Tampilkan postingan dengan label Features. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Features. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Maret 2014

Visi & Misi Hidupku



Setiap manusia pasti ingin meraih kesuksesan atas apa yang diinginkan dan dijalankannya. Begitu juga saya yang ingin memiliki masa depan sukses. Kesuksesan yang saya impikan adalah bisa hidup mandiri, bermanfaat bagi orang lain serta membuat keluarga bahagia. Saya menyadari bahwa kesuksesan tersebut tak serta merta datang dengan sendirinya, karena kesuksesan adalah milik mereka yang percaya pada keindahan mimpi-mimpinya serta mau berjuang keras untuk meraihnya. Untuk mencapai sukses tersebut dibutuhkan visi sebagai tujuan hidup dan misi sebagai upaya untuk mencapai tujuan hidup.
Visi dalam hidup saya adalah menjadi sarjana lulusan ilmu psikologi. Karena menurut saya menempuh pendidikan ilmu psikologi memiliki banyak manfaat untuk diri sendiri dan tentunya untuk orang lain. Dengan ilmu psikologi saya bisa memahami lebih dalam bagaimana karakter seseorang dan mampu memberikan solusi dari suatu permasalahan. Selain itu saya juga menyukai dunia organisasi dan ilmu psikologi juga bermanfaat sekali untuk diterapkan dalam berorganisasi.
Untuk mencapai visi saya maka saya harus memiliki misi sebagai penggerak semangat saya untuk mencapai tujuan hidup. Yaitu dengan belajar sungguh-sungguh agar bisa lulus semua ujian-ujian yang akan saya hadapi untuk kelulusan kelas tiga ini dan salah satunya adalah ujian nasional, serta lolos seleksi penerimaan mahasiswa baru di salah satu universitas di Indonesia dengan berusaha untuk mendapatkan beasiswa karena saya termasuk dari golongan keluarga tidak mampu. Selain belajar saya juga harus rajin mengikuti kegiatan di luar sekolah. Dengan cara aktif mengikuti organisasi dan kegiatan-kegiatan sosial untuk mendapatkan banyak pengalaman dan teman. Tak lupa bahwa saya harus meningkatkan keimanan dan ketaqwaan dalam diri saya karena saya yakin bahwa untuk mencapai tujuan hidup, saya harus berusaha keras untuk meraihnya dan mengimbanginya dengan doa.

Jumat, 04 Oktober 2013

Lomba Blog dengan Tema Potensi Lokal Bojonegoro



Lantung di Barat Laut Bojonegoro
 
Bojonegoro terkenal apanya?
Pertanyaan tersebut diutarakan seorang Bapak yang menjadi pemandu kuis ketika dihelat Pentas Padang Bulan dan Deklarasi Komunitas Pegiat Kebangsaan Jawa Timur di Alun-Alun Bojonegoro beberapa bulan lalu.
Kontan saja saya menjawab Khayangan Api. Namun tampaknya Bapak tersebut kurang puas dengan jawaban saya, karena beliau memberi saya pertanyaan lagi. Dan Alhamdulillah untuk pertanyaan kedua beliau cukup puas dengan jawaban saya.
Usai acara, saya dan rombongan kembali ke Hotel Wisma Djaja, ddalam benak saya masih ada yang mengganjal dengan pertanyaan tadi. Setelah saya pikir-pikir, apa ya yang terkenal di Bojonegoro selain khayangan api. Setelah merenung cukup lama, baru saya teringat dengan 6 huruf yaitu MINYAK.
Bojonegoro konon menjadi sumber minyak terbesar di Asia Tenggara. Bagaimana bisa Bojonegoro kaya akan minyak? Minyak kan berasal dari tumbuhan dan hewan yang sudah mati beratus-ratus tahun yang lalu. Apalagi minyak banyak berasal dari fosil biota laut. Padahal Bojonegoro ada di tengah pulau.
Logikanya, Bojonegoro dulunya adalah wilayah perairan. Buktinya banyak ditemukan fosil binatang laut di Bojonegoro. Fosil tidak akan membatu setelah lama tependam di dalam tanah, tapi akan menjadi minyak.
Bojonegoro 10 tahun terakhir menjadi kabupaten  terkenal dan  incaran investor asing untuk mendirikan perusahaan yang akan mengambil dan mengolah minyak bumi. Dan pengambilan minyak bumi yang sering disebut pengeboran, sangat menarik minat orang lain untuk mempelajari atau sekedar mengetahui.
 Ketika dihelat Sarasehan Komunitas Kebangsaan Jawa Timur rombongan KPK berkesempatan untuk mengunjungi pengeboran minyak Petro Cina di daerah Sukowati dan Exxon Mobil di Desa Gayam Kecamatan Gayam.
Meskipun saya sudah berkali-kali mengunjungi kedua pengeboran tersebut, rasanya saya sangat bangga ketika dalam sebuah acara yang diadakan oleh Dinas Provinsi Jawa Timur yang mengajak sekitar 250 pelajar dari berbagai kabupaten dan kota yang masuk Bakorwil Bojonegoro untuk mengunjungi dan memperkenalkan potensi Bojonegoro. Sedikit cerita, ketika dihelat acara KPK di Bojonegoro, rombongan KPK diajak untuk mengunjungi khayangan api dan bertemu dengan juru kunci khayangan api dan sesepuh Warga Samin, yaitu Mbah Harjo kardi.
Potensi di Bojonegoro kini sudah mulai dieksplorasi lagi untuk bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai jual. Begitu juga dengan berdirinya dua perusahaan minyak yang cukup terkenal. Seperti Exxon Mobil yang menjadi perusahaan minyak bumi dan gas alam terpadu terbesar di dunia yang mengolah minyak mentah dari dalam bumi menjadi berbagi macam minyak sesuai kebutuhan masyarakat. Exxon Mobil sendiri sudah lebih dari 125 tahun menjadi perusahaan minyak dan petrokimia swasta terbesar di dunia yang mengolah minyak bumi menjadi gas LPG, minyak tanah, premium, pertamax, solar, aspal, avtur, gas hidrokarbon, bahan bakar industry, dan minyak pelumas.
            Sudah sering diperbincangkan dan dikenal masyarakat mengenai pengeboran minyak oleh dua perusahaan asing tersebut. Padahal, nun jauh dari kabupaten Bojonegoro, di sebuah desa yang cukup terpencil dan dikelilingi oleh lebatnya daun jati juga terdapat pengeboran minyak bumi. Desa tersebut bernama Wonocolo, letaknya di barat laut Bojonegoro, kondisi geologis tanahnya berbukit-bukit, gersang, warnanya coklat, dan tandus. Apalagi jika musim kemarau, panas matahari begitu menyengat ditambah pohon-pohon jati yang meranggas dan keadaan air bersih yang sulit didapatkan. Dan di Desa Wonocolo, rumah penduduk masih jarang. Ketika anda mengunjungi Desa Wonocolo, bukan udara segar hutan jati yang akan kita dapatkan sepenuhnya. Namun aroma minyak tanah dan solar.
Desa Wonocolo pernah menjadi Desa terkaya pada tahun 1979 yang memiliki balai Desa terindah se-Indonesia berkat tambang minyak tradisionalnya. Tambang minyak bumi yang mengalir di Wonocolo sudah lama dibor dan diolah. Namun hanya menjadi dua produk saja, yaitu bensin dan solar.
Tanah yang mengandung minyak hitam di Wonocolo disebut lantung oleh penduduk sekitar. Wonocolo artinya hutan obor. Karena pada zaman dulu, sebelum listrik masuk Desa, untuk menerangi gelapnya malam, penduduk mengambil lantung, kemudian diletakkan di batang bamboo dan disulut untuk menjadi obor.
Pengeboran minyak di Wonocolo masih sangat sederhana, orang-orang biasa menyebutnya tambang tradisional. Penduduk sekitar mengambil minyak yang ada di dalam perut bumi dengan alat-alat sederhana. Seperti timba, katrol, drum, pipa,  sumur buatan yang disebut sumur week, dll.
Dahulu, penduduk mengambil minyak dengan cara menarik timba beramai-ramai seperti menimba air dari sumur. Namun disini yang ditimba bukan air, melainkan minyak mentah yang ada di dalam tanah. dan sekarang tidak perlu repo repot lagi menimba dengan ramai-ramai. karena penduduk sudah menggunakan tenaga mesin. 
Minyak mentah tersebut bukan murni minyak, melainkan campuran dari lumpur, tanah, air, dan minyak. Untuk bisa menjadi bensin dan solar, tanahnya harus diedapkan, sedangkan campuran minyak-airnya harus direbus di dalam drum dengan kayu bakar yang diletakkan di terowongan tanah. Uap rebusan minyak dialirkan melalui pipa, setelah uap sampai di ujung pipa, uap akan mencair dan menetes sedikit demi sedikit. Tetesan tersebut yang menjadi bensin dan solar.
Sumur di daerah Wonocolo ada dua, bukan sumur yang diambil airnya untuk mandi atau memasak ya, melainkan sumur yang mengandung minyak bumi. Yaitu sumur angguk atau sumur modern dan sumur week atau sumur tradisional. Disebut sumur angguk karena pompa sumurnya mengangguk-angguk untuk mengangkat cairan minyak di perut bumi. Bunyi anggukan sumur modern cukup keras, seperti alunan music rock ditengah hutan. Sedangkan sumur tradisonal disebut sumur week karena mengeluarkan bunyi week week week saat akan menyemburkan minyak tanah.
Lantung yang artinya tanah berminyak, tak hanya terkenal di Desa Wonocolo saja. Di Desa Drenges Dusun Nglantung, tanah yang mengandung minyak juga ditemukan disana. Lantung di Dusun Nglanthung ada di sungai. Lantung menyembul ke permukaan air, secara kimiawi masa jenis air dan masa jenis minyak berbeda sehingga tak bisa bercampur. Namun, kandungan lantung di Desa Drenges tak sebanyak di Desa Wonocolo.
Dusun Nglanthung Desa Drenges Kecamatan Sugihwaras belum diekspos secara maksimal oleh media. Saya sering mengunjungi Kedung Lanthung atau biasa disebut Sungai Purba karena saya asli Desa Bareng yang yang jaraknya sekitar 2 km.
Nah, sudah tak asing lagi kan kalau Bojonegoro kaya akan minyak. Selain minyak, Bojonegoro juga memiliki potensi alam yang signifikan. Hasil bumi melimpah ruah di bumi Angling Dharma. Kang Yoto (Bupati Bojonegoro) bertekad menjadikan Bojonegoro menjadi lumbung pangan dan lumbung energi.  
Tentunya untuk menggapai apa yang dicita-citakan Kang Yoto demi kepentingan bersama harus didorong oleh semua pihak. Pemerintah harus mengoptimalkan pengelolaan potensi alam tersebut agar bisa menjadi daya tarik wisatawan sehingga bisa menambah pendapatan daerah.
Mungkin saja Bojonegoro kelak akan berubah menjadi kota besar. Di tahun 2013 saja banyak dibangun hotel berbintang dan pusat perbelanjaan besar. Bahkan sempat tersiar pemerintah juga akan merencanakan pembangunan bandar udara di daerah Bojonegoro selatan.
Pembangunan di sektor wisata harus terus ditingkatkan. Kelak ketika banyak WNA datang ke Bojonegoro, warga Bojonegoro tak hanya mengenalkan Waduk pacal, Khayangan Api, Salak Wedi, Ledre, Meubel Onix, dan Belimbing Ringinrejo saja.
Melainkan juga  bisa menyuguhkan mereka (wisatawan) untuk mengunjungi pengeboran minyak yang ada di Bojonegoro. Menjadikan Wonocolo sebagai obyek wisata berbasis education juga bisa dilakukan. Jika sekarang ini masyarakat hanya melihat pengeboran minyak tradisional saja, di Wonocolo hendaknya diberikan semacam education untuk pengunjung bagaimana minyak bumi berasal dan bagaimana pengolahannya. Mengajak pengunjung terjun langsung untuk mengebor minyak tradisional juga bisa dilakukan. Nuansa alami hutan tetap dibiarkan dan dilestarikan, namun akses transporatasi disana yang harus diperbaiki. Memang jalannya sudah bagus dan beraspal, namun kurang penerangan lampu ketika malam hari.
Bojonegoro juga dikenal sebagai kota Banjir. Tak mengherankan, karena di Bojonegoro melintas Sungai Bojonegoro. Andai saja ada Bengawan Solo Herritage. Seperti Sungai Cheonggyecheon di tengah kota Seoul Korea yang dimanfaatkan pemerintah Seoul menjadi obyek wisata. Sungai Bengawan Solo dirawat kebersihannya, jangan ada yang membuang sampah di pinggiran nggawan.
Mengadakan Bengawan Solo Herritage juga cukup signifikan. Karena di sepanjang bantaran sungai Bengawan Solo berdiri industry lokal. Seperti pembuatan tahu Ledok, Bendung gerak, Agrowisata Blimbing Kalitidu, dll. keberangkatan Bengawan Solo Herritage bisa dimulai dari TBS atau Taman Bengawan Solo yang disebut Griyo Sudro Kumpul, lalu wisatawan diajak menaiki perahu kayu. Ketika di perahu ada guide yang menceritakan tentang sejarah Bojonegoro serta potensi-potensi yang ada di Bojonegoro.
Nah, begitulah saran saya. Sehingga bisa menciptakan lapangan pekerjaan lagi untuk masyarakat sekitar Bojonegoro. Agar para pekerja yang menyediakan jasa perahu nambang tidak hilang. Karena saya membaca di Radar Bojonegoro bahwa Pemerintah Bojonegoro akan mendirikan beberapa jembatan penyeberangan di Bojonegoro agar akses menjadi lancar dan cepat.
Jika Bojonegoro sebelah utara berbatasan dengan sungai, maka Bojonegoro sebelah selatan dibatasi oleh pegunungan. Pegunungan kapur yang membentang di selatan Bojonegoro juga menjadi daya tarik tersendiri, di jejeran Pegunungan Kendheng bisa ditemui berbagi desa yang memiliki cerita asal usul yang cukup unik dan tentunya tak akan cukup saya tuliskan karen begitu banyak Desanya. Kenampakan alam di Pegunungan Kendheng menjadikan Bojonegoro tampak asri, adanya Waduk pacal di Kecamatan Temayang, air terjun kecil yang disebut Dung Gupit di Kecamatan Gondang, Bukit Prolo, Bukit Gong yang konon terdapat seperangkat gamelan kasat mata, atas angin yang terkenal di kalangan masyarakat Bojonegoro, dll.
Masih banyak potensi yang dimiliki Bojonegro, tentunya saya tak bisa menjelaskan satu persatu. Yang jelas Bojonegoro memiliki potensi lokal yang tak kalah hebatnya dengan kota lain. Mari bersama membangun Bojonegoro menjadi jaya, makmur, damai, sejahtera, asri dan indah. 

Wonocolo, bidikan kamera sahabat saya :






bidikan kamera saya :


SUMUR MODERN di WONOCOLO MILIK PERTAMINA


SUMUR TRADISIONAL di WONOCOLO MILIK PENDUDUK



  
PROSES PENGOLAHAN MINYAK METAH MENJADI BENSIN dan SOLAR


SOLAR PRODUK WONOCOLO

TUNGKU TANAH TEMPAT PEMBAKARAN MINYAK

PAPAN PERESMIAN BALAI DESA WONOCOLO

Kamis, 10 Januari 2013

Pria Perkasa yang Kupanggil Ayah



            Akan saya ceritakan pada kalian tentang sosok yang saya panggil Ayah. Sebelumnya perlu kalian ketahui bahwa semua identitas tentang beliau saya mendapatkannya dengan penuh pengorbanan. Bagaimana tidak? Demi mendapatkan informasi yang akurat tentang Ayah, saya harus mengacak-acak lemari Ibu untuk mencari dokumen mengenai beliau, termasuk ijasah sekolah, akta kelahiran, buku nikah, dll.
Mungkin ketika anda membaca paragraph pertama saya, anda berpikiran mengapa saya tidak bertanya langsung pada beliau. Terus terang saja, saya malu karena saya dan Ayah kurang dekat, bahkan kami sering cekcok. Ayah kerap memarahi saya tentang banyak kelalaian yang saya lakukan. Dan aneh saja ketika saya dengan tiba-tiba bertanya tentang identitas dan latar belakangnya, pasti Ayah akan memberondong saya dengan banyak pertanyaan dan saya pasti akan kebingungan menjawabnya, lagi pula saya malu jika harus bertanya-tanya. Namun kelak di suatu hari nanti, ketika saya sudah merasa mendapatkan momen yang pas untuk memberikan tulisan ini pada Ayah, pasti akan saya berikan. Hitung-hitung sebagai kejutan. Begitulah rencana saya.
Lalu, inilah data-data tentang Ayah yang saya dapatkan dari hasil mencuri-curi informasi dari dokumen yang ada di lemari Ibu.
43 Tahun lalu, disebuah rumah yang dikelilingi oleh rimbunnya pohon bamboo di Desa Kedaton Kecamatan Kapas Kabupaten Bojonegoro tepatnya pada 26 Januari 1969, nenek saya Almarhumah Erna Elisabeth melahirkan anak ketiganya yang diberi nama Joni Wuliyanto.
Ya, dialah Ayah saya. Sosok pria yang telah mepersunting Dwi Daryani yang saat ini bahkan sampai kapanpun tetap akan menjadi ibu saya, begitu juga dengan Ayah.  Pria yang saya panggil Ayah sejak kecil adalah sosok pria yang berpostur tubuh tinggi, agak gendut dengan kulit sawo matang dan rambutnnya sudah beruban.
Ayah selama 20 tahun hidup di Desa Kedaton bersama sanak keluarga dari kakek yang memang asli Kedaton, pada tahun 1989 kakek baru pindah ke Perumahan yang sekarang saya tinggali ini, tepatnya di Perumahan Griya Rajekwesi Indah Blok D-16 Desa Ngumpak Dalem Kecamatan Dander, orang-orang biasa menyebut perumahan ini dengan BTN. BTN dikenal sebagai tempat tinggal para pensiunan veteran dan kakek termasuk diantaranya.
Joni Wuliyanto tidak memiliki riwayat pendidikan khusus, tidak seperti kakek yang punya riwayat pendidikan khusus dan mempunyai kedudukan penting di Kepolisian Mojokerto. Joni berpendidikan biasa-biasa saja, yang jelas Joni menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Sekolah Teknik Menangah, atau biasa disebut STM dengan jurusan instalasi listrik dan lulus pada tahun 1989.  Setelah lulus, Joni bekerja menjadi kuli bangunan. Joni pernah nguli di daerah Bogor dan Jakarta. Joni tak bekerja di luar kota sendiri, melainkan bersama kakaknya yang bernama Wito yang merupakan pakdhe saya.
Setelah merasa memiliki pengalaman yang cukup sebagai kuli di luar kota, Joni pulang ke Bojonegoro dan mengikuti kursus bidang pengelasan di Balai Latihan Kerja depan perumahan BTN. Setelah kursus selesai, Joni melamar pekerjaan di PT Telkom Indonesia wilayah Bojonegoro, Joni diterima bekerja sebagai operator perbaikan telfon umum dan kabel listrik.
Pada November 1999, Joni mengikuti pendidikan Satpam selama sebulan, setelah Joni dinyatakan lulus pendidikan satpam baru Joni resmi diterima bekerja sebagai satpam di Kantor Telkom Bojonegoro dengan sistem kontrak. Dan Joni pun sampai saat ini masih bekerja sebagai satpam Telkom yang setiap dua tahun sekali harus memperbarui kontrak kerjanya. Riwayat tempat bekerjanya adalah sebagai berikut, sewaktu saya masih sekolah TK dan SD beliau nyatpam di Pos Catel dan STO Telkom. Hingga akhirnya 7 tahun lalu sampai sekarang Joni memilih menetap bekerja di Telkom Rengel Kabupaten Tuban, sekitar 1 jam perjalanan dari rumah tempat kami tinggal.
Ayah menyukai sekali dunia intsalasi listrik. Sewaktu Ayah dirumah dan tidak ada shift jaga pasti ada saja yang dikerjakan. Entah memperbaiki setrika, radio, kipas angin atau perabotan lainnya milik sendiri atau milik tetangga yang minta diperbaiki Ayah. Di samping ruang tamu terdapat ruangan berukuran 1x2 meter, dan disitulah Joni bergelut menghabiskan waktunya dirumah.
Joni adalah ayah terhebat, pemilik cinta yang tak terlupakan. Sosok pekerja keras, bekerja banting tulang siang dan malam untuk menghidupi keluarganya, yaitu seorang istri dan empat buah hatinya. Apalagi empat buah hatinya tengah mengenyam pendidikan semua, tak heran jika Ayah saya rela kerja sambilan di luar rumah untuk mendapat tambahan pendapatan demi kelangsungan biaya sekolah saya dan ketiga adik saya.
Ayah adalah seorang brikers. Saya menyebut alat yang sering digunakan Ayah dengan nama Brik, dan kegiatan yang dilakukan Ayah dengan sebutan Ngebrik. Lebih tepatnya brik itu seperti Handie Talkie atau HT. Namun menggunakan antenna yang terpasang seperti antenna TV, ada juga brik yang tidak menggunakan antenna. “kalau menggunakan antenna akan mendapatkan sinyal yang bening dan jangkauan komunikasi lebih luas “, terang Ayah dulu saat saya bertanya ketika Ayah turun dari atap genteng usai memperbaiki antenna yang berubah arah karena angin.
Dengan HT tersebut Ayah dapat berkomunikasi dengan teman-teman sesama pengguna brik. Meskipun terpisahkan jarak berpuluh-puluh hingga beratus-ratus kilometer berkomunikasi dengan brik bisa berjalan dengan lancar, sama halnya pengguna handphone yang harus menggunakan nomer, pengguna brik memiliki kode khusus, jadi untuk berkomunikasi dengan pengguna brik tersebut harus mengatur kodenya terlebih dahulu. Oh iya, kata yang sering digunakan Ayah untuk memanggil rekannya agar menyaut panggilan Ayah adalah “ kontek..kontek..kontek.. “. Dan saya, sewaktu kecil hobi sekali menggunakan brik itu sekenanya, iseng-iseng berkomunikasi dengan teman-teman Ayah.
Ayahku Joni, juga mempunyai kebiasaan unik, sedari kecil Ayah tidak bisa makan dengan cara muluk, pasti menggunakan sendok. Ayah juga hobi masak, utamanya masak rica-rica bebek dan sambal. Ayah menyukai sambal cemeding, cemeding itu daun ketela yang digoreng lalu dimakan dengan sambal. Saya, mencoba mengingat apa yang menjadi kebiasaan dan apa yang Ayah gemari. Kelak, ketika Ayah tua tentu saja gantian saya yang akan ngemong Ayah. Bukankah begitu?
Bersama Ayah, banyak sekali hal yang bisa saya ceritakan. Tentu saja berhubungan dengan dunia kerjanya. Ayah pernah ditugaskan selama setahun untuk menjaga tower dan pos Telkom di beberapa titik pegunungan dan tanjung laut. Dan itu berlangsung sewaktu saya masih TK nol kecil. Ayah pernah jaga di tempat yang disebut Tanjung Awar-Awar, Pegunungan Lei, di Merakurak, serta masih banyak lagi karena saya lupa. Ayah jaga menggunakan sistem shift bersama dua temannya. Yaitu seminggu jaga lalu dua minggu libur.
Saya sangat senang ketika Ayah mengajak saya dan ibuk pergi ke tempatnya jaga. Saya belum mempunyai adik saat itu, tentu saja perhatian orang tua saya masih terpusat untuk saya, masa-masa ketika saya bisa merasakan rasanya dimanja, rasanya diperhatikan sepenuhnya, berbeda dengan sekarang yang memiliki tiga adik, dua perempuan dan satu laki-laki.  Dan ketiga-tiganya sekarang tengah belajar di bangku sekolah dasar, terpaut cukup jauh dengan usia saya yang sekarang duduk di bangku menengah atas.
Secara tidak langsung sewaktu kecil Ayah telah mengajari rasanya hidup susah yang jauh dari hingar bingar perkotaan, tinggal disebuah tempat yang bisa disebut pos jaga yang jauh dari pemukiman penduduk dan berada di pengunungan atau tanjung laut Kabupaten Tuban. Ada cerita sewaktu saya kecil dan saya masih ingat dengan jelas. Waktu itu, saya masih TK dan pada suatu hari saya rewel hingga akhirnya tidak mau masuk sekolah. Saya ingin ikut Ayah jaga di Gunung Lei. Ulah nakal saya sebagai aksi bahwa saya benar-benar kecewa karena tidak diajak Ayah jaga dengan saya mencegah keberangkatan Ayah pagi itu, saya menangis kosel-kosel di ruang tamu dan 10 butir telur mentah yang harusnya dibawa Ayah untuk dijadikan bekal makanan disana saya ambil dari tasnya dan saya pecahkan kearah tembok lalu saya bawa lari sambil menangis.
Meskipun saya sudah menangis dan bertingkah seperti itu, tetap saja Ayah tak mengajak. Tapi di lain hari Ayah tetap mengajakku. Gunung Lei dan Merakurak sebenarnya adalah pegunungan kapur utara yang membentang di Kabupaten Tuban, Gunung Lei terdapat di Kecamatan Rengel dan Merakurak terdapat di Kecamatan Montong. Saya menikmati perjalanan bersama Ayah dan Ibu ke tempat itu, melewati banyak hutan yang masih lebat, dengan jurang yang sebenarnya tak terlalu dalam tapi menurut saya cukup menakutkan, jalanan yang naik turun, licin, dan belum berasaspal mulus seperti sekarang ini.
Di Merakurak saya dapat mandi air belerang bersama Ayah dan berkenalan dengan banyak tentara disana,  ketika hasrat ingin jajan dan ngelot sewaktu masih kecil muncul, saya pasti nggeriseni Ayah untuk turun dari pos dan mencari warung terdekat. 
Saat jaga di Tanjung Awar-Awar saya kembali menikmati kebersamaan rasanya dimanja oleh seorang Ayah, rasanya bermain dengan air laut, bersepeda sore-sore beli ikan di Brondong, bertemu para nelayan dan melihat perahu-perahu. Ya, setidaknnya saya pernah merasakan rasanya jadi anak gunung dan anak pinggir laut walau sebentar.
Joni, memberikan banyak kenangan dalam hidupku, mewarnai masa-masa kecilku dengan banyak petualangan. Ah, saya merindukan momen itu. Pergi bersama Ayah menemaninya jaga dengan mengendarai sepeda motor yang tempat bensinnya di depan dan menikmati suasana perjalanan bersama Ayah dan ibu. Itu dulu, 11 tahun yang lalu.
Sungguh. Ayah, ingin kusampaikan padamu bahwa saya benar-benar merindukan momen-momen itu. Tak terasa linangan airmata ini turun saat saya tulis cerita ini. Ayah, kau pria perkasa yang selalu melindungi dan menjaga saya hingga saya dewasa kini. Yang selalu marah ketika melihat saya jatuh sakit namun kau juga orang tercepat yang mencarikan pertolongan untuk saya saat sakit asma yang saya derita sejak lahir ini kambuh.
Ayah, sampai sekarang memang saya belum bisa membuatmu tersenyum bahagia. Tapi saya janji entah kapan itu, saya pasti bisa membuat Ibu dan Ayah bahagia. Saat saya menyandang gelar sarjana kelak atau saat saya sudah mendapat pekerjaan dan membiayai adik-adik, entah kapan itu, tapi saya berjanji.
Meski nilai raport saya selalu diatas rata-rata dan berhasil mendapat peringkat kelas atau pararel yang cukup memuaskan sewaktu SMP dan SMA,  tapi tetap saja saya tak bisa membuat Ayah tersenyum lega, karena saya tau dari raut wajahmu Yah, apa yang tengah bergejolak dalam hati dan pikiran Ayah. Ayah memang melihat semangat saya begitu membara untuk bersekolah, tapi dalam benak Ayah, Ayah kasihan kan pada saya, bingung dengan masa depan saya. Takut mengecewakan saya jika Ayah tak mampu membiayai pendidikan lanjut saya kelak.
Penghasilan yang pas-pasan dan harus menghidupi empat buah hatinya agar bisa menikmati pendidikan yang layak. Saya tau Yah pengorbananmu, yang kerap kali menerima tawaran kerja sambilan untuk menambah biaya sekolah saya, Dini, Dian dan Dika. Entah itu masang antenna, perbaikan listrik atau telpon rumah, ngecat, memperbaiki atap rumah bahkan sampai jadi kuli bangunan.
Ketika saya kembali merevisi tulisan ini sebelum naik cetak, air mata ini menetes kembali, banyak yang ingin kusampaikan pada Ayah sebenarnya, tapi saya malu. Tak rela menganggu waktu istirahat Ayah. Ayah yang pulang jaga dari kantor harus ke tokonya Papah untuk membantu Papah mencuci LPG, membersihakan kost-kostan, kulak’an barang-barang toko, nyaldo token dll. Oh ya, Papah itu orang yang selama ini telah banyak membiayai sekolah saya dan adik-adik saya. Jadi sebagai balas budi Ayah pada Papah, Ayah membantu Papah menangani toko dan dan menjaga serta merawat rumah kost milik Papah.
Saat musim hujan seperti ini, menjadi berkah tersendiri untuk Ayah. Banyak orang meminta bantuan pada Ayah untuk memperbaiki genting, plafon atau saluran rumah yang bocor. Upah senilai dua puluh ribu diterima Ayah dengan senang hati, kata Ayah cukuplah untuk jajan dan sangu sekolah saya dan adik-adik saya sehari. Menjelang lebaran juga menjadi kebahagiaan Ayah, banyak orang meminta bantuan Ayah untuk mengecat ata membersihkan rumah. Upah senilai empat puluh ribu perhari cukup untuk belanja ibuk kata Ayah.
Kerap kali Ayah berkeluh dengan dirinya sendiri ketika tengah bersantai, padahal saya tahu sebenarnya maksudnya. Ayah butuh teman bicara tapi saya malu mendekati Ayah. Permasalahannya, adik saya yang nomor dua namaya Dini. Semenjak TK sampai SD kelas 5 tinggal bersama nenek dari Ibuk di Desa Bareng Kecamatan Sugihwaras. Ayah, merasa bersalah dan kasihan pada Dini, dengan berat harus harus merelakan Dini berpisah dengan ibu dan saudara lainnya. Yang sering Ayah katakan begini “ Ya Allah nduk, ngeneki mbakmu Dini nang omah Bareng dewek an, sangu sekolah cuman sewu, kowe kabeh (Dian, Dika) disanguni rong ewu ae jek kurang, nek nang omah jek jaluk jajan meneh, mabkmu Dini lo nek bengi gak enek seng marai sinau, nek awan ditinggal ayi nok sawah terus.
Ayah selalu berbicara seperti itu ketika Dian dan Dika pada malam hari belajar di ruang tamu dan nggeriseni Ayah untuk membantu mengerjakan pe-er mereka. Ayah teringat pada anak keduanya, yang selalu dijemputnya saat hari Sabtu untuk dipertemukan dengan aku, ibuk, Dian dan Dika.
Ayah, kerap kali saya ceritakan padamu tentang mimpi-mimpi saya, cita-cita kemana saya ingin melajutkan sekolah usai SMA ini. Melanjutkan ke salah satu perguruan tinggi di Malang, meraih gelar sarjana strata satu, bekerja sebagai seorang guru bahkan ingin melanjutkan strata dua untuk menjadi seorang dosen. Tapi Ayah hanya mendesah panjang mendengar semua curhatanku. Dan Ayah selalu bilang “Adikmu jek akeh, jek butuh sekolah. Mbah kung mu saiki wes gaiso diarep-arep neh. Seng penting saiki sinau disek seng pinter, kuliah urusan ngguri.
Begitulah kata Ayah, dan  saya sangat menyesali diri saya karena telah gagal mendapatkan beasisiwa SMA Sampoerna Bogor akibat ketidak seriusan saya menjalani serangkaian test, padahal saya sudah berhasil lolos sampai test terakhir, dan anggapan Ayah pasti saya diterima, namun nyatanya tidak, sedikit terpukul perasaan Ayah karena pernah Ayah menyinggung saya soal itu.
Lewat tulisan ini, ingin rasanya saya ucapkan rasa penyesalan itu, rasa bersalah karena tak bisa membuat Ayah tersenyum bahagia, rasa bersalah atas sikap saya yang selalu menuntut Ayah memenuhi apa mau saya. Tapi saya sangat bahagia, memiliki Ayah bernama Joni Wuliyanto, sosok yang memiliki tekad keras dalam hidupnya, sosok pekerja keras yang tak patah semangat demi membuat keluarga kecilnya bahagia. Meskipun Ayah tidak bisa memberi apa yang saya mau, meski Ayah selalu memarahiku, meski Ayah tidak seperti Ayah-Ayah lain yang lebih dari Ayah, tapi Ayah tetap Ayahku. Tidak akan pernah terganti dan saya akan mencintai Ayah sampai kapanpun itu. Karna mencintaimu adalah perbuatan yang tidak akan pernah kusesali Yah.