memberikan kepercayaan bahwa individu mampu melakukan hal terbaik sehingga saat sekolah prestasi akademik individu cukup baik. Rentang ekosistem, individ memegang peranan kuat dan berperan aktif dalam lingkungannya contohnya bisa menjadi ketua MPK dan aktif di berbagai organisasi. Rentang makrosistem,  ekonomi yang lemah menyebabkan individu memiliki kemampuan belajar yang ulet, hal ini juga dirasakan individu untuk berusaha belajar dengan sungguh-sungguh agar prestasi akademik dan non akademik sesuai harapan. Terkait dengan rentang kronosistemnya, individu dalam membuat keputusan dan startegi dalam mencapai tujuan dipengaruhi oleh kondisi sosiohistoris seperti berada pada keluarga yang berada di ekonomi menegah kebawah dna sikap keluarga yang memberi kepercayaan individu untuk membuat keputusan-keputusan bagi dirinya sendiri.
Jadi, kegagalan dan keberhasilan erat kaitannya dengan perasaan superioritas dan inferioritas dan disebabkan oleh faktor dari dalam dan luar. Faktor dari dalam yaitu kurangnya self efficacy individu untuk menjalani suatu tugas atau kondisi tertentu sedangkan faktor dari luar berhubungan dengan orang-orang disekitar individu yang mampu mempengaruhi pola pikir, emosi dan sikap individu.

DAFTAR RUJUKAN
1.      Alwisol. 2014. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press
2.      Santrock, John. W. 2015. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana
3.      Suryatabrata, Sumardi. 2014. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rajawali Press



Dampak Pendidikan Homeschooling terhadap Kondisi Psikososial Anak

Pengertian pendidikan dalam UU. No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Terdapat tiga jalur pendidikan yang diakui dan diatur dalam UU Sisdiknas yaitu pendidikan formal,pendidikan informal dan pendidikan nonformal. Pendidikan informal yang mulai berkembang di Indonesia sekarang ini salah satunya adalah pendidikan homeschooling (Febriane & Wresti, 2005 dalam  Eka & Suparno, 2010).
Homeschooling secara etimologis dapat dimaknai sebagai sekolah rumah. Namun pada hakikatnya homeschooling merupakan sebuah sekolah alternatif yang mencoba menempatkan anak sebagai subjek belajar dengan pendekatan pendidikan secara at home. Pendekatan pendidikan at home yaitu pendekatan kekeluargaan yang memungkinkan anak belajar dengan nyaman sesuai dengan keinginan dan gaya belajar masing-masing, kapan saja, dimana saja dan dengan siapa saja. Harapannya anak dapat tumbuh kembang lebih wajar dan optimal tanpa terkekang potensi dan bakatnya.
Secara umum, fenomena berkembangnya homeschooling di Indonesia saat ini dapat dikategorikan menjadi tiga konteks. Pertama, fenomena homeschooling tumbuh di masyarakat kalangan menengah ke atas yang memahami falsafah pendidikan dalam konteks pencerahan dan pembebasan. Keluarga seperti ini memilih homeschooling sebagai jawaban atas sulitnya membebaskan sekolah formal dari praktik pengekangan terhadap hak tumbuh kembang anak secara wajar. Kedua,homeschooling tumbuh dalam konteks lingkungan keluarga miskin yang kesulitan mengakses pendidikan formal yang cukup mahal. Dalam konteks ini, fenomena tumbuhnya homeschooling didasarkan pada ketidakberdayaannya secara ekonomi untuk mengenyam pendidikan formal yang elitis.Ketiga, fenomena persekolah di rumah tumbuh dalam konteks lingkungan keluarga yang anaknya memiliki aktifitas kegiatan atau pekerjaan yang banyak bertubrukan dengan jam pelajaran yang dijadwalkan oleh sekolah-sekolah formal. Sekolah rumah dalam konteks ini biasanya terjadi pada keluarga yang anaknya menjadi artis, atlet, penyanyi dan lainnya yang mengalami kesulitan untuk menyesuaikan kegiatannya dengan jam belajar di sekolah formal.



Menurut teori Interactionist Perspective yang dikembangkan oleh George Herbert Mead mengatakan bahwa keanggotaan kita pada sebuah kelompok sosial menghasilkan interaksi dan perilaku bersama yang kita kenal dengan nama budaya. Budaya atau lingkungan mempengaruhi tumbuh kembang anak sesuai dengan teori sosial budaya Vygotsky. Menurut teori ini berarti kemampuan sosial anak yang mengikuti pendidikan homeschooling berbeda dengan anak yang mengikuti pendidikan formal.
Interaksi sosial dengan teman sebaya pada anak homeschooling kurang berkembang bila dibandingkan dengan interaksi sosial dengan teman sebaya pada anak sekolah reguler. Anaksekolah reguler lebih intensif bertemu dengan anak-anak sebayanya sedangkan anak homeschooling memiliki sedikit kesempatan untuk bertemu dengan anak-anak sebayanya. Anakhomeschooling lebih sering berinteraksi dengan anak-anak dan orang-orang yang lebih tua (orang tua mereka sebagai pengajar, guru les dan pengasuh yang tinggal di rumahnya). Sedangkan anak sekolah reguler berinteraksi dengan anak-anak sebayanya setiap hari di sekolahnya, mereka juga berinteraksi dengan orang-orang yang lebih tua (guru di sekolah, kakak kelas dan juga adik kelas), tetapi mereka lebih sering berinteraksi dengan teman-teman sebaya mereka.
Anak homeschooling memiliki sedikit teman yang akrab, mereka cenderung lebih akrab dengan anggota keluarga sendiri. Anak sekolah reguler memiliki banyak teman akrab di sekolah dan juga di lingkungan sekitar rumah tetapi juga tidak tertutup dengan anggota keluarganya. Kemampuan kerjasama pada anak homeschooling kurang terasah, hal ini dikarenakanmereka lebih sering belajar secara mandiri dantidak berkelompok dengan teman-teman sebayanya.Anak sekolah reguler belajar mengembangkansikap kerjasama (mengungkapkan pendapat, menghadapi perbedaan pendapat, dll) di sekolah dalam suatu tugas kelompok, dan juga dalam permainan-permainan kelompok yang membutuhkan banyak orang untuk memainkannya. Kapasitas intelegensi seseorang mempengaruhi kemampuan orang dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, anak yang memiliki intelegensi yang rendah mendapat perlakuan yang kurang baik dari teman-temannya, seperti ejekan dan lain sebagainya, hal ini yang membuat anak menjadi rendah diri dan menutup diri dari lingkungannya, dan kemudian menghambat perkembangan kemampuan interaksi sosialnya. Bukan hanya program sekolah yang mempengaruhi interaksi sosial dengan teman sebaya pada anak, tempat tinggal mereka dan bagaimana cara orang tua memberikan kesempatan kepada anak untuk berinteraksi dengan teman sebaya juga mempengaruhi kemampuan interaksi mereka dengan teman sebaya.



Daftar Rujukan

Soeparno & Setiawati, Eka. 2010. “Inteaksi Sosial dengan Teman Sebaya pada AnakHomeschooling dan Anak Sekolah Reguler (Sebuah Studi Komparatif)”.Indigenous, Jurnal Ilmiah Berkala Psikologi, Vol. 12, No. 1, Mei 2010 : 55-65.

Ningrum, Jaya Agustiana &Eriani, Praheresty. 2013. ”Faktor-Faktor yang Memotivasi Ibu Menyekolahkan Anak di Homeschooling Kak Seto Semarang”. Jurnal Psikodimensia, Vol. 12, No.1, Januari - Juni 2013, 47 – 62.

Muhtadi, Ali. Pendidikan dan Pembelajaran di Sekolah Rumah (Homeschooling): Suatu Tinjauan Teoristis dan Praktis.

Dampak Positif dan Negatif Homeschooling bagi Anak. 2012. (online), (http://afa-belajar.blogspot.com/2012/05/homeschooling.html, diakses pada 5 April 2015)

Ali, Mohammad. Homechooling Ditinjau dari Psikologi Sosial. 2011. (online), (http://gapurailmubdk.blogspot.com/2011/11/homeschooling-ditinjau-dari-psikologi.html, diakses pada 5 April 2015)

Presiden Republik Indonesia. 2003. Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta


Analisa Neurobiologis dan Psikologis terhadap Kasus Demensia tipe Pickpada Usia Dewasa Akhir

Demensia merupakan gangguan yang terjadi pada otak sehingga terjadi penurunan kemampuan kognitif kognitif seperti memori, orientasi, rasa hati dan pembentukan pikiran konseptual yang bisa berdampak pada perubahan kondisi psikologis individu terkait dengan kepribadian dan perilakusehari-haari seperti gangguan fungsi sosial, pekerjaan dan aktivitas sehari-hari (Asosiasi Alzheimer Indonesia,2003). Terdapat sekitar 50 penyebab terjadinya dimensia dan sebagian besar kasus (sekitar dua pertiga) disebabkan oleh penyakit Alzheimer, yaitu sebuah gangguan otak yang progresif dan degeneratif (Gatz, 2007 dalam Papalia, 2014: 242). Selain penyakit Alzheimer terdapat juga penyakit Parkinson, yaitu gangguan paling umum kedua yang melibatkan degenerasi neurologis yang progresif, ditandai dengan tremor, kekakuan, pergerakan lambat dan postur badan yang tidak stabil (Nussbaum 1998, dalam Papalia, 2014: 242). Penyakit Alzheimer dan Parkinson menyebabkan serangkaian stroke ringan dan menjadi penyebab 8 dari 10 kasus demensia yang terjadi dan semuanya tidak bisa disembuhkan. Selain dua penyakit tersebut, terdapat banyak macam jenis demensia, salah satunya demensia tipe Pick yang gejalanya hampir sama dengan demensia tipe Alzheimer sehingga sulit dibedakan antara Alzheimer dan Pick.
Meskipun penyakit Alzheimer dan Parkinson menjadi penyebab utama demensia degeneratif, terdapat penyebab yang reversibel seperti kelainan jantung, kelainan vaskuler, trauma, tumor, infeksi, kelainan metabolik (misalnya hipotiroidisme), defisiensi nutrisi (misalnya defisiensi vitamin B12 atau defisiensi asam folat),atau sindrom demensia akibat depresi. Selain itu, konsumsi obat-obatan dan gaya hidup yang kurang sehat juga mempengaruhi, seperti  konsumsi alkohol, terinfeksi logam berat, terkena radiasi, pseudodemensia akibat pengobatan (misalnya penggunaan antikolinergik) dan karbon monoksida.
Demensia terbagia atas dua klasifikasi penderita, yaitu penderita dibawah usia 65 tahun dan diatas 65 tahun.Paling banyak penderita demensia ialah lansia diatas usia 65 tahun. Di Indonesia, menurut data profil kesehatan yang di laporkan oleh departemen kesehatan tahun 1998, jumlah populasi lansia usia 60 tahun keatas dari 100% populasi lansia yang jumlahnya kurang lebih 15 juta jiwa, terdapat 7,2% populasi lansia menderita demensia. Peningkatan angka kejadian kasus demensia berbanding lurus dengan meningkatnya harapan hidup suatu populasi. Kira – kira 5% lansia, sekitar 65 -70 tahun menderita demensia dan meningkat dua kali lipat setiap 5 tahun mencapai lebih 45% pada usia di atas 85 tahun. Estimasi jumlah penderita demensia pada tahun 2013 sekitar satu juta jiwa dan akan meningkat menjadi dua juta jiwa di tahun 2030 (Republika.co.id, 19 Desember 2014).
Individu yang menderita demensia tipe Pick ditandai dengan atrofi yang lebih banyak pada lobus frontalis serta pada lobus temporalis dan parientalis. Daerahtersebut mengalami kehilangan neuronal, gliosis dan adanya badan Pick neuronal, yang merupakan massa elemen sitoskeletal. Badan Pick ditemukan pada beberapa spesimenpostmortem tetapi tidak diperlukan untuk diagnosis.Lobus frontalis yang berada di bagian otak depan berepran untuk perencanaan, pelaksanaan dan kontrol pergerakan. Di dalam lobus frontalis tedapat primary motor cortex di precental gyrus yang mengandung pusat-pusat saraf yang berpartisipasi dalam mengontrol gerakan. Sedangkan dalam lobus temporalis terdapat prymary somatosensory cortex yang terletak di postcentral gyrus yang bertugas menerima informasi dari somatosenses, seperti rasa raba, tekanan, suhu dan rasa nyeri. Terdapat juga prymary visual cortex yang terletak di belakang lobus occupitalis di calcarine fissure untuk menerima informasi visual. Prymary auditory cortex yang terletak di lobus temporals berfungsi menerima informasi pendengaran. Association cortex di lobus frontalis terlibat dalam perencanaan gerakan yang mengontrol aktivitas primary motor cortex. Association cortex di lobus posterior menerima informasi dari priamary sensory area dan terlibat dalam persepsi dan ingatan.
Individu yang menderita dimensia tipe Pick mengalami kebingungan dalam berpikir bahkan kehilangan memori. Menurut Eichenbaum jika terdapat kerusakan bagian otak depan utamanya hipocampus maka seseorang akan kehilangan kemampuannya untuk mengembangkan memorinya. Dampaknya maka yang bersangkutan tidak mampu mengenali suatu benda tertentu (kehilangan memori deklaratif). Tetapi jika yang terjadi pada daerah parahippokampus saja yang rusak maka kemungkinan seseorang akan kehilangan semantik  memorinya yang artinya seseorang tidak akan mampu lagi mengumpulkan informasi atau pengetahuan yang sifatnya universal.
Penyebab dari demensia tipe Pick belum dapat diketahui secara pasti. Demensia tipe Pick berjumlah kira-kira 5% dari semua demensia ireversibel. Penyakit ini paling seringdialami oleh laki-laki, khususnya yang memiliki keluarga derajat pertama dengan penyakit ini. Demensia tipe Pick sukar dibedakan dengan demensia tipe Alzheimer. Walaupun stadium awal penyakit lebih seringditandai oleh perubahan kepribadian dan perilaku, dengan fungsi kognitif lain yang relatifbertahan. Gambaran sindrom Kluver-Bucy (contohnya: hiperseksualitas, flaksiditas, hiperoralitas)lebih sering ditemukan pada penyakit Pick daripada pada penyakit Alzheimer.
Perubahan kondisi pada penderita demensia tak hanya berpengaruhpada kemampuan kognitif dan fisik, melainkan juga secara psikologis. Kepribadian seseorang yang menderita demensia biasanya akan mengganggu bagi dirinya dan keluarganya. Karena butuh perhatian khsuus untuk dirawat oleh orang sekitar dan penderita demensia kurang bisa beraktivitas layaknya orang normal yang sehat sehingga perlu dibantu. Penderita demensia akan lebih tertutup serta menjadi kurang perhatian dibandingkan sebelumnya karena merasa rendah diri dan lebih sering murung. Penderita demensia tipe Pick yang mengalami kelainan pada otak bagian depan yaitu lobus frontalis dan temporalis, biasanya mengalami perubahan kepribadian dan mungkin lebih iritabel dan eksplosif. Diperkirakan sekitar 20 hingga 30 persen dengan demensia (terutama penderita demensia tipe Alzheimer) memiliki halusinasi, dan 30 hingga 40 persen memiliki waham, terutama waham paranoid yang bersifat tidak sistematis, meskipun waham yang sistematis juga dilaporkan pada penderita demensia tersebut. Agresi fisik dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya lazim ditemukan pada penderita demensia dengan gejala-gejala psikotik. Pada penderita demensia dengan gejala psikosis dan perubahan kepribadian, depresi dan kecemasan merupakan gejala utama yang ditemukan pada 40 hingga 50 persen penderita demensia, meskipun sindrom depresif secara utuh hanya tampak pada 10 hingga 20 persen pada penderita demensia. Penderita demensia dapat menujukkan perubahan emosi yang ekstrem tanpa provokasi yang nyata (misalnya tertawa dan menangis yang patologis).
Dalam dunia medis kedokteran, pengobatan demensia yang menyebabkan kerusakan otak dilakukan pemberian obat-obat medi sebagai upaya untuk meningkatkan memori (ingatan) dengan memberikan sejumlah psysochtigmin dan neostigmin yang merupakan anti asetilkolin terase (Ach) dan menyebabkan konsentrasi asetilkolin meningkat di dalam sinaps lewat jalur kolinergiknya dan dapat diberikan hydergine (devirete ergotamin) untuk memperbaiki sirkulasi darah di dalam otak. Jika terdapat depresi maka diberikan amitriptylin dan untuk mengurangi kecemasan diberi haloperidol, thioridazine atau promazine.







DAFTAR PUSTAKA :

Azwar, Khoirul. 2013. Melawan Demensia Alzheimer. (online), (http://www.republika.co.id/berita/koran/medika/14/12/29/nhc3k714-melawan-demensia-alzheimer diakses pada 23 April 2015)

Budiono, Ari dan Julianti Riri. 2008. Demensia. (online), (https://yayanakhyar.files.wordpress.com/2009/01/demensia-riri-aridocx.pdfdiakses pada 23 April 2015)

Feldman, D. Ruth dan Papalia E. Diane. Menyelami Perkembangan Manusia2. Jakarta: Salemba Humanika

Hartono, Soetanto. 2003. Psikologi Faal 1. Surabaya: University Press

Louis, Jeffy. 2011. Makalah Memori. (online), (http://jeffy-louis.blogspot.com/2011/01/makalah-memori.htmldiakses pada 23 April 2015))

Analisis Tayangan Mata Najwa “Melawan Prasangka”

Menurut saya, tayangan Mata Najwa pada 5 Desember 2015 lalu yang bertema “Melawan Prasangka” bertujuan untuk memperingati hari HIV/AIDS sedunia pada 1 Desember lalu. Di Indonesia, penderita ODHA dari tahun ke tahun jumlahnya semakin banyak dan mereka seringkali mendapat stigma buruk serta mengalami diksriminasi karena masih banyak orang-orang di sekitar mereka yang tidak bisa menerima kehadiran penderita ODHA. Perilaku diskriminatif yang diterima oleh penderita ODHA ialah perilaku tidak adil dan kurang bisa diterima oleh masyarakat sehingga seringkali penderita ODHA merasa terkucilkan dan rendah diri. Kondisi semacam ini tentu saja dapat membuat kondisi psikis para penderita ODHA semakin tertekan. Banyak penderita ODHA yang memilih untuk mengakhiri hidup karena tidak tahan dengan diksriminasi yang ia terima dari lingkungannya, namun banyak juga para penderita ODHA yang mampu melawan stigma dan diskriminasi buruk dari masyarakat sehingga menjadi individu yang tegar dan mampu berkiprah dalam kehidupannya.
Tayangan Mata Najwa menurut saya mampu menggugah kesadaran di masyarakat terhadap stigma dan diskriminasi yang diberikan oleh masyarakat terhadap penderita ODHA. Masyarakat masih banyak yang tidak mengetahui apa itu virus HIV/AIDS, bagaimana penularannya, dsb. Masyarakat hanya mengetahui bahwa HIV/AIDS diakibatkan oleh hubungan seksual yang berganti-ganti pasangan. Stereotip semacam inilah yang ada di pikiran masyarakat sehingga masyarakat memberikan stigma buruk bagi penderita ODHA. Masyarakat menganggap bahwa individu dengan ODHA adalah individu yang nakal karena seringkali bergonta-ganti pasangan. Padahal tidak semua penderita ODHA seperti itu. Di tayangan Mata Najwa, dihadirkan beberapa penderita ODHA sekaligus relawan HIV/AIDS, para penderita tersebut menceritakan bagaimana awalnya mereka tertular virus HIV/AIDS.  Aktivis HIV/AIDS  juga menceritakan bagaimana sikap masyarakat selama ini terhadap penderita ODHA.
Dalam analisis ini, saya ingin membahas tiga poin penting yaitu :
1.      Stereotip yang berkembang di masyarakat terhadap sekelompok atau individu penderita ODHA. Stereotip merupakan komponen kognitif manusia yang ditunjukkan dengan keyakinan atau penilaain terhadap kondisi kelompok tertentu
2.      Adanya prasangka yang ada di masyarakat sehingga menimbulkan perasaan tertentu. Prasangka ialah komponen afeksi atau emosi terkait bagaimana perasaan kita terhadap suatu kelompok tertentu yang penekanannya cenderung pada perasaan negatif seperti perasaan tidak suka, benci, iri, dll.
3.      Munculnya sikap diskriminasi yang dilakukan oleh masyarakat akibat suatu stereotip dan prasangka tertentu. Diskriminasi ialah komponen dari perilaku manusia yang ditunjukkan dengan tindakan yang diambil terhadap kelompok tertentu
Tiga hal tersebut sangat mempengaruhi suatu kondisi di lingkungan masyarakat. Karena stereotip merupakan jalan pintas dalam berpikir untuk menyederhanakan suatu proses berpikir yang ditunjukkan dengan keyakinan atau penilaian singkat terhadap orang-orang yang berada di kelompok tertentu. Stereotip dan prasangka merupakan penilaian dari masyarakat yang cenderung negatif yang tidak akurat dan dapat menimbulkan akibat-akibat merugikan bagi individu yang menerimanya. Prasangka dan diskriminasi cenderung lebih diarahkan kepada individu-individu daripada suatu kelompok tertentu.
Ketiga penderita ODHA yang dihadirkan dalam tayangan Mata Najwa menceritakan bahwa mereka mendapatkan diskriminasi buruk dari masyarakat. Namun saya akan menganalisis satu penderita saja, yaitu Ibu Putri Chery. Putri menjadi ODHA karena tertular oleh suami pertamanya. Ia menceritakan bahwa saat menikah suaminya tidak bercerita bahwa ia adalah ODHA. Setelah 10 bulan pernikahan suaminya sakit keras dan baru menceritakan bahwa ia menderita ODHA. Ketika suami Putri menceritakan kondisinya pada keluarganya ia mendapat diskriminasi buruk dari keluarganya karena orang tuanya tidak mau menyentuh suami Putri karena takut tertular, keluarga suami Putri juga menceritakan bahwa untuk urusan makan saja harus dipisahkan dari alat makan dan makanannya. Padahal saat itu suami Putri ingin diperhatikan oleh keluarganya tapi keluarganya tidak mau. Ini adalah salah satu bentuk diskriminasi buruk yang diterima oleh suami Putri. Tak hanya itu, setelah suaminya meninggal Putri memberanikan diri untuk memeriksakan dirinya apakah positif tertular HIV/AIDS, dan ternyata hasilnya positif. Awalnya ia merasa sedih dan frustasi. Namun Ibu dari Putri terus menyemangatinya. Ibunya berkata sambil meminta Putri untuk berkaca di cermin “kamu cantik, kamu masih muda, umurmu masih panjang. Jangan pernah marasa sendiri, masih ada mama disini”.
Putri juga mendapatkan diskriminasi buruk dari masyarakat ketika ia bekerja di suatu perusahaan dan rekan-rekan kerjanya mengetahui bahwa Putri positif ODHA, mereka seolah-olah menjauhi Putri. Putri dituduh bahwa ia menggelapkan uang dll karena rekan-rekan kerja Putri ingin Putri keluar dari perusahaan tersebut. Putri akhirnya menikah lagi dan dikaruniai tiga orang anak. Diskriminasi yang diterima oleh Putri tidak hanya itu saja tapi anak-anaknya juga mengalami diskriminasi juga. Anaknya yang masih sekolah SD juga mendapatkan sikap diskriminasi, yaitu ada beberapa wali murid yang melarang anaknya untuk berteman dengan anak Putri, sikap wali murid terlihat agak aneh terhadap Putri dan anak-anaknya.
Mengapa masyarakat memiliki stereotip, prasangka dan melakukan tidakan diskriminatif pada penderita ODHA?
Alasannya karena menurut penjelasan psikodinamika bahwa beberapa individu memiliki kepribadian berprasangka dan pada dasarnya manusia itu kikir kognitif artinya dalam berpikir manusia memiliki kategori-kategori tertentu terhadap orang lain (stereotip), kategori tersebut didapatkan dari informas minim yang kita terima, pengalaman sehingga berpengaruh terhadap bagaimana kita mempersepsi lingungan. Dengan adanya kategori-kategori tersebut maka kita dapat mengupayakan lebih sedikit otak untuk melakukan proses berpikir. Kategori yang sifatnya otomatis dan tidak reflektif tersebut berdampak pada munculnya suatu prasangka. Minimnya informasi yang diterima oleh masyarakat terkait dengan penyakit HIV/AIDS menyebabkan masyarakat memberikan penilaian buruk terhadap penderita ODHA. Masyarakat menilai bahwa penderita ODHA adalah individu yang tidak taat pada norma-norma sosial karena sering berhubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan. Individu seperti ini biasanya memiliki latar belakang profesi sebagi pekerja seksual atau lelaki hidung belang dan akibat kenakalan remaja terkait penggunaan jarum suntik obat terlarang. Padahal tidak semua penderita ODHA terinfeksi virus HIV karena faktor tersebut.

Ibu Nafsiah Mboi menjelaskan bahwa sebelumnya memang virus HIV/AIDS ditularkan oleh hubungan seksual karena berganti-ganti pasangan dan penggunaan jarum suntik yang bergantian. Namun sekarang ini banyak ODHA yang terinfeksi HIV/AIDS adalah ibu rumah tangga yang tertular oleh suaminya karena suaminya mungkin saja pernah dan sering berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seksual. Harus disadari bahwa pasti tidak semua orang ingin menderita sakit HIV/AIDS oleh karena itu sebagai masyarakat harus mampu berpikir kritis dan bersikap tidak diskriminatif kepada penderita ODHA karena kita juga harus berpikir bahwa jika kita berada pada kondisi distinctive people (orang yang berbeda) tentunya tidak ingin mendapatkan perlakuan tidak adil atau diskriminatif. 

Analisis Kepribadian Tokoh (Gola Gong) Berdasarkan Teori Kepribadian Psikologi Individual Adler dan Psikoanalisis Sigmund Freud

A.    Deksripsi Tokoh
Gola Gong memiliki nama asli Heri Hendrayana Harris. Lahir di Purwakarta pada 15 Agustus 1963 dari pasangan bernama Harris dan Atisah, Bapaknya berprofesi sebagai guru olahraga, sedangkan ibunya berprofesi sebagai guru di sekolah keterampilan putri. Ia adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia yang juga merupakan pendiri Rumah Dunia di Serang, Banten. Gola Gong juga menjadi pemimpin perusahaan tabloid Kaibon-Meida Ramah Keluarga Banten, Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Indonesia, penulis buku, dan sering menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan jurnalistik. Gola Gong menikah pada usia 33 tahun dengan wanita bernama Tias Tatanka dan dikaruniai empat orang anak.
Gola Gong kehilangan tangan kiri sebatas sikut pada usia 11 tahun tepatnya ia menjalani operasi amputasi pada bulan Oktober 1973. Kronologisnya, waktu itu ia dan teman-temannya bermain di alun-alun kota dan ada tentara latihan terjun payung, Gola Gong kecil menantang kawan-kawannya untuk adu keberanian seperti penerjun payung. Adu keberanian tersebut dilakukan dengan cara loncat dari pohon dan berujung celaka bagi Gola Gong karena ia mengalami cidera parah sehingga tangan kirinya harus diamputasi sebatas sikut. Namun hal tersebut tidak membuat Gola Gong sedih karena Bapaknya selalu memberinya semangat bahwa kamu harus terus membaca agar kamu lupa bahwa diri kamu cacat.
Kedua orang tua Gola Gong memiliki keinginan dan tekad yang kuat agar anaknya tetap bersemangat dan mampu menjalani hari-hari layaknya anak normal lainnya. Bapak dan Emak mempersiapkan Gola Gong dengan cinta agar ia mampu menghadapi kehidupan yang keras tanpa merasa rendah diri. Gola Gong digambleng dengan buku, olahraga  dan dengan tayangan film agar memiliki mental baja ketika maju ke medan perang kehidupan. Bapak dan Emak tidak menuntut Gola Gong untuk berprestasi di dalam pendidikan formal, tapi mengharapkan Gola Gong mampu berkiprah di kehidupan. Bagi Bapak dan Emak, sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi orang lain.
Pengajaran dari Bapak dan Emak bermula dari kelereng. Gola Gong kecil sangat mahir bermain kelereng. Bapak tidak ingin Gola Gong dilecehkan teman-temannya oleh karena itu Bapak berusaha mengajari Gola Gong bermain kelereng dengan satu tangan. Akhirnya, Gola Gong bersemangat bermain kelereng tanpa merasa dirinya cacat. Bapak juga mengajari Gola Gong untuk berolahraga karena jiwa yang sehat terdapat dalam tubuh yang kuat. Hasilnya, Gola Gong mampu meraih berbagai kejuaraan badminton se-Asia Pasifik layaknya atlet berlengan dua.
Emak juga menyemangati Gola Gong dengan nasihat-nasihat yang menenangkan. Bahkan ketika Gola Gong akan pergi menaklukkan Jakarta, Gola Gong dibekali uang untuk membeli tangan palsu. Uang tersebut dari hasil tabungan emaknya. Menurut Gola Gong, Emak ialah sosok yang selalu mengasah hati dan jiwanya, membuatnya untuk tetap berendah hati dan tidak menyepelekan, serta mengingatkan Gola Gong untuk selalu menghargai lawan-lawannya.
Bapak dan Emak sering membawa buku biografi orang-orang hebat. Hal ini membuat Gola Gong hobi membaca buku dan terinspirasi dari tokoh-tokoh hebat yang dibacanya. Hingga akhirnya, Gola Gong mampu menjadi penulis buku dan sastrawan terkenal. Gola Gong merasa bahwa semangat dan kreatifitas yang dimiliki karena ia rajin membaca. Dengan menulis, Gola Gong ingin memberi semangat kepada generasi muda, karena dalam buku yang ia tulis isinya tentang pengalaman hidupnya  menjadi orang yang cacat dan berbeda
Dalam Buku Aku, Anak Matahari, Gola Gong juga menceritakan bahwa secara tidak langsung ia telah mewujudkan mimpi Bapak dan Emak. Secara perlahan-lahan Bapak dan Emak telah merencanakan sesuatu untuk anak-anaknya. Bapak pernah memiliki keinginan untuk keliling dunia dan mimpi itu kemudian dilimpahkan kepada Gola Gong. Terbuti bahwa Bapak dan Emak sangat mendukung Gola Gong untuk mencari pengalaman batin dengan melakukan perjalanan keliling Indonesia (1986-1987) dan Asia (1990-1992). Bapak ingin menjadi juara Badminton seperti Rudi Hartono dan akhirnya anak-anaknya mampu meraih berbagai kejuaraan Badminton, bahkan Gola Gong mampu menjuarai lomba badminton se-Asia Pasifik.
Orang tua Gola Gong tidak pernah memaksa atau menyuruh Gola Gong untuk menjadi ini dan itu. Orang tua Gola Gong hanya menyediakan sarana, menurut Bapak dan Emak, jika anak melakukan sesuatu pekerjaan atas keinginan orang tuanya, itu tidak baik. Yang baik ialah, keinginan itu muncul dari keinginan anak. Bapak dan Emak hanya memancing kreatifitas anak-anaknya dengan buku-buku yang disusun di rak, di halaman rumah disediakan arena bermain sederhana sepeti ayunan, perosotan, jungkit-jungkitan dan kolam ikan. Kemudian, praktiknya akan muncul dengan sendirinya. Gola Gong kecil sangat gembira sehingga paling sering melakukan praktik-praktik sehingga cara berpikirnya lebih cepat dari teman sebayanya.
Kemudian, perkara Rumah Dunia juga keinginan Bapak dan Emak. Orang tua Gola Gong pernah berkata bahwa jika mereka tidak berhasil mewujudkan sebuah lembaga pendidikan yang menampung anak-anak yatim secara gratis, maka Gola Gong harus mewujudkannya. Dan akhirnya, Gola Gong mampu mendirikan Rumah Dunia yang merupakan madrasah kebudayaan yang bergiat di bidang jurnalistik, sastra, film, teater musik dan menggambar. Bapak dan Emak selalu mengingatkan Gola Gong untuk melakukan sesuatu dari nol atau hal kecil. Semua harus berawal dari diri sendiri, itulah yang dimaksud cara berbipik diluar kelaziman atau berpikir out of the box.
Cara orang tua Gola Gong dalam mendidik anak-anaknya membuat Gola Gong terkesan. Bapaknya berperan di wilayah fisik untuk membuatnya sehat secara jasmani dan Emak yang berperan di wilayah psikis karena membuat Gola Gong menjadi peka terhadap lingkungan. Fisik yang kuat menjadi wadah yang pas bagi kebutuhan psikis. Hal itulah yang membuat Gola Gong begitu bersemangat, percaya diri, penuh dengan gagasan dan kreatif padahal dirinya cacat. Cara-cara yang dilakukan oleh orang tua Gola Gong dalam mendidik anaknya sangat mempengaruhi perkembangan psikis Gola Gong. Dan hal tersebut berbuah manis karena didikan orang tuanya berhasil menjadikan Gola Gong sebagai sosok yang berprestasi di kehidupan, bermanfaat bagi orang lain, menjadi ayah dan suami ideal dan sosok yang menginspirasi orang lain serta mampu membuat bangga orang tua.

B.     Analisis Kepribadian
Alfred Adler menyatakan bahwa kehidupan manusia dimotivasi oleh satu dorongan utama yakni dorongan untuk mengatasi perasaan inferior dan berjuang untuk mencapai perasaan superior. Jadi, tingkah laku manusia ditentukan oleh padangan mengenai masa depan, tujuan dan harapan, bukan hanya apa yang dikerjakan di masa lalu. Karena awalnya manusia memulai hidupnya dari kondisi yang kecil, lemah dan perasaan inferior. Maka dari kondisi lemah itu, manusia mampu mengembangkan kepercayaan untuk mengatasi kelemahan dengan menjadi individu yang besar, kuat dan superior.
Menurut Adler, ada tiga macam situasi pada masa kanak-kanak yang sangat berpengaruh dalam membentuk gaya hidup di masa dewasa. Yang pertama adalah inferioritas organ yaitu penyakit-penyakit atau kecacatan fisik yang diidap semasa kanak-kanak. Kedua yaitu pola asuh keluarga yang terlalu memanjakan anak, sedangkan yang ketiga ialah perasaan terabaikan atau tersingkirkan. Dalam menganalisis tokoh Gola Gong saya akan mengambil salah satu situasi yaitu inferioritas organ karena sangat berkaitan dengan kondisi Gola Gong.
Perasaan inferioritas berarti perasaan lemah atau tidak berdaya dalam mengerjakan tugas yang harus diselesaikan. Kondisi ini sebenarnya dialami oleh semua makhluk hidup karena pada dasarnya semua manusia memulai kehidupan dengan kelemahan fisik yang mengaktifkan perasaan inferior, yaitu perasaan yang menggerakkan seseorang untuk berjuang menjadi superiorita atau sukses. Perasaan sepeti ini akan terus muncul ketika seseorang menghadapi tugas baru, jika orang sudah menguasai tugas barunya maka perasaan inferior akan hilang. Sedangkan superior memiliki arti berjuang untuk terus menerus agar menjadi baik. Dalam teori Adler, dorongan sukses adalah suatu kepentingan atau kepekaan sosial karena manusia sebagai makhluk sosial tidak akan bisa eksis tanpa adanya orang lain.
Analisis saya berdasarkan teori kepribadian individual Alfred Adler, masa kecil Gola Gong dididik oleh keluarga yang menerapkan pola asuh pendidikan yang cukup baik. Dalam buku Aku, Anak Matahari, Gola Gong menjelaskan bahwa kedua orang tuanya mendidik menggunakan metode montessori. Kedua orang tua Gola Gong menyadari betul bahwa anaknya sedang dalam periode sensitif. Anak ibarat busa atau sponge yang jika dilemparkan ke laut akan mampu menyerap air hingga penuh. Orang tuanya berusaha memaksimalkan pendidikan anak-anaknya dengan alat, bahan dan kegiatan yang khusus dirancang untuk merangsang kecerdasan anak. Gola Gong kecil memiliki daya serap tinggi (absorbent mind) dan mempunyai kemampuan tinggi untuk belajar beradaptasi dengan lingkungan dibanding teman sebayanya. Hal tersebut berlanjut meski Gola Gong pada usia 11 tahun harus kehilangan tangan kirinya sebatas sikut.
Orang tua Gola Gong mengkondisikan lingkungan rumah senyaman mungkin agar anak-anaknya mau belajar. Banyak berjejeran rak berisi buku-buku yang menggunggah minat membaca anak-anaknya, orang tua Gola Gong juga sering membawakan buku tentang biografi tokoh-tokoh terkenal sehingga Gola Gong terinspirasi oleh semangat dari biografi tokoh yang ia baca. Selain itu, dirumah disediakan permainan-permainan sepeti ayunan, perosotan, jumpit-jumpitan dna kolam ikan sehingga dapat merangsang perkembangan motorik kasar pada anak agar anak mau bermain di rumah.
Pola asuh pada masa kecil itu menyebabkan Gola Gong pada usia kanak-kanak mampu menjadi anak yang pemberani dan kreatif. Gola Gong mampu berbaur dengan lingkungan sosialnya dan memiliki benyak teman. Hingga akhirnya musibah itu datang dan Gola Gong harus menjalani amputasi tangan kiri. Menjadi individu cacat tentu saja memunculkan perasaan inferior, karena dengan kondisi tersebut akan sulit melakukan kegiatan-kegiatan tertentu. Tangan Gola Gong diamputasi pada saat ia duduk di kelas 4 SD. Butuh waktu dua tahun bagi Gola Gong dan teman-teman serta gurunya untuk saling menyesuaikan diri. Seringkali Gola Gong mendapat perlakuan tidak baik dari teman-temannya, ia sering diledek dengan sebutan si buntung. Apalagi jika teman-teman Gola Gong merasa kalah dengannya maka teman-temannya melancarkan serangan psikis bagi Gola Gong.
Kedua orang tua Gola Gong tidak ingin anaknya terlihat lemah, mereka ingin Gola Gong tumbuh layaknya anak normal lainnya sehingga mampu menjalani kehidupannya dengan baik dan bisa jadi sosok yang berguna di masa depan. Gola Gong kecil memiliki semangat yang luar biasa, tak henti-hentinya ia membaca sehingga ia lupa bahwa dirinya cacat. Gola Gong kecil juga bersemangat dalam berolahraga, buktinya ia mampu berenang dengan hanya satu tangan dan sering menjuarai kejuaraan badminton hingga tingkat Asia Pasifik meskipun dengan satu tangan. Gola Gong memiliki harapan-harapan besar untuk masa depannya agar ia bisa menjadi orang yang sukses meski cacat. Hal inilah yang disebut sebagai fictional final goals, yaitu keyakinan yang tidak ada faktanya tapi mampu mempengaruhi kepribadian.
Cara orang tuanya mendidik dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan Gola Gong di usia mudanya benar-benar mempengaruhi kepribadian Gola Gong. Dalam teori Adler, motif utama setiap orang adalah menjadi kuat, kompeten, berprestasi dan kreatif. Orang tua Gola Gong ingin memunculkan tujuan-tujuan tersebut dalam diri Gola Gong sehingga orang tuanya berjuang keras memberikan perhatian dan pendidikan yang terbaik bagi Gola Gong. Gola Gong muda memiliki banyak impian, ia berkelana mengelilingi Indonesia dan Asia. Dengan berkelana ia berharap memiliki banyak pengalaman batin, dengan berkelana ia berharap mampu menjadi seseorang yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Gola Gong rajin membaca, ia berharap dengan membaca mampu membuka cakrawala pengetahuannya.
Dalam teori Adler, hal tersebut disebut sebagai subjective perceptions atau pengamatan subjectiv. Artinya, orang menetapkan tujuan-tujuan untuk diperjuangkan berdasarkan interpretasinya tentang fakta. Kepribadian manusia dibentuk bukan berdasarkan realita melainkan berdasarkan keyakinan subjektif orang itu terhadap masa depannya. Final fiction goals yang berdasarkan pada subjective perception ini membimbing style of life manusia, dan membentuk kepribadian menjadi kesatuan.
Menurut Adler, inferiorita organ fisik adalah anugrah karena orang akan berjuang mencapai kesehatan jiwa dan menjalani gaya hidup yang berguna. Gola Gong memiliki social interest yang cukup baik. Social interest adalah sikap keterikatan diri dengan kemanusiaan secara umum yang diwujudkan dengan kerjasama dengan orang lain. Social interest dikembangkan melalui hubungan Ibu dan Anak. Ibu Gola Gong mampu menjalin ikatan yang kooperatif dengan Gola Gong. Orang tuanya tidak pernah memaksa Gola Gong untuk menjadi ini dan itu, orang tua Gola Gong hanya meyediakan sarana. Menurut orang tua Gola Gong, jika anak melakukan sesuatu atas keinginan orang tua itu tidak baik yang baik anak melakukan sesuatu atas keinginannya sendiri. Sarana-sarana tersebut bertujua untuk membentuk minat sosial Gola Gong.
Orang tua Gola Gong bekerjasama dengan baik untuk mendidik pribadi Gola Gong. Bapak berperan di wilayah psikis, Bapak yang menjadi guru olahraga dengan semangat mengajari Gola Gong untuk renang, badminton, dll sehingga Gola Gong tertarik pada dunia olahraga dan menjali atet badminton. Pernah suatu ketika Gol A Gng diajak pergi ke pasar senin dan Bapaknya membelikan berdusdus buku bacaan dan komik. Hal tersebut bertujuan untuk merangsang minat baca pada diri Gola Gong dan akhirnya Gola Gong mampu menjadi sastrawan dan penulis buku terkenal. Bapak juga mengajari Gola Gong untuk bermian kelereng dan permainan anak-anak lainnya. Pada waktu pulang dari rumah sakit, Bapak membelikan Gola Gong sekantong kelereng dan bilang bahwa di kampung sedang musim kelereng dan Gola Gong jangan sampai tidak bisa bermain kelereng. Bapak pun mengajari Gola Gong yang memiliki satu tangan untuk bermain kelereng dan hasilnya Gola Gong sering memenangkan permainan kelereng tersebut. Sedangkan Emak, berperan di wilayah psikis, Emak adalah sosok yang amat keibuan,. Sikapnya yang ramah dan lembut dan sering memberi wejangan-wejangan untuk anaknya. Sehingga Gola Gong menjadi sosok yang mampu meraih kesuksesan yang diharapkan oleh orang tua dan dirinya sendiri.
Perjuangan mencapai tujuan final yang dilakukan oleh Gola Gong  dipersepsi jelas olehnya. Kelemahan fisik yang dimiliki memunculkan perasaan inferior, sehingga ia merasa ada yang tidak lengkap. Kondisi tersebut memunculkan minat-minat sosial yang juga disebut proses mencapai kesuksesan. Adler menjelaskan bahwa manusia itu adalah sosok yang unik. Manusia memiliki gaya hidup yang berbeda-beda dan tidak mudah berubah. Gaya hidup dibentuk pada usia 4-5 tahun dan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan instrinsik (hereditas) atau lingkungan sosial, melainkan dibentuk oleh anak melalui pengamatannya dan interpretai terhadap keduanya. Dari buku Aku, Anak Matahari yang ditulis oleh Gola Gong sendiri, ia menceritakan bahwa sedari kecil Bapak dan Emaknya telah meemberi rangsangan bagi Gola Gong untuk gemar membaca dan beraktivitas di luar rumah. Dan kondisi itu menjadi kebiasaan bagi Gola Gong yang sampai sekarang ini hobi membaca dan berkelana.
Dalam teori Adler, Gola Gong juga mampu menciptakan kekuatan kreatif diri atau creative power of the self. Kekuatan kreatif diri ialah kekuatan ketiga yang paling menentukan tingkah laku. Kekuatan kreatif diri memberi kebebasan bekehendak bagi manusia untuk menciptakan gaya hidup dan bertanggung jawab terhadap tujuan finalnya, dan menentukan cara mencapai tujuan itu serta melakukan pengembangan minat sosial. Gola Gong memiliki kekuatan kreatifitas diri yang baik sehingga ia memiliki minat sosial dan gaya hidup yang baik pula sehingga membentuk kepribadian yang baik bagi Gola Gong.
Jadi, hasil analisa saya terhadap Gola Gong berdasarkan teori psikologi individual Adler ialah, Gola Gong yang pada usia kanak-kanak hidup dalam keluarga yang memiliki pola asuh yang baik sehingga orang tuanya mampu membentuk minat-minat sosial dan gaya hidup yang ideal bagi masa depan anak-anaknya. Kedua orang tua Gola Gong berusaha dengan keras agar anaknya mampu meraih kesuksesan-kesuksesan yang menjadi idaman orang tua dan keinginan anaknya sendiri. Terlebih saat kondisi inferioritas organ  pada diri Gola Gong yang dialaminya pada usia 11 tahun. Pada usia tersebut anak belum mengerti banyak hal tentang apa yang terjadi pada dirinya dan harus bagaimana ia di masa depan. Beruntungnya, orang tua Gola Gong mampu memberikan perhatian dan pendidikan bagi Gola Gong yang memiliki keterbatasan fisik tersebut sehingga Gola Gong mampu mengatasi perasaan inferioritas dan mencapai superioritas.
Selain menganalisis kepribadian menurut psikologi individual Adler, saya juga akan menganalisis kepribadian Gola Gong menurut aliran kepribadian psikonalisis. Karena psikoanalisis merupakan aliran pertama dalam psikologi yang ditokohi oleh Sigmund Freud. Meskipun psikoanalisis banyak mendapat kritikan namun masih eksis digunakan untuk menganalisis kasus-kasus psikologis manusia. Psikoanalisis melihat kepribadian manusia melalui struktur kepribadian id, ego, superego. Psikoanalisis memandang kepribadian individu layaknya gunung es, dimana yang tersembunyi dibawah jauh lebih banyak dibanding yang muncul di permukaan.Sigmund Freud percaya bahwa perilaku yang ditampilkan seseorang adalah manifestasi dari apa yang ada dalam alam bawah sadar (unsconsciouness). Menurut psikoanalisis, id adalah sistem kepribadian yang dibawa sejak lahir yang sifatnya tidak berdasarkan kenyataan alias semu atau khayalan. Ego adalah cara untuk menangani kenyataan sehingga ego berupaya menunda keinginan id yang tidak nyata sampai ada obyek yang nyata untuk memuaskan kebutuhan. Sedangkan superego ialah kekuatan moral yang menjadi penegah antara id dan ego yang tujuannya untuk membedakan antara benar dan salah.
Berdasarkan teori psikoanalisis Sigmund Freud, bagaimanakah dinamika kepribadian dalam diri Gola Gong?
Menurut saya, Gola Gong sebagaimana manusia dengan id pada umumnya. Bedasarkan buku Aku, Anak Matahari yang menceritakan perjalanan hiudp Gola Gong, struktur kerpibadian superego yang terdapat dalam diri Gola Gong sangat kuat, terutama ajaran religius dan pendidikan serta pola asuh  yang diberikan oleh orang tuanya. Hal itulah yang membuat Gola Gong memiliki karakter yang baik. Hal ini dapat dilihat dari tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Gola Gong semasa ia muda hingga menjadi sosok ayah sekarang ini. Gola Gong memiliki prinsip yang kuat bahwa ia tidak ingin menggantungkan hidup dan keinginnanya pada orang lain. Contohnya, Gola Gong ingin mendirikan gelanggang kesenian (Rumah Dunia), ia tidak serta merta membentuk rumah dunia dengan mencari dana atau bantuan dengan mengajukan proposal. Ia mendirikan rumah dunia dengan kerja keras, ia mulai dari nol. Ia kenalkan dunia literasi dan kesenian pada keluarganya dan tetangga lingkungan rumahnya. Ia membangun rumah dunia tidak mudah namun secara bertahap. Gola Gong menyadari bahwa dengan mengajukan dana dengan proposal sama halnya dengan meminta-minta. Ia memiliki prinsip yang kuat bahwa hal tersebut bukanlah cara yang baik. Hingga akhirnya ia mencari cara lain yang dilakukannya dengan sabar namun hasilnya berbuah manis, hingga akhirnya rumah dunia menjadi komunitas dan gelanggang kesenian yang besar dan terkenal dan mimiliki banyak donatur atau sukarelawan yang rela menyisihkan sebagian uangnya untuk didonasikan ke kegiatan di rumah dunia.
Kehidupan masa kecil Gola Gong yang penuh pembelajaran dari Bapak dan Emaknya menjadikan ia pribadi yang berbeda. Tak bisa dipungkiri bahwa pola asuh orang tua dan kondisi lingkungan sosial dimana individu berada sangat mempengaruhi perkembanga sesorang, terutama pada masa kanak-kanak. Gola Gong yang berasal dari keluarga berpendidikan membuatnya mendapatkan pendidikan yang baik dan memiliki kepekaan sosial serta daya tangkap yang lebih baik dari teman sebayanya dalam belajar. Pada waktu itu tentu saja tidak banyak orang tua yang memiliki kesadaran untuk menumbuhkan minat abca pada anak, tidak banyak orang tua yang tahu cara merangsang kecerdasan anak dan bagaimana menangani anak yang memiliki keterbatasan fisik seperti Gola Gong. Id, pada diri Gola Gong sebagaimana layaknya id pada manusia lainnya yang berusaha untuk terpenuhi. Gola Gong tumbuh menjadi sosok pribadi yang dewasa, yang mampu memahami lingkungannya dengan baik dan tahu apa yang menajdi prioritas keinginannya. Sehingga ketika id pada diri Gola Gong tidak tersalurkan dengan baik maka ia melakukan berbagai mekanisme pertahan diri. Untuk menutupi perasan rendah dirinya yang cacat dan tidak ingin direndahkan ornag lain, daripada ia berdiam diri dan merenungi kondisinya, Gola Gong melakukan sublimasi dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang positif seperti membaca buku, berolahraga, bermian, menonton film, dll.




SUMBER RUJUKAN :
1.      Alwisol. 2014. Psikologi Kepribadian. Malang : UMM Press
2.      Gong, Gola. 2008. Aku, Anak Matahari : Sebuah Memoar Keluarga yang Impresif. Bandung: Semesta Parenting


Kamis, 12 Maret 2015

PERKEMBANGAN FISIK DAN KOGNITIF DI MASA KANAK-KANAK AWAL - PSIKOLOGI PERKEMBANGAN


A.    Perubahan Fisik
1.      Pertumbuhan dan Perubahan Tubuh
a.       Tinggi dan Berat Badan
Di masa kanak-kanak awal rata-rata anak bertambah 2.5 inci dan bertambah 5 hingga 7 pon setiap tahunnya. Ketika usia anak bertambah, presentase peningkatan tinggi dan berat badan tubuh menurun setiap tahunnya (Darrah, Senthilselvan, & Magill-Evans, 2009, dalam buku Life Span). Selama usia prasekolah, baik anak laki-laki maupun anak perempuan terlihat lebih kurus karena tungkai mereka bertambah tinggi. Selama usia prasekolah ini pertambahan lemak tubuh juga emnurun secara tetap. Bayi yang gemuk sering kali terlihat lebih kurus di akhir masa kanak-kanak awal.Anak eprempuan memiliki jaringan lemak yang lebih banyak dibandingkan anak laki-laki, sementara dibandingkan anak perempuan, anak laki-laki lebih banyak memiliki jaringan otot.
b.      Otak
Perkembangan otak dan berbagai bagian lain dari system saraf secara terus menerus merupakan salah satu hal terpenting di masa kanak-kanak awal. Otak anak-anak mengalami perubahan anatomi secara drastis antara usia 3 hingga 15 tahun. Para peneliti telah menemukan bahwa pada usia 3 hingga 6 tahun, pertumbuhan yang paling cepat terjadi di area lobus frontal yang melibatkan tindakan pencernaan dan pengorganisasian, dan mempertahankan atensi terhadap tugas (Diamond, Casey, & Munakata, 2011; Gogtay & Thompson, 2010, dalam buku Life Span).

2.      Perkembangan Motorik
a.       Keterampilan Motorik Kasar
Seorang anak prasekolahtidak lagi berusaha keras hanya untuk berdiri tegak dan berjalan berkeliling. Ketika anak-anak dapat melangkahkan kakinya secara lebih yakin dan bertindak dengan tujuan tertentu dengan sendirinya anak-anak akan melakukan aktifitas bekeliling di lingkungannya (Edward & Sarwark, 2005; Gallahue & Ozmun, 2006)
Ketika anak berusia 3 tahun anak gemar melakukan gerakan-gerakan sederhana, seperti melompat serta berlari kedepan dan kebelakang, pada usia 4 tahun anak-anak masih menikmati berbagai aktifitas sejenis, namun kini mereka menjadi lebih ebrani. Ketika berusia 5 tahun, anak-anak mengembangkan jiwa petualang yang lebih besar lagi dibandingkan mereka berusia 4 tahun.



b.      Keterampilan Motorik Halus
Anak pada usia 3 tahun, kadang-kadang anak sudah mampu mengenali objekobjek yang paling kecil dengan menggunakan ibu jaridan telunjuknya, meskipun masih canggung. Anak usia tiga tahun mampu bermain puzzle sederhana. Anak usia 4 tahun, mulai memperlihatkan kemajuan yang bersifat substansial dan ia menjadi lebih cermat. Ketika anak berusia 5 tahun, koordinasi motorik halus anak-anak telah memperlihatkan kemajuan yang lebih jauh lagi.Tengan, langan, dan tubuh, semuanya bergerak dibawah komando mata.


PERKEMBANGAN FISIK DAN OTAK PADA ANAK
NO
UMUR 2 s/d 4 TAHUN
UMUR 4 s/d 7 TAHUN
1
Otak berkembang ¾ dari ukuran otak manusia dewasa
Perkembangn otak mencapai 95% dari ukuran otak manusia dewasa
2
Ukuran kepala lebih relatif besar untuk ukuran tubuh sang anak
Ukuran kepala mulai mengecil dan menyesuakand engan ukuran tubuh
3
Pertambahan lemak pada anakmasih banyak sehingga anak terlihat gemuk
Pertamabahan lemak pada anak mulai berkurang sehingga terlihat lebih kurus

PERKEMBANGAN SARAF MOTORIK PADA ANAK

UMUR
PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR
PERKEMBANGANMOTORIK HALUS
2 s/d 4
Anak mulai bisa melakukan gerakan-gerakansederhana seperti melompat serta berlari
Anak bisa membangun menara yang tinggi dari balok dengan mudah walaupun bentuknyakurang setabil
4 s/d 7
Anak mulai mampu berlari kencang dan menyukai aktifitas yang mendebarkan
Anak kesulitan membangun menara dari balok karena mereka ingin menata balok dengan benar agar menara menjadi setabil


3.      Tidur
Para ahli merekomendasikan agar anak-anak tidur selama 11 hingga 13 jam setiap malam (National Sleep Foundation, AS, 2010, dalam buku Life Span). Anak-anak yang mengalami sulit tidur merupakan hal yang biasa terjadi.Dalam penelitian terbaru menemukan bahwa penolakan terhadap waktu tidur yang dilakukan oleh anak-anak terkait dengan masalah perilaku atau hiperaktivitas pada anak-anak (Carvalho Boss, dkk, 2009, dalam buku Life Span).



4.      Nutrisi dan Olahraga
1.      Anak Obesitas
Kelebihan berat badan menjadi masalah yang serius di kanak-kanak awal. Di Amerika Serikat, terlalu banyak anak-anak ekcil yang dibesarkan dnegan makanan yang tinggi kadar lemak. Kehidupan anak-anak yang seharusnya dipusatkan pada berbagai aktivitas, bukan hanya makanan saja.Anak-anak tidak memeperolah latihan fisik atau kegiatan bergerak yang memadai.
2.      Olahraga
Berikut adalah studi penelitian terbaru yang memepelajariolahraga dan aktivitas pada kanak-kanak awal :
·         Observasi anak-anak prasekolah usia 3-5 tahun selama bermain di luar ruangan mengungkap bahwa anak-anak sebagian besar hanya bersantai dan kurang melakukan aktifitas luar ruangan
·         Aktifitas fisik anak-anak prasekolah diperkuat oelh keterlibatan anggota keluarga dalam kegiatan berolahraga bersama dan oleh persepsi orang tua bahwa anka-anak aman bermain diluar ruangan
·         Kurikulum aktivitas fisik yang memadukan “bermain dna belajar” meningkatkan level aktifitas anak usia 3 hingga 5 tahun di program prasekolah setengah hari.


5.      Malnutrisi pada Anak-Anak dari Keluarga Sosial-Ekonomi Rendah
Malnutrisi pada anak menjadi perhatian penting karena banyak anak usia prasekolah mengalami malnutrisi sehingga membahayakan kesehatan mereka. Salah satu malnutrisi yang paling umum dihadapi kanak-kanak awal adalah masalah anemia yang etrkait dengan kekurangan zat besi, yang dapat emngakibatkan kelelahan kronis.Hal ini disebabkan karena kurangnya konsumsi sayuran hijau dan daging.

6.      Penyakit dan Kematian
Penyakit yang paling fatal dialami usia masa kanak-kanak awal adalah ketika mereka mengalamai cacat lahir, kanker, dan penyakit jantung. Selain itu kecelakaan juga menjadi salah satu factor penyebab kematian pada anak-anak.Kekurangan gizi juga dapat mempengaruhi perkembangan anak. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi adalah kemiskinan, gelandangan, rokok, polusi udara, keracunan yang dapat mengakibatkan gangguan fisik, kognitif, dan perilaku.



B.     Perubahan Kognitif
1.      Tahap Praoperasional Piaget
Tahap praoperasional menurut Piaget merupakan tahapan yang berlangsung dari usia 2-7 tahun. Dalam tahap ini, anak-anak mulai merepresentasikan dunia dengan menggunakan kata-kata, bayangan, dan gambar.Anak-anak membentuk konep stabil dan mulai bernalar selain itu aspek kognitif didominasi oleh egosentrisme dan keyakinan magis.
Label praoperasional memberi penekanan bahwa anak belum melakukan operasi (operation), yaitu aktivitas mental yang dibalik, yang memungkinkan anak-anak untuk membayangkan hal-hal yang dulunya hanya dapat dilakukan secara fisik. Contohnya adalah membayangkan operasi penambahan dan pengurangan.Sedangkan pemikiran praoperasional adalah awal dari kemampuan melakukan rekonstruksi dalam pemikiran terhadap hal-hal yang telah dicapai dalam bentuk perilaku.Tahap praoperasional dibagi menjadi dua subtahapan yaitu subtahap fungsi simbolik dan subtahap fungsi intuitif.

a.       Subtahap Fungsi Simbolik (Symbolic Function Substage)
Merupakan subtahap pertama dari pemikiran praoperasional yang terjadi antara usia 2-4 tahun. Dalam subtahap ini, anakmemperoleh kemampuan untuk membayangkan penampilan objek yang tidak ahdir secara fisik. Anak usia 2-4 tahun menggunakan coretan-coretan untuk mempresentasikan manusia, rumah, mobil, awan, dsb. Anak menggunakan bahasa dan terlibat dalam permainan pura-pura.Pada subtahap ini pemikiran anak terbatas pada egosentrisme dan animism.
Egosentrisme (egocentrims) adalah ketidakmampuan membedakan antara perspektif dirinya dan perspektif orang lain. Paget dan Barbel (1969) mempelajari egosentrime pada anak kecil dengan membagi tugas mengenai tiga gunung.Animisme (animism) adalah keyakinan bahwa benda-benda mati memiliki kualitas yang seolah-olah hidup dan mampu beraksi.  Seorang anak kecil memperlihatkan pemikiran animismenya ketika mengatakan, “Pohon itu mendorong daun, sehingga daunnya jatuh,” atau “Trotoar itu membuat saya marah;trotoar itu menyebabkan saya terjatuh”. Seorang anak kecil yang menggunakan animism sulit membedakan antara peristiwa-peristiwa yang tepat bagi penggunaan perpektif manusia dan bukan manusia.Hal ini dikarenakan seorang anak kecil tidak terlalu menaruh perhatianpada realitas.Hasil gambar mereka bersifat khayalan dan berdaya-cipta.
Untuk menguji kemampuan anak untuk melihat dari perspektif orang lain, Piaget mendesain penelitian yang dikenal dengan the three-mountain task atau tugas tiga gunung seperti pada gambar dibawah ini: 

Dimana si anak duduk di depan meja menghadap tiga tumpukan tanah yang berbentuk gunung dengan ukuran yang bervariasi. Kemudian sebuah boneka ditempatkan di kursi yang berhadapan dengan sang anak. Para periset kemudian menanyakan kepada anak tersebut apa yang dilihat oleh si boneka. Piaget menemukan bahwa, biasanya si anak akan menjawabnya dengan mendeskripsikan gunung tersebut dari sudut pandangnya saja. Piaget melihat hal ini sebagai bukti bahwa anak praoperasional tidak dapat membayangkan berbagai sudut pandangan yang berbeda.


 






b.      Subtahap Berpikir Intuitif
Subtahap ebrpikir intuitif merupakan subtahap kedua dari berpikir praoperasional dan berlangsung ketika anak berusia antara 4-7 tahun. Pada subtahap ini anak mulai menggunakan penalaran primitive dan ingin mengetahui jawaban atas segala pertanyaan yang ia ajukan.sebagai contoh, Tommy, seoranga nak berusia 4 tahun dan berada pada subtahap berpikir intuitif. Meskipun ia mulai mengembangkan ide-idenya sendiri mengenai dunia dimana ia tinggal, idenya masih sederhana, dan ia belum terlalu baik untuk menyelesaikan masalah.Tommy mengalami keuslitan dalam memahami peristiwa-peristiwa yang terjadi namun tidak dapat dilihatnya. Fantasinya kurang berkaitan dengan realitas.
Pada usia 5 tahun anak-anak akan membuat orang dewasa kelelahan karena banyak mengajukan pertanyaan “mengapa”. Pertanyaan-pertanyaan “mengapa” menunjukkan munculnya minat terhadap penalaran dan berusaha memahami mengapa berbagai hal berlangsung seperti adanya.Contohnya ketika anak bertanya,”Mengapa daun jatuh?”, “Mengapa matahari bersinar”.
Oleh Piaget subtahap ini disebut intuitif karena anak-anak kecil tampak yakin terhadap pengetahuan dan pemahamannya meskipun mereka belum menyadari bagaimana mereka mengetahui hal-hal yang mereka ketahui itu.Kesimpulannya, anak-anak mengetahui sesuatu namun mengetahuinya tanpa pemikiran rasional.
Pemusatan dan Keterbatasan Pemikiran Praoperasional
Salah satu keterbatasan pemikiran praoperasional adalan Pemusatan (centration), yakini memusatkan atensi pada sebuah karakteristik sehingga mengesampingkan karakteristk yang lainnya.Pemusatan adalah gejala yang paling jelas munculpada anak-anak kecil yang belum memiliki konservasi (conservation), yakni kesadaran bahwa mengubah suatu objek atau suatu substansi tidak mengubah property dasarnya.
Contohnya,orang dewasa pasti emmahami betul bahwa jumlah cairan akan tetap sama meskipun bentuk wadahnya berbeda-beda. Hal ini berbeda dengan anak ekcil, karena anak kecil lebih memfokuskan pada bentuk wadah sehingga mengesampingkan karakteristik lainny.
Dalam percobaan ini, peneliti menunjukkan dua gelas mirip yang berlingkaran lebar dan pendek yang keduanya diisi dengan jumlah air yang sama, dan kemudian si anak melihat peneliti menuangkan air pada salah satu gelas yang berlingkaran lebar dan pendek tadi ke dalam satu gelas yang berukuran kecil dan tinggi. Kemudian peneliti bertanya gelas manakah yang mengandung air lebih banyak, kemudian si anak menunjuk ke arah gelas yang berukuran berlingkaran kecil dan tinggi.




2.      Teori Vygotsky’s
Menurut Vygotsky anak-anak menyusun pengetahuannya melalui inetraksi sosial. Dan mereka menggunakan bahasa tidak hanya untuk berkomunikasi dengan yang lain namun juga untuk merencanakan, mengarahkan dan memonitor tingkah lakunya sendiri untuk memcahkan masalah-masalahnya. Teori ini menyatakan bahwa dalam pengasuhan orang dewasa sebaiknya menilai dan menggunakan Zone of Proximal Development (ZPD) kepada anak, yakni suatu jajaran tugas-tugas yang sulit bagi anak untuk dikuasai sendiri namun dapat dipelajari melalui bimbingan dan bantuan orang dewasa atau anak-anak lain yang lebih terampil. ZPD ini dibagi atas batasan-batasan, yakni batasan bawah Level ketrampilan yang mampu diraih dengan bekerja sendiri. Batas atas adalah level tanggunga jawab tambahan yang dapat diterima anak dengan dibantu oleh instruktur yang mampu.
Selanjutnya, teori ini juga menyarankan adanya Scaffolding.Artinya menghadirkan orang yang lebih terampil secara bertahap mengubah level dukungan di dalam ranglaian sesi pengajaran disesuaikan dengan level performa siswa.
Bahasa dan Pemikiran Vygotsky berkeyakinan bahwa anak-anak yang menggunakan private speech dalam jumlah banyak adalah anak-anak yang meiliki kompetensi sosial dibandingkan mereka yang tidak.Bagi Vygotsky ketika anak-anak berbicara sendiri mereka sebenarnya sedang menggunakan bahasa untuk memerintah perilakunya sendiri dan mengarahkan dirinya.Contoh, seorang anak yang sedang mengerjakan puzzle “potongan yang harus aku gabungkan pertama kali? Pertama-tama aku akan mencoba dengan potongan berwarna biru. Sekarang aku mencoba potongan berwarna hijau. Oh tidak yang hijau tidak cocok, aku akan mencobanya disini”. Para peneliti juga telah mendukung dan menemukan pandangan Vygotsky bahwa anak-anak yang menggunakan private speech menjadi lebih menjadi lebih perhatian dan meningkat dibandingkan mereka yang tidak.
Strategi pengajaran Teori Vygotsky juga diterapkan dalam pendidikan. Berikut adalah beberap cara dimana teori vygotsky dapat digunakan di dalam kelas:
1.      Menilai ZPD anak. Dapat dilakukan oleh pengajar dengan cara yang terampil menyajikan tugas-tugas dengan kesulitan yang bervariasi untuk menentukan level yang terbaik dalama memulai instruksi.
2.      Menggunakan ZPD dalam pengajaran.Mengajar sebaiknya  dengan mengarah pada daerah atas, supaya anak dapat melalui bantuan serta beranjak ke level keterampilan dan pengetahuan yang lebih tinggi.
3.      Menggunakan kawan sebaya yang terampil sebagai guru. Guru bukan merupakan sumber utama dalam belajar.
4.      Menempatkan instruksi di dalam konteks yang bermakna. Menyelesaikan rumus-rumus matematika dengan implikasinya dunia nyata.
5.      Mengubah ruang kelas dengan ide-ide vygotsky. Menerapkan zona interaksi anak dengan lingkungan dan menggunakan scaffolding untuk peningkatan literasi para siswa.
Evaluasi Terhadap Teori Vygotsky. Meskipun teori Vygotsky dianggap sebagai penyempurnaan terhadap teori Piaget. Teori Vygotsky memiliki beberapa evaluasi, yaitu :
1.      Teori ini tidak terlalu spesifik mengenai perubahan terkait usia
2.      Tidak spesifik menjelaskan perubahan kemampuan sosio-emosi pada anak
3.      Terlalu menekankan bahasa dalam berpikir
4.      Penekenan dalam hal kolaborasi dan bimbingan tidak memungkinkan. Dampaknya beberapa anak mungkin lebih malas dan mengharapkan bantuan ketika mereka diharapkan dapat mengerjakan sendiri
Perbandingan Teori Vygotsky dengan Teori Piaget

PERBEDAAN
VYGOTSKY
PIAGET
Konteks sosio kultural
Sangat ditekankan
Kurang ditekankan
Konstruktivisme
Konstruktivis sosial
Konstruktivis kognitif
Tahap – tahap
Tidak ada tahap-tahap perkembangan umum
Memberi penekanan yang kuat terhadap tahap-tahap (sensorimotorik, praoperasional, operasional konkret, operasional formal)
Proses kunci
ZPD, bahasa, dialog, sejumlah perlengkapan budaya
Skema, asimilasi, akomodai, oprasi, konservasi, klasifikasi, penalaran hipotesis dedukatif-deduktif.
Peran bahasa
Peran utama; bahasa memainkan peran penting dalam membentuk pikiran
Bahasa memiliki peraan miminal, kognisi terutama mengarahkan bahasa.
Pandangan mengenai pendidikan
Pendidikan memainkan peran penting, membantu anak0anak mempelajari perlengkapan budaya
Pendidikan hanya menghaluskan ketrampilan kognitif anak yang tealh muncul
Implikasi pengajaran
Guru sebagai fasilitator dan pembimbing; bukan sebagai pengarah; meraih kesempatan bagi anak untuk belajar dengan guru dan kawan-kawan sebayanya yang lebih terampil
Guru sebagai fasilitator dan pembimbing bukan pengarah; menyediakan anak untuk mengeksplorasi dunia mereka dan menemukan pengetahuannya

3.      Pemrosesan Informasi
Selama masa perkembanngan anak usia dini, anak meningkat dalam hal perhatian dan dalam kecepatan serta efisiensi pengolahan informasi; dan mereka mulai membentuk memori jangka panjang. Tetap saja, anak kecil tidak mengingat sebaik mereka yang lebih tua.Untuk satu hal, anak keci cenderung fokus pada detail-detail pasti dari sebuah peristiwa, yang mudah untuk dilupakan, sedangkan anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa umumnya berkonsentrasi pada intisari kejadian.Karena kurangnya pengetahuan mereka mengenai kehidupan, bisa jadi gagal untuk memperhatikan aspek-aspek penting dari suatu situasi, seperti kapan dan di mana hal itu terjadi, mana yang dapat memicu memori mereka.
1.      Proses Dasar dan Kapasitas
Model pengolahan informasi menggambarkan tiga tahap dalam memori, yaitu :
a.       Pengodean : proses ketika informasi disiapkan untuk disimpan di tempat penyimpanan jangka panjang untuk kemudian dipanggil kembali. Seperti meletakkan informasi ke dalam folder untuk dimasukkan dalam memori; melekat dalam bentuk kode, atau lebel, mengenai sebuah informasi sehingga memudahkan untuk ditemukan jika diperlukan.
b.      Penyimpana : meletakkan folder dalam lemari arsip.  Penyimpanan informasi dalam memori digunakan untuk kemudian hari.
c.       Pemanggilan kembali : proses bagaimana informasi diakses atau dipanggil kembali dari tempat penyimpanan memori. Pemanggilan kembali terjadi ketika informasi diperlukan; anak kemudian mencari berkas dan membawanya ke luar.
Model pengolahan informasi melukiskan otak yang berisi tiga “gudang penyimpanan”: memori sensoris, memori kerja, dan memori jangka panjang.
a.       Memori Sensoris : tangki penahan sementara berbagai informasi yang akan datang. Bagaimanapun, tanpa proses (pengodean), memori sensoris bisa lenyap dengan cepat.
b.      Memori Kerja : sebuah tempat penyimpanan informasi sementara untuk individu yang aktif bekerja; mencoba memahami, mengingat atau berpikir tentang sesuatu. Studi gambaran otak menemukan bahwa memori kerja berada pada bagian korteks prafrontal, bagian besar dari lobus frontal yanng berada persis di belakang dahi (C.A. Nelson dkk., 2000)
Pertumbuhan memori kerja mengizinkan berkembangnya fungsi eksekutif, kontrol kesadaran dari pikiran, emosi, dan tindakan untuk melakukan tujuann atau memecahkan permaasalahan.Fungsi eksekutif memungkinkan anak-anak bermain dan mencapai tujuan yang diarahkan oleh aktivitas mental.Pikiran ini muncul di sekitar berakhirnya masa tahun pertama infant dan terus berkembang sesuai usianya. Perubahan fungsi-fungsieksekutif terjadi antara usia 2 dan 5 tahun membantu anak mengembangkan dan menggunakan aturan-aturan yang kompleks untuk memecahkan masalah/ (Zelaso dkk., 2003; Zelaso & Muller, 2002).
Berdasarkan perluasan model yang digunakan, eksekutif sentral mengontrol proses operasi dalam memori kerja (Baddeley, 1981, 1986, 1992, 1996, 1998). Eksekutif sentral memesan informasi yang terkode untuk mentransfernya ke memori jangka panjang, sebuah penyimpanan dengan kapasitas tidak terbatas secara virtual yang menahan semua informasi dan memori jangka panjang untuk proses selanjutnya.
1)      Merekognisi dan Mengingat
Merekognisi dan mengingat adalah jenis-jenis dari proses pemanggilan kembali. Merekognisi adalah kemampuan untuk mengidentifikasi sesuatuu yang telah dihadapi sebelumnya (sebagai contoh mengambil sarung tangan yang hilang dari kotak temuan dan kehilangan).Mengingat adalah kemampuan menghasilkan ulang pengetahuan dari memori.

2)      Membentuk dan Menyimpan Memori Masa Anak
a.       Memori Generik, yang dimulai saat berumur 2 tahun, menghasilkan sebuah naskah, atau garis-garis besar peristiwa-peristiwa yang sudah familier, berulang, seperti naik bus ke sekolah atau makan siang di rumah nenek. Hal ini membantu anak-anak mengetahui apa yang diharapkan dan bagaimana bertindak.
b.      Memori Episodik mengacu paada kesadaran memiliki pengalaman pada peristiwa tertentu atau episode pada waktu dan tempat yang khusus. Anak kecil mengingat lebih jelas kejadian yang baru buat mereka. Memberikan kapasitas memori yang terbatas pada anak kecil, memori episodik bersifat sementara. Kecuali mereka mengingat beberapa kali (jika mereka mentransfernya ke memori generik), selama beberapa minggu atau bulan, lalu akan lenyap (Nelson, 2005).
c.       Memori Autobiografis, jenis memori episodik, yang mengacu pada pengalaman tertentu yang membentuk sejarah hidup seseorang. Tidak semua hal dalam memori episodik menjadi bagian dari memori autobiografis—hanya memori-memori istimewa, memiliki arti khusus bagi anak (Fivush & Nelson, 2004). Memori autobiografis umumnya muncul antara usia 3 dan 4 tahun (Howe, 2003; Fivush & Nelson, 2004; Nelson & Fivush, 2004).
Penjelasan untuk munculnya memori autobiografis yang relatif lambat datangnya adalah bahwa anak tidak dapat menyimpan di dalam memori peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan kehidupan mereka hingga mereka bisa mengembangkan konsep diri (Howe, 2003; Howe & Courage, 1993, 1997; Nelson & Fivush, 2004).
3)      Pengaruh Pada Daya Ingat
Faktor yang mempengaruhi daya ingat pada anak:
a.       Keunikan dari setiap kejadian yang dialami
b.      Dampak emosional
c.       Partisipasi aktif anak
d.      Kesadaran diri
e.       Komunikasi orang dewasa dengan anak-anak tentang berbagai pengalaman berpengaruh kuat pada memori autobiografis sebaik pada keterampilan kognitif dan bahasa.
Investigator yang dipengaruhi oleh teori sosial budaya Vygotsky mendukung model interaksi sosial, yang mengatakan bahwa anak memadukan susunan memori autobiografis dengan oranng tua atau orang dewasa yang lain mereka berbagi pengalaman. Orang tua cenderung memiliki gaya yang konsisten ketika berbicara dengan anak-anak tentang berbagai pengalaman (Fivush & Hadenn, 2006). Ketika anak terjebak, orang dewasa dengan gaya elaborasi yang rendah mengulangi kembali pernyataan atau pertanyaan mereka sendiri selanjutnya. Dalam sebuah studi, anak berusia 2 ½ dan 3 ½ tahun yang ibunya dilatih menggunakan teknik bicara dengan elaborasi tinggi ketika bicara dengan anak-anak mereka, mampu memanggil kembali memori yang lebih banyak daripada ibu yang tidak dilatih (Reese & Newcombe, 2007).Ibu cenderung berbicara sungguh-sungguh pada anak perempuan dibandingkan pada anak laki-laki.Penemuan ini bisa menjelaskan mengapa perempuan cenderung lebih detail, mengingat lebih jelas pengalaman masa kecil dibandingkan laki-laki (Fivush & Haden, 2006; Nelson & Fivush, 2004).
Hubungan antara elaborasi, bimbingan orang tua dalam mengingat dan memori autobiografis anak telah direplikasi secara luas dan lintas budaya.Bagaimanapun, ibu pada budaya keluarga kelas menengah Barat cenderung lebih elaboratif dibandingkan ibu-ibu yang bukan dari budaya Barat (Fivush & haden, 2006).
C.    Perkembangan Bahasa
1.      Memahami Fonologi dan Morfologi
Pada usia 3 tahun anak mulai dapat mengucapkan semua bunyi vokal dan sebagian besar konsonan. Ketika anak-anak sudah melampaui ungkapan yang terdiri dari dua kata, mereka mendemonstrasikan pengetahuan mengenai morfologi.Anak-anak mulai menggunakan bentuk kata plural maupun kata kepunyaan untuk benda. Beberapa bukti tebaik yang memperlihatkan perubahan anak dalam menggunakan aturan morfologi adalah dalam overgeneralisasi mereka terhadap aturan-aturan, seperti ketika seorang anak prasekolah mengatakan “foot” dan bukan “feet” atau “goed” dan bukan “went”. Pada eksperimen yang dilakukan oleh Jean Berko yaitu dengan menyajikan kartu-kartu pada anak dan Berko membacakan kata yang ada pada kartu tersebut dan anak diminta untuk melengkapi kata-kata yang hilang.Meskipun jawaban anak-anak tidak sempurna, jawaban itu bukan sekedar bersifat kebetulan.Yang mengesankan dari sudi Berko ini ialah kata-kata yang disusun utuk eksperimen.Dengan demikian, anak-anak tidak dapat mendasarkan respons mereka pada ingatan terhadap kata yang mereka dengar di masa lalu.Karena mereka tidak dapat membentuk plural dari kata yang belum pernah mereka dengar sebelumnya, maka hal ini membuktika bahwa mereka mengetahui aturan morfologi.

2.      Kosakata
Pesatnya pemahaman kosakata bisa terjadi mealui pemetaan cepat. Pemetaan cepat sendiri ialah suatu proses saat anak-anak menyerap arti dari kata-kata bafru setelah sekali mendengarkan atau dua kali dalam suatu percakapan. Ahli linguistik kurang yakin dengan pemetaan cepan tapi tampaknyaanak-anak menggambar apa saja yang merek tahu tentang aturan untuk membentuk kata, mengenai persamaan kata, konteks segera, dan subjek yang dibahas. Pada anak usia 3 dan 4, merek mampu mengatakan ketika dua kata mengacu pada objek dan tindakan yang sama.

3.      Tata Bahasa dan Sintaksis
Pada usia 3 tahun anak umumnya mulai menggunakan bentuk jamak, kata ganti milik, dan masa lampau serta tahu perbedaan antara menggunakan aku, kamu, dan kita. Anak usia 4 tahun menggunakan kalimat yang kompleks dan menggunakan anak kalimat. Mereka juga dipengaruhi oleh kelompoknya.Ketika anak berinteraksi dengan kelompoknya yang memiliki ketrampilan berbahasa yang kuat, hasil ini kecil, tapi memiliki dampak positif pada bahasa mereka sendiri. Di usia yang menginjak 5 sampai 7 tahun, perkataan anak serring terdengar seperti orang dewasa dengan kalimat yang panjang dan kompleks. Mereka menggunakan kata hubung, kata depan, dan artikel.

4.      Pragmatik dan Bicara Sosial
Pragmatik ialah pengetahuan praktis yang dibutuhkan untuk menggunakan bahasa untuk tujuan komunikatif agar mengetahui bagaimana bertanya tentang sesuatu, mengatakan sebuah cerita, atau bahan candaan,  bagaimana memulai dan melanjutkan sebuah percakapan dan lain sebagainya. Semua aspek tersebut merupakan bicara sosial.Bicara sosial sendiri adalah bicara yang mmeiliki tujuan untuk bisa dipahami oleh pendengar. Kebanyakan pada anak usia 5 tahun mereka mampu mengadaptasi apa yang mereka katakan pada apa yang diketahui pendengarnya.

5.      Percakapan Sendiri
Percakapan sendiri ialah bicara pada diri sendiri tanpa berkomunikasi dengan orang lain. Piaget (1962/1934) melihat percakapan pada diri sndiri adalah sebagai tanda ketidakmatangan kognitif.Vygotsky (1962/1934) tidak melihat bicara dengan diri sendiri sebagai sifat egosentris.Dia melihat bentuk-bentuk komunikasi khusus; bicara dengan diri sendiri. Percakapan diri sendiri cenderung meningkat saat anak-anak mencoba memecahkan permasalahan atau mengerjakan tgas yang sulit, terutama tanpa bimbingan oran dewasa. Oleh karena itu, Vygotsky mempertimbangkan kebutuhan percakapan diri sendiri sebagai tingkat universal pada perkembangan kognitif, sebuah studi menemukan perbedaan mendasar pada individu, saat anak-anak menggunakan beberapa di antaranya atau tidak sama sekali.

6.      Perkembangan Bahasa yang Terlambat
Masalah pendengaran, abnormalitas pada wajah dan kepala mugkin berasosiasi dengan keterlambatan bahasa dan bicara, seperti kelahiran prematur; sejarah keluarga; faktor sosial ekonomi; dan keterlambatan perkembangan yang lain. Anak- anak dengan keterlambatan berbahasa mengkin memiliki masalahn dengan kecepatan pemetaan, mereka perlu mendengar kata-kata baru lebih sering daripada anak-anak lain sebelum mereka menyatukan ke dalam kosakata. Bagaimanapun, beberapa anak dengan keterlambatan bahasa, jika tidak ditangani akan mengalami konsekuensi perkembangan kognitif, sosial dan emosional yang lama.

7.      Persiapan Untuk Literasi
Kemunculan literasi mengacu pada perkembangan ketrampilan anak prasekolah dalam pengetahuan dalam pengetahuan dan sikap yang mendasari membaca dan menulis.Ketrampilan sebelum membaca dibagi atas dua jenis yaitu kemampuan membaca oral seperti kosakata, sintaksis, struktur bertutur, dan pemahaman terhadap bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi; dan kemampuan bersuara khusus yang membantu pengodean kata-kata yang dicetak. Lebih jauh, keberhasilan literasi dan akademis anak-anak didahuluyi oleh keterampilan bebahasa, pengetahuan fonologi dan sintaksis,identifikasi surat, serta pengetahuan konseptual menegnai mdia cetak dan fungsinya. Tiga studi longitudinal mengindikasikan pentingnya ketrampiulan berbahasa dan kesiapan anak memasuki sekolah bagi anak : kesadaran fonologis, nama huruf dan pengetahuan menegnai bunyi, serta kecepatan memberi nama pada anak usia TK berkaitan dengan keberhasilan membaca tingkat pertama dan kedua; lingkungan rumah di masa kanak-kanak awal mempengaruhi keterampilam berbahasa, sehingga dapat memprediksi kesiapan anak-anak dalam memasuki sekolah; jumlah huruf yang diketahui oleh anak-anak di masa TK sangat berkorelasi dengan prestasi membaca di sekolah menegah atas.

8.      Media dan Kognisi
Di usia 3 tahun, anak merupakan pengguna aktif media, mudah menaruh perhatian terhadap dialog dan cerita. Pengenalan pertama pada televisi di tahun pertama kehidupannya mungkin diasosiasikan dengan minimnya perkembangan kognitif, namun anak pada usia lebih dari 2 tahun mengenal program yang memiliki kurikulum pengembangan kognitif telah menunjukkan peningkatan kognitif. Orang tua yang membatasi waktu menonton televisi, memilih program yang lebih baik, sesuai dengan usia, dan menonton program tersebut dengan anak mereka dapat memaksimalkan manfaat dari media.




Tabel perkembangan bahasa pad kanak-kanak usia awal :
No.
Hal yang berkembang
Bukti Perkembangan
1.
Memahami Fonologi dan Morfologi
Pada usia 3 tahun anak mulai dapat mengucapkan semua bunyi vokal dan sebagian besar konsonan. Ketika anak-anak sudah melampaui ungkapan yang terdiri dari dua kata, mereka mendemonstrasikan pengetahuan mengenai morfologi. Anak-anak mulai menggunakan bentuk kata plural maupun kata kepunyaan untuk benda. Beberapa bukti tebaik yang memperlihatkan perubahan anak dalam menggunakan aturan morfologi adalah dalam overgeneralisasi mereka terhadap aturan-aturan, seperti ketika seorang anak prasekolah mengatakan “foot” dan bukan “feet” atau “goed” dan bukan “went”.
2.
Kosakata
Pada anak usia 3 dan 4, merek mampu mengatakan ketika dua kata mengacu pada objek dan tindakan yang sama.
3.
Tata Bahasa dan Sintaksis
Di usia yang menginjak 5 sampai 7 tahun, perkataan anak sering terdengar seperti orang dewasa dengan kalimat yang panjang dan kompleks. Mereka menggunakan kata hubung, kata depan, dan artikel.
4.
Pragmatik dan Bicara Sosial
Bertanya tentang sesuatu, mengatakan sebuah cerita, atau bahan candaan,  bagaimana memulai dan melanjutkan sebuah percakapan dan lain sebagainya.
5.
Percakapan Sendiri
Dia melihat bentuk-bentuk komunikasi khusus; bicara dengan diri sendiri.
6.
Perkembangan Bahasa yang Terlambat
Anak-anak dengan keterlambatan berbahasa mengkin memiliki masalah dengan kecepatan pemetaan, mereka perlu mendengar kata-kata baru lebih sering daripada anak-anak lain sebelum mereka menyatukan ke dalam kosakata.
7.
Persiapan Untuk Literasi
Kemunculan literasi mengacu pada perkembangan ketrampilan anak prasekolah dalam pengetahuan dalam pengetahuan dan sikap yang mendasari membaca dan menulis.
8.
Media dan Kognisi
Di usia 3 tahun, anak merupakan pengguna aktif media, mudah menaruh perhatian terhadap dialog dan cerita.

D.    Pendidikan di Masa Kanak-Kanak Awal
Bagi para guru di program Reggio-Emilia, anak-anak prasekolah adalah para pelajar yang aktif, mengeksplorasi dunia bersama kawan-kawan sebaya, menyusun pengetahuan mereka mengenai dunia dalam berkolaborasi dengan komunitasnya dibantu namun tidak diarahkan oleh para gurunya.

1.      Tipe-tipe Prasekolah
Prasekolah memiliki beragam tujuan dan kurikulum.Beberapa program menekankan pencapaian akademis dan yang lainnya fokus pada perkembangan social dan emosi.
·        Taman Kanak-Kanak yang Berpusat pada Anak
Taman kanakkanak seperti ini menekankan pendidikan secara keseluruhan dan menaruh perhatian pada perkembangan fisik, kognitif, dan sosialemosi anak-anak. Taman kanak-kanak yang berpusat pada anak mempertahankan tiga prinsip:
Setiap anak mengikuti sebuah pola perkembangan yang unik, anak-anak kecil secara terbaik belajar melalui pengalaman langsung dengan berbagai orang dan materi, dan bermain merupakan hal yang sangat penting bagi perkembangan anak secara total. Bereksperimen, bereksplorasi, menemukan, mencoba, melakukan rektrukturisasi, berbicara, dan mendengarkan, merupakan aktifitas-aktifitas yang sering ada dalam program taman kanak-kanak.
·        Metode Montessori
Adalah model filosofi pendidikan dari Maria Montessori.Sebagai seorang dokter perempuan yang pertama di Italia, Maria Montessori mendedikasikan dirinya untuk menemukan metode yang baru dan lebih baik untuk mendidik anak-anak berkebutuhan khusus.Metode Montessori didasarkan pada keyakinan bahwa intelegens alami anak termasuk di dalamnya aspek rasionalitas, spiritual dan aspek empiris.Kurikulum itu sendiri bersifat individual, tapi ruang lingkupnya jelas ditentukan dan memberikan serangkaian kegiatan yang jelas. Pendekatan Montesorri terbukti efektif, sebuah evaluasi dari system pendidikan Montessori di Milwaukee menemukan bahwa siswa Montessori yang berusia 5 tahun memiliki persiapan yang lebih baik untuk masuk SD dalam membaca dan matematika daripada anak yang mengikutiti peprasekolah lain.

·        Pendekatan Reggio Emilia
Di akhir tahun 1940-an sebuah kelompok pendidik Italia dan para orang tua membentuk sebuah rencana untuk memperbaiki kerusakan pada beragam kelompok social akibat pecahnya perang, setelah perang dunia II melalui pendekatan baru mendidik anak kecil. Tujuannya untuk meningkatkan kehidupan anak-anak dan keluarga melalui dialog tanpa kekerasan dan debat. Mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, dan menempa lebihdekat, hubungannya jangka panjang antar guru dan siswanya.

2.      Kompensasi Program Prasekolah
Program kompensasi prasekolah terbaik untuk anak-anak dengan keluarga berpenghasilan rendah di Amerika Serikata dalah project Head Start, program pemerintah yang diluncurkan tahun 1965. Konsisten dengan pendekatan anak secara menyeluruh, tujuannya tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan kognitif, tapi juga meningkatkan kesehatan fisik dan memelihara rasa percaya diri dan keterampilan sosial.Beberapa peneliti berpendapat bahwa hal ini dapat membantu menjelaskan mengapa banyak anak yang tidak berpartisipasi dalam Head Start, di tingkat pertama sekolah, terlihat dapat mengejar ketinggalan pada program berpartisipasi.Sebagai contoh, pelajar dengan dua bahasa dan anak berkebutuhan khusus yang berpartisipasi di awal program intervensi cenderung menunjukkan peningkatan yang lebih besar dan dirawat untuk periode waktu yang lama.Anak-anak Head Start dan program kompensasi lainnya lebih kecil kemungkinan ditempatkan dalam pendidikan khusus atau mengulang jejang atau tingkat serta lebih memiliki kemungkinan menyelesaikan sekolah menengah atasnya dibandingkan anak-anak dari keluarga kelas bawah yang tidak mengikuti program tersebut.Pada tahun 1995, Head Start dini mulai menawarkan pelayanan-pelayanan perkembangan anak dan keluarga ke pada keluarga berpenghasilan rendah yang memiliki infant dan toddler. Kesepakatan yang terus tumbuh diantara para pendidikan anak usia dini, yaitu cara efektif untuk memastikan meningkatnya pencapaian dalam intervensi dini dan program kompensasi pendidikan adalah dengan mengelolanya melalui pendekatan PK-3 program perpanjangan sistematik dari prataman anak-anak hingga kelas 3. Program tersebut akan :
·        Menawarkan praTK pada semua yang berusia 3 dan 4 tahun
·        Mengharuskan sekolah sehari penuh untuk anak TK
·        Mengkoordinasikan dan meluruskan pengalaman-pengalaman pendidikan serta harapan-harapan dari anak praTK hingga kelas 3 melalui serangkaian kurikulum berbasis kebutuhan perkembangan anak dan kemampuan serta diajarkan oleh seorang yang terampil dan professional.

3.      Anak-anak di Taman Kanak-Kanak
Taman kanak-kanak awalnya adalah satu tahun transisi antara kebebasan yang relative dirumah dengan struktur dari “sekolah sesungguhnya”, tetapi di Amerika Serikat saat ini taman  kanak-kanak lebih menyerupai sekolah dasar. Pendorong tren ini adalah meningkatnya jumlah orang tua tunggal dan rumah tangga yang berpendapatan dari 2 orang. Dan pada awalnya taman kanak-kanak dilaksanakan sehari penuh dengan pertumbuhan yang besar perihal keterampilan membaca dan matematika dari musimgugur ke musim semi, tapi secara keseluruhan keuntungan ini cenderung kecil ke sedang. Sumber yang mengatakan bagaimana anak-anak memasuki taman kanak-kanak, keterampilan praliterasi serta kekayaan bahasa yang berasal dari lingkungan rumah, memprediksi pencapaian membaca dikelas 1, serta pembedaan individual tersebut cenderung mampu menyesuaikan diri di taman kanak-kanak lebih mudah daripada yang menghabiskan penyesuaian diri untuk anak taman kanak-kanak dapat di hilangkan dengan memungkinkan anak prasekolah dan orang tua berkunjung sebelum anak memulai sekolahnya, memperpendek waktu sekolah di awal masuk, kunjungan guru kerumah, mengadakan sesi orientasi orang tua, serta tetap memberikan orang tua informasi yang terjadi disekolah. Berkembangnya kemampuan fisik dan kognitif di masa anak usia dini berdampak pada pembentukan citra diri anak, penyesuaian emosional, dan bagaimana mereka nyaman di rumah serta dengan teman-temannya
4.      Kontroversi di dalam Pendidikan Masa Kanak-Kanak Awal
Dua kontroversi pendidikan di masa kanak-kanak awal meliputi :
·         Kontroversi tentang Kurikulum
Di satu sisi orang-orang mendudkung pendidikan yang berpusat pada anak, yakni pendekatan konstruktif, yang ditekankan oleh NAEYC, yang mengikuti praktik-praktik yang sejalan dengan perkembangan. Di sisi lain adalah orang-orang yang menganjurkan pendekatan akademik maupun instruksi langsung. Dalam kenyataannya, banyak program pendidikan kanak-kanak awal yang berkualitas tinggi melibatkan pendekatan akademik maupun kontruktivis.
Program-program masa kanak-kanak awal yang kompeten juga sebaiknya berfokus pada perkembangan kognitif dan perkembangan sosial-emosional, tidak hanya berfokus pada perkembangan kognitif.


·         Pendidikan Prasekolah yang Universal
Edward Ziglerdankoleganya (2006) baru-baru ini berpendapat bahwa Amerika Serikat seharusnya memiliki pendidikan prasekolah yang universal. Zigler dan koleganya (2006) merujukpenelitian yang menunjukan program prasekolah berkualitas menurunkan kecenderungan anak-anak tersebut akan tinggal kelas atau putussekolah di sekolah dasar atau menengah. Mereka juga menunjukkan analisis yang mengindikasikan bahwa prasekolah yang universal akan menghemat biaya hingga milliaran dollar AS untuk kebutuhan remedial dan keadilan.
Para kritikus itu terutama menekankan bahwa peneletian belum membuktikananak-anak yang kurang beruntung tersebut meningkat sebagai hasil dari mengikuti program prasekolah.Beberapa kritikus, terutama pendukung homeschooling, menekankan bahwa anak-anak harus di didik oleh orang tua, bukan sekolah.Sehingga, kontroversi terus mewarnai implementasi pendidikan prasekolah yang universal ini.
Sekolah Montessori
Di sekolah Montessori , sebuah kelas terdiri dari siswa yang usianya berbeda (mixed-aged classroom). Kelas Montessori dibagi menjadi kelas untuk siswa usia 3 – 6 tahun, 6 – 9 tahun, dan 9 – 12 tahun(rentang usia siswa dalam sebuah kelas masing-masing 3 tahun). Tujuannya adalah agar siswa merasakan menjadi yang paling muda, ditengah, dan yang paling tua.Dengan begitu, setiap siswa memiliki pengalaman belajar bersama anak yang berbeda umur.Siswa yang tua ikut bertanggung jawab membimbing anak-anak yang lebih muda.Yang muda ikut belajar dari siswa yang lebih tua. Semua siswa akan punya pengalaman merasa pernah dipimpin dan juga merasa memimpin.
Di kelas Montessori, 80 % kegiatannya adalah belajar secara mandiri. Guru tidak mengajar di depan kelas seperti kelas lainnya. Biasanya di sekolah Montessori, kelas terdiri dari meja-meja.Siswa duduk di meja-meja tersebut belajar sesuatu tapi setiap meja (atau bahkan setiap siswa) bisa mempunya kegiatan yang berbeda-beda. Di satu meja seorang anak sedang menyusun jigsaw, tapi di meja lain mungkin ada anak yang belajar membaca (mirip seperti cerita Toto Chan : Gadis Cilik di Pinggir Jendela karya Tetsuko Kuroyanagi). Guru berkeliling dari satu meja ke meja yang lain, membimbing anak bila diperlukan. Meskipun ada sejumlah kegiatan belajar yang perlu dipelajari anak dalam sehari (misalnya membaca, berhitung, dan sebagainya), anak pun bisa memilih mau belajar apa terlebih dahulu. Setelah menyelesaikan satu kegiatan, anak bisa beralih mengerjakan kegiatan yang lain. Mau mengintip kelas Montessori? Bisa dilihat di sini :
Montessori memungkinkan setiap anak belajar secara mandiri karena biasanya sekolah-sekolah Montessori dilengkapi dengan berbagai alat bantu belajar (manipulatives) yang dirancang secara seksama sehingga memungkinkan anak belajar secara mandiri melalui berbagai kegiatan hands-on. Berbagai jigsaw, balok, dan alat bantu belajar lainnya disediakan bagi siswa.
Sebagai seorang pengajar matematika, saya sering merasa alat bantu belajar Montessori keren-keren karena memungkinkan anak belajar berbagai konsep matematika secara mandiri. Kadang saya terinspirasiuntuk mengadopsi beberapa alat bantu belajar yang digunakan disekolah Montessori dan membuat alat bantu belajar sendiri.
Metode dan berbagai alat bantu belajar Montessori memang menarik.Namun, bagi saya yang paling menarik adalah kisah dibalik berdirinya sekolah Montessori. Siapakah Maria Montessori? Apa yang membuatnya menemukan metode Montessori? Sekolah seperti apa yang dia dirikan? Untuk siapa sekolah tersebut didirikan?
Siapakah Maria Montessori?
Maria Montessori (1870 -1952) adalah seorang perempuan yang memiliki berbagai minat. Meskipun tidak disetujui ayahnya, pada usia 13 dia masuk sekolah kejuruan untuk belajar teknik. Setelah belajar teknik selama 7 tahun, minatnya mulai berubah.Montessori mulai tertarik pada ilmu kedokteran dan memilih untuk belajar psikiatri di University of Rome. Dia lulus dan menjadi perempuan pertama di Italia yang lulus dari sekolah kedokteran.
Pekerjaan pertama Montessori adalah mengurus anak-anak di sebuah rumah sakit jiwa (mental asylum). Di sana dia bertanggung jawab untuk mengurus kesehatan anak-anak yang memiliki keterbelakangan mental. Dia mengukur berat dan tinggi badan anak-anak tersebut dan memastikan bahwa mereka tercukupi kebutuhan gizinya.
Suatu siang, Montessori memperhatikan bahwa anak-anak sedang memainkan roti, yang seharusnya menjadi santapan makan siang.Mereka memainkan roti dengan menggulung-gulungnya (seperti anak memainkan lilin mainan/play dough).Muncullah gagasan, bahwa apabila anak-anak memiliki sesuatu untuk dimainkan (dimanipulasi) maka mereka bisa mengembangkan keterampilan (berpikirnya).
Dia pun mulai mengembangkan berbagai alat bantu belajar yang memungkinkan anak belajar secara mandiri. Sampai sekarang alat bantu belajar yang dikembangkan Montessori masih sering digunakan di berbagai sekolah (meskipun ada yang dimodifikasi). Pengalamannya belajar teknik memudahkannya dalam mendesain dan membuat berbagai alat bantu belajar. Montessori mengujicobakan alat-alat bantu belajar yang dibuatkan kepada anak-anak di rumah sakit jiwa tersebut. Ternyata anak-anak mengalami perkembangan dalam belajar.
seng-iseng Montessori mengikutsertakan beberapa anak-anak tersebut dalam ujian negara. Ternyata kemampuan anak-anak tersebut tak berbeda jauh, atau bahkan di atas anak-anak yang tidak memiliki kebutuhan khusus. “Kalau metode tersebut berhasil untuk anak-anak berkebutuhan khusus, bagaimana kalau diterapkan untuk anak-anak lain?” pikir Montessori.
Sekolah Montessori pertama di La Casa De Bambini, Roma,  Italia.
Pada awal abad  ke-20, La Casa De Bambini adalah salah satu daerah paling miskin dan kumuh di Roma, Italia. Dalam sebuah pidato DI Roma (1942), Montessori menggambarkan daerah tersebut sebagai daerah yang diabaikan. Ribuan orang yang tidak memiliki rumah tinggal diantara reruntuhan tembok yang ada di daerah sana. Orang-orang tersebut adalah para pengemis, dan juga para pelaku kriminal seperti perampok dan pembunuh. Suasana di sana tidak aman sehingga banyak orang yang takut mendekati daerah tersebut. Daerah tersebut dijuluki sebagai the shame of Italy (daerah Italia yang memalukan).
Di daerah yang terabaikan tersebut, pada 6 Januari 1907, Maria Montessori mendirikan sekolah Montessori yang pertama. Montessori percaya bahwa anak-anak di sekolah tersebut akan menjadi masa depan umat manusia.
Perkembangan Sekolah Montessori di Italia dan di Dunia
Pada mulanya pendirian sekolah Montessori didukung oleh Benito Mussolini, pemimpin di Italia pada saat itu. Benito Mussolini ikut mempromosikan sekolah Montessori sehingga tahun 1924 ada banyak sekolah Montesori di berbagai daerah di Italia. Juni 1926, Mussolini menyumbang 10,000 lire dari kantongnya sendiri untuk mendukung Komunitas Montessori di Italia. Montessori juga diberikan kebebasan untuk merancang dan membimbing program pelatihan guru di Milan. Selama 6 bulan guru-guru dilatih secara intensif untuk belajar mengenai metode Montessori.
Montessori mulai berkeliling dunia untuk memberikan beberapa kuliah sehingga metodenya mulai dikenal luas.Tahun 1915, misalnya Montessori diundang oleh Alexander Graham Bell, Thomas Edison untuk memberikan kuliah di Carnegie Hall.
Antara tahun 1920-1930 Montessori banyak melakukan tur untuk menyebarkan pandangannya. Meskipun metode Montessori mulai dikenal di berbagai negara khususnya di Eropa dan Amerika Serikat, di negara asalnya – Italia, metode Montessori mulai ditolak.
Mussolini mulai menyadari bahwa filosofi yang dipegang oleh Montessori bertentangan dengan pandangannya.Montessori percaya bahwa anak-anak harus belajar menjadi warga dunia.Anak-anak juga perlu diajak untu belajar berpikir bebas, menjadi mandiri, menjadi kreatif, hidup dalam harmoni, sekaligus mencintai kedamaian.
Mussolini sebaliknya, dia hanya ingin anak-anak Italia belajar mengenai Italia, dan bukan mengenai dunia.Tahun 1929 pemerintah Italia mulai melarang pendirian sekolah-sekolah Montesori mulai dilarang oleh pemerintah Italia. Tahun 1934 semua sekolah Montessori ditutup paksa oleh Mussolini.
Tahun 1936  Montessori pun meninggalkan Italia dan menetap di Belanda. Di Belanda beberapa metode Montessori diadopsi dan diintegrasikan di sistem sekolah publik. Di negara-negara lain, sekolah-sekolah Montessori mulai berkembang, termasuk di Indonesia.
Karena metode belajarnya yang memikat, beberapa orang tua yang mampu rela untuk membayar mahal untuk menyekolahkan anaknya di sekolah Montessori.Tapi sekolah Montessori sebenarnya bukansekadar mengenai metode belajar yang menarik.Di balik pendiriansekolah Montessori ada sejarah yang panjang. Sekolah tersebut awalnya  berkembang karenaperhatian Montessori pada semua anak-anak, khususnya mereka yang terbelakang secara mental dan juga kekurangan secara materi. Sekolah tersebut juga didasari oleh cita-cita Montessori mendidik anak-anak menjadi warga dunia.Pemimpin-pemimpin yang juga menciptakan perdamaian bagi seluruh umat manusia.