Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Desember 2015

Program Mr.Jotas (Masyarakat Jonegoro Ramah terhadap Disabilitas)

Aku, sama halnya denganmu.
Diciptakan Tuhan dari segumpal darah
Kurang lebih sembilan bulan lamanya di rahim seorang Ibu
Dan dilahirkan dengan proses persalinan
Sama halnya denganmu bukan?
Kita sama, sama-sama manusia ciptaan Tuhan yang menapaki kehidupan
Namun aku tak bisa memungkiri jika aku dan kamu berbeda
Psikis dan fisikku yang lemah
Atau  fisikku yang tidak sempurna
Entah orang menganggapku apa,
Si lemah, si bodoh, si tak berdaya atau entah sebutan buruk lainnya
Tapi aku adalah manusia yang juga butuh perhatian
Aku butuh kehidupan yang layak dan mampu dimengerti semua orang
Bukan diabaikan atau disingkirkan
Aku punya cinta, aku punya cita-cita, dan aku punya kehidupan
Kita sama.
Sama-sama mahkluk Tuhan yang menapaki kehidupan
                                                                             

Manusia pada dasarnya diciptakan oleh Tuhan sama, berasal dari segumpal darah, menjadi janin, hingga lahir dan menjalani kehidupan dari bayi hingga lansia.  Dan Tuhan membekali manusia dengan akal budi dan hati nurani serta bentuk tubuh yang sempurna untuk menjalani kehidupan. Namun, bagaimana jika terdapat manusia ciptaan Tuhan yang sacara psikis dan fisik mengalami keterbatasan? Tentu saja sebagai manusia yang berhati nurani, tindakan yang dilakukan bukanlah memberikan label buruk atau bersikap acuh kepada mereka, manusa berkebutuhan khusus yang disbeut disabilitas. Hal yang perlu dilakukan adalah menumbuhkan jiwa sosial dengan memahami keterbatasan kaum disabilitas dengan berupaya memperlakukan sebaik mungkin, membantu apa yang diperlukan selagi bisa membantu dan bersama-sama dengan pemerintah berupaya memberikan fasilitas sebaik mungkin untuk semua golongan masyarakatnya.  
Kepedulian terhadap kaum penyandang disabilitas sangatlah diperlukan, kaum disabilitas membutuhkan perhatian khusus untuk menjalani kehidupan sehari-harinya dengan bantuan orang lain karena keterbatasan kondisi fisik yang dimiliki. Disabilitas menurut WHO berarti suatu ketidakmampuan melaksanakan suatu aktifitas atau kegiatan tertentu sebagaimana layaknya orang normal, yang disebabkan oleh kondisi kehilangan atau ketidakmampuan baik psikologis, fisiologis maupun kelainan struktur atau fungsi anatomis. Oleh karena itu tidak mengherankan jika kaum disabilitas berhak mendapat perhatian khusus oleh lingkungan sosialnya agar bisa menjalani kehidupan selayaknya orang normal.
International Labour Organization (ILO) mengungkapkan bahwa fakta global mengenai penyandang disabilitas saat ini adalah sekitar 82% dari penyandang disabilitas berada di negara-negara berkembang dan hidup di bawah garis kemiskinan dan kerap kali menghadapi keterbatasan akses atas kesehatan, pendidikan, pelatihan dan pekerjaan yang layak; para penyandang disabilitas kerap kali terkucil dari pendidikan, pelatihan kejuruan dan peluang kerja; lebih dari 90% anak-anak disabilitas di negara-negara berkembang tidak bersekolah (UNESCO) sementara hanya 1% perempuan disabilitas yang bisa membaca (UNDP).
Salah satu bentuk kepedulian dan perhatian terhadap kaum disabilitas yang dilakukan oleh Kabupaten Bojonegoro adalah dengan diprogramkannya pendidikan inklusif. Kurang lebih hampir dua tahun yang lalu tepatnya pada 14 Desember 2013, kabupaten Bojonegoro mendeklarasikan diri sebagai salah satu kabupaten pelopor pendidikan inklusif di Indonesia. Dengan antusias, Bapak Bupati Suyoto saat upacara deklarasi di alun-alun pada waktu itu mengatakan bahwa pendidikan tidak harus diskriminasi dan harus mampu mengakomodir pluralitas baik  masalah sosial maupun fisik, sekolah menjadi tempat untuk mendapatkan pengetahuan dimanapun berada tanpa memandang bentuk fisik, oleh karena itu kita harus bisa menerima keberadaan dan kehadiran mereka yang memiliki kebutuhan khusus dengan baik, karena ini merupakan bentuk kebhinekaan.
Berdasarkan informasi dari Humas dan Protokol kabupaten Bojonegoro yang dilansir suarabanyuurip.com 14 Desember 2013, dari jumlah penduduk di Bojonegoro terdapat 430.313 anak-anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusif dan Sekolah Luar Biasa (SLB). Sementara untuk jenjang SD sebanyak 244 anak yang terbagi 6 penderita. Yakni tuna netra, 5 penderita tuna rungu dan tuna wicara, 82 penderita tuna grahita, masing-masing 5 anak penderita tuna daksa dan tuna laras, 2 anak memiliki bakat istimewa dan 134 anak cerdas istimewa. Berdasarkan data tersebut, masyarakat harus sadar bahwa jumlah kaum disabilitas di Bojonegoro jumlahnya cukup banyak dengan berbagai macam jenis ketidakmampuan yang berbeda-beda. Dan tentu saja jumlahnya di tahun 2015 kemungkinan bisa saja meningkat seiring dengan angka kelahiran bayi atau angka kecelakaan yang mengakibatkan cacat fisik yang terjadi dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini.
Pendidikan inklusif bertujuan untuk mempermudah kaum disabilitas dalam menempuh pendidikan di sekolah umum agar bisa mendapatkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang memadai untuk masuk dalam dunia pekerjaan. Bentuk kepedulian terhadap kaum disabilitas harapannya tak hanya pada aspek pendidikan saja, namun juga pada aspek kehidupan bermasyarakat yang artinya lingkungan sosial. Banyak teori-teori psikologi yang menyebutkan bahwa lingkungan memegang peranan penting dalam perkembangan hidup manusia. Selain faktor genetik, faktor lingkungan akan mempengaruhi perkembangan fisik, kognitif, emosi dan sosial. Kaum disabilitas sama halnya dengan manusia normal lainnya yang harus menjalani kehidupan, menempuh pendidikan, melakukan interaksi sosial, keinginan untuk berkeluarga dan memiliki keturunan, keinginan untuk bekerja, keinginan untuk menikmati fasilitas-fasilitas umum yang disediakan untuk mayarakat, dan keinginan lainnya yang sama dengan orang normal. Namun bagi kaum disabilitas keinginan-keinginan tersebut bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan kerena kaum disabilitas memiliki keterbatasan dan kurangnya rasa percaya diri.
Pemerintah Bojonegoro sudah berupaya memberikan akses semaksimal mungkin agar masyarakatnya yang berkebutuhan khusus mendapatkan hak yang sama dengan memberikan pendampingan bagi kaum disabilitas, memberikan pelatihan guru untuk menangani peserta didik yang berkebutuhan khusus, memberikan pelatihan keterampilan, dll. Selain pemerintah, masyarakat Bojonegoro berkewajiban untuk turut serta berperan memperjuangkan hak-hak kaum disabilitas agar kaum disabilitas mendapatkan haknya. Masyarakat Bojonegoro harus memiliki jiwa sosial dan peka terhadap kondisi di masyarakat agar mau ringan tangan untuk memberikan pelayanan bagi kaum disabilitas. Hal tersebut perlu dilakukan agar di kabupaten Bojonegoro tercipta suatu kondisi dimana masyarakat Bojonegoro ramah dan peduli terhadap kaum disabilitas. Pada Pemilu legislatif tahun 2014 lalu, diberitakan di blokBojonegoro.com bahwa pemilih disabilitas dalam Pileg kurang mendapat perlakuan khusus dari KPU Bojonegoro dalam proses pemilihan suara. Pemilih disabilitas kurang bisa berperan dalam pencoblosan karena fasilitas yang kurang memadai. Dalam kasus tersebut KPU menjelaskan bahwa memang tidak ada Tempat Pemungutan Suara (TPS) khusus dan suarat suara khusus karena tidak diatur dalam undang-undang.
Oleh karena itu, untuk meminimalisir munculnya kasus-kasus lain yang bisa mendiskriminatifkan kaum disabilitas atau tidak terpenuhinya hak-hak kaum disabilitas. Maka harapannya pemerintah dan masyarakat harus bersatu menciptakan suatu kondisi yang ramah dan peduli terhadap kaum disabilitas karena kaum disabilitas adalah bagian dari sumberdaya manusia yang dimiliki Bojonegoro yang juga harus diberdayakan agar memiliki kualitas hidup yang baik.
Lalu bagaimana caranya menciptakan masyarakat yang ramah terhadap disabilitas?
Program Mr. Jotas (Mayarakat Bojonegoro Ramah terhadap Disabilitas) merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk menciptakan suatu kondisi masyarakat yang ramah terhadap disabilitas. Program Mr. Jotas bertujuan untuk menumbuhkan semangat masyarakat untuk peduli terhadap kaum disabilitas. Dengan masyarakat yang peduli dan ramah terhadap kaum disabilitas, maka dampaknya adalah tercapainya tujuan pemerintah yaitu kabupaten dengan pendidikan inklusif, selain itu dengan masyarakat yang ramah dan memahami keterbatasan kaum disabilitas, maka kaum disabilitas memiliki kepercayaan diri untuk dapat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Program-program Mr. Jotas adalah berikut :
Pertama, untuk meningkatkan sikap ramah terhadap kaum disabilitas adalah dengan mengkampanyekan sikap NO LABELING terhadap kaum disabilitas. Fenomena di sekitar ketika ada anak di sekolah yang susah diatur dan hiperaktif, orang langsung memberi label anak tersebut dengan anak autis. Padahal bisa jadi anak tersebut bukanlah anak autis tapi anak tersebut memiliki gaya belajar yang berbeda yaitu gaya belajar kinsetetik sehingga sulit untuk duduk diam mendengarkan. Selain itu ketika ada anak yang secara fisik memiliki keterbatasan jangan memberikan sikap kasar atau mengejek. Misalnya dengan menyebut orang tuna rungu sebagai wong budeg, atau sikap memberikan label yang lain. Dalam ilmu psikologi, tindakan pemberian label tersebut sangat tidak diperbolehkan karena akan mempengaruhi konsep diri dan interaksi sosial anak disbailitas. Mengkampanyekan sikap NO LABELING bisa dilakukan dengan atribut seperti tulisan di baner, spanduk, baliho dll di tempat-tempat umum yang bisa dibaca oleh masyarakat atau mensosialisasikan lewat siaran radio, siaran tv lokal, koran atau media massa yang lain. Bahkan kalau perlu ada sosialisasi oleh pihak-pihak terkait yang langsung berhadapan dengan masyarakat untuk memberikan pemahaman.
Kedua, dibentuknya komunitas relawan peduli disabilitas. Relawan-relawan ini nantinya akan menyelenggarakan serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menunjukkan kepedulian masyarakat Bojoengoro terhadap kaum disabilitas. Relawan ini mampu menjadi akomodir atas potensi-potensi yang dimilik kaum disabilitas agar kaum disabilitas memiliki kepercayaan diri yang kuat, bisa turut serta andil dalam serangkaian kegiatan yang diadakan pemkab seperti agustusan, peringatan HUT Bojonegoro, dll. Harapanya saat peringatan acara tersebut, kaum disabilitas yang memiliki potensi di bidang seni aau yang lainnya dapat diikutsertakan dan tentu saja dengan didampingi oleh relawan-relawan ini. Acara-acara yang bisa dilakukan untuk menunjukkan kepedulian terhadap kaum disabilitas banyak. Misalnya, mengadakan acara check kesehatan gratis secara berkala untuk memberikan fasilitas kesehatan bagi kaum disabilitas; Bekerjasama dengan Kelas Inspirasi Bojonegoro untuk memberikan motivasi dan pendidikan bagi SLB-SLB: Bekerjasama dengan RTIK untuk mendampingi kaum disabilitas dalam memahami teknologi karena sekarang ini banyak teknlogi-teknologi yang diperuntukkan untuk kaum disabilitas misalnya, aplikasi JAWS untuk tuna netra, dll: Mengadakan acara jelajah Bojonegoro bagi kaum disabilitas dengan acara mengajak kaum disabilitas untuk mengunjungi potensi alam di Bojonegoro karena kaum disabilitas tentu saja ingin menikmati kekeyaan alam Bojonegoro tapi sulit untuk melakukan eksplorasi karena keterbatasan yang dimiliki; Membentuk Disability Service Centre yaitu posko yang dapat dijadikan wadah bagi kaum disabilitas untuk sharing. Relawan-relawan ini akan dibekali dengan pemahaman mengenai bagaimana menangani kaum disabilitas. Misalnya kemampuan untuk memahami isyarat SIBI bagi tuna wicara, kemampuan untuk memberikan pendampingan bagi tuna netra dengan berlatih huruf braile dan sistem aplikasi JAWS dan kemampuan lainnya yang mana pelatihan ini diselenggarakan oleh pemerintah untuk mayarakat awam yang tertarik untuk menjadi ralawan dan pendamping bagi kaum disabilitas.
Ketiga, membentuk ruang publik ramah disabilitas. Harapannya pemerintah dapat menyediakan fasilitas, rambu-rambu untuk mempermudah kaum disabilitas untuk menikmati fasilitas umum. Sebagai contoh, alun-alun Bojonegoro menjadi tempat favorit bagi masyarakat untuk refreshing, olahraga, menikmati akses wifi, dll. Alangkah lebih baik jika di alun-alun dipasang rambu-rambu untuk memudahkan kaum disabilitas agar bisa menikmati fasilitas umum. Hal ini ini jarang ditemukan di daerah lain. Ide lain, bekas terminal di daerah Jetak yang sedang dalam proses pembangunan untuk dijadikan taman, lebih baik jika dalam taman tersebut pemerintah menambahkan bangunan infrastruktur dan rambu-rambu bagi kaum disabilitas sehingga kaum disabilitas bisa bermain dan menikmati taman tersebut. Ruang publik ramah disabilitas lainnya misalnya di masjid-masjid besar, swalayan besar, kantor-kantor pemerintahan, dll disediakan kursi roda bagi cacat fisik dan lansia, pemasangan huruf braile, rambu-rambu penolong, dll.
Keempat, pemerintah bekerjasama dengan dinas sosial memberikan pelatihan keterampilan bagi kaum disabilitas agar kaum disabilitas memiliki softskill dan mendapatkan lapangan pekerjaan. Kalau perlu pemerintah juga memberikan jaminan penempatan kerja bagi kaum disabilitas yang mengikuti pelatihan tersebut. Perusahaan atau lembaga di Bojonegoro harapannya dapat menerima kayawan yang memiliki kebutuhan khusus. International Labour Organization (ILO) mengungkakan bahwa mengucilkan penyandang disabilitas dari angkatan kerja mengakibatkan kehilangan PDB sebesar 3 hingga 7 persen. Dengan memberikan keterampilan dan penempatan kerja bagi kaum disabilitas diharapkan mampu mengentas kemiskinan yang dialami oleh sebagian besar penyandang disabilitas. Masyarakat harus mengubah mindset terhadap penyandang disabilitas yang dianggap sebagai manusia tak berdaya dan tak bisa berbuat apa-apa.
Tak hanya keempat ide dalam program Mr. Jotas yang dijelaskan diatas, masih banyak cara yang bisa dilakukan untuk menciptakan kepedulian masyarakat yang ramah terhadap kaum disabilitas. Yang terpenting dan menjadi langkah utama yang harus dilakukan adalah dnegan mengkampanyekan pada masyarakat sikap ramah dan peduli disabilitas. Jika kegiatan yang dikemas dalam program Mr. Jotas terwujud, berarti masyarakat Bojonegoro bisa dikatakan mampu menjadi masyarakat dunia yang berperan aktif dalam pelaksanaan Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas yang tertuang dalam UU No. 19 tahun 2011. Bojonegoro dapat menjadi kabupaten pelopor ruang publik ramah disabilitas dan masyarakatnya yang ramah terhadap kaum disabilitas, hal ini dapat memperkuat citra diri Bojonegoro yang mendeklarasikan diri sebagai kabupaten pendidikan inklusif.



Ingat, sebaik-baik manusia ialah manusia yang bermanfaat bagi orang lain.


Late post,
Terimakasih Panitia BYS, Kabupaten Bojonegoro, akhirnya tulisan ini lolos 50 besar tulisan di Bojonegoro Youth Summith 2015, yang dilaksanakan pada hari Minggu,  1 November 2015 pukul 07.30 WIB – 14.00 WIB, di Gedung Angling Dharma, Pendopo Kab. Bojonegoro. BYS 2015 adalah sebuah program interaktif dan inspiratif yang mempertemukan para Pemuda TERPILIH Bojonegoro dan Perwakilan dari Pemerintah untuk berkumpul (Gather), berbagi ide / gagasan inovatif (Share), merencanakan program (Plan), dan diharapkan mampu merealisasikan program melalui sebuah Social Project (Action).







Sabtu, 01 November 2014

Kebijakan Kuliah Lima Tahun bagi Pendidikan Tinggi di Indonesia



Meskipun kuliah lima tahun akan diberlakukan efektif dua tahun lagi, namun pada kenyataannya kini sudah menuai banyak respon kritis dari masyarakat khususnya mahasiswa. Ada pihak yang pro dengan kuliah lima tahun dan adapula yang kontra. Diberlakukannya peraturan baru mengenai masa kuliah lima tahun tetntunya memiliki banyak pertimbangan. Kuliah lima tahun dinilai mampu menekan biaya operasional pendidikan perguruan tinggi. Selain itu kuliah lima tahun sebenarnya mampu memberikan motivasi untuk para mahasiswa agar bisa secepat dan sebaik mungkin menyelesaikan pendidikan tinggi sesuai waktu yang ditentukan. Yaitu untuk strata satu yang ditempuh selama empat tahun atau delapan semester dan pendidikan diploma yang ditempuh satu hingga empat tahun sesuai jenjang diploma.
Kuliah lima tahun mampu menekan jumlah pengangguran di Indonesia. Karena banyak lulusan SMA yang tidak lolos masuk perguruan tinggi dan tidak mendapatkan pekerjaan akan menganggur. Namun jika kuliah lima tahun bisa diberlakukan secara efektif maka akan semakin banyak kuota penerimaan mahasiswa baru yang bisa diterima di perguruan tinggi karena mahasiswa banyak yang lulus sesuai masa kuliah yang ditentukan.
Kuliah lima tahun seharusnya tidak membebankan mahasiswa. Karena rata-rata mahasiswa Indonesia mampu menyelesaikan masa studi untuk strata satus ekitar 4.5 tahun. Namun disisi lain, kuliah lima tahun dinilai mematikan aksi aktifisme mahasiswa. Kondisi di lapangan banyak mahasiswa yang menggeluti dunia organisasi, banyak mahasiswa yang aktif dalam dunia social di luar jam kuliah. Dengan diberlakukannya kuliah lima tahun dianggap menurunkan semangat kepedulian sosial mahasiswa karena mahasiswa akan cenderung memfokuskan pada prestasi akademiknya saja.
Permasalahan banyaknya mahasiswa yang molor masa studinya dari waktu yang ditentukan disebabkan oleh banyak faktor seperti mahasiswa yang kuliah sambil bekerja hingga jam kuliahnya terganggu dan kurang bisa mengikuti kuliah dengan baik maka harus mengulang lagi di semester selanjutnya. Ada lagi mahasiswa yang terlalu aktif pada dunia sosial organisasi di luar kuliah sehingga kegiatan sosialnya mengganggu waktu kuliahnya dan menyebabkan prestasi akademiknya kurang terkejar dengan baik. Masih ada lagi contoh mahasiswa yang molor masa studinya karena mengambil cuti entah karena perkawinan yang menyebabkan kehamilan, dll.
Kebijakan kuliah lima tahun dinilai juga merugikan PTS-PTS di Indonesia. PTS menilai bahwa kebijakan kuliah lima tahun memberatkan bagi PTS karena kemampuan mahasiswa yang menempuh pendidikan tinggi di PTS tidak sebaik di PTN. Terbukti bahwa penyaringan mahasiswa baru di PTN lebih ketat dan diseleksi dengan baik dibandingkan di PTS yang dianggap sebagai tempat terakhir untuk kuliah karena tidak diterima di PTN. PTS selama ini berjuang secara mandiri untuk meningkatkan prestasinya di mata masyarakat, PTS juga tidak banyak menerima bantuan operasional dari pemerintah, berbeda dengan PTN lebih intensif dan banyak menerima bantuan operasional dari pemerintah untuk mengembangkan fasilitas dan sumber dayanya.
Oleh karena itu, kebijakan kuliah lima tahun yang akan berlaku efektif dua tahun lagi ini harus kembali dipertimbangkan dengan baik tanpa mementingkan PTN dan menegsampingkan PTS. Karena baik PTN maupun PTS memberikan kontribusi untuk pendidikan di Indonesia.

Sabtu, 22 Maret 2014

Hujan Beasiswa di Negeri Sendiri


Dalam dunia pendidikan dimana ada kemauan belajar pasti ada jalan untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Termasuk jalan untuk mendapatkan beasiswa bagi siswa yang kurang mampu anmun memiliki semangat belajar tinggi. Di Indonesia sendiri banyak tersedia beasiswa untuk jenjang SD hingga perguruan tinggi asal siswa mau mencari informasi.
Kemajuan teknologi internet telah mempermudah manusia untuk mencari informasi. Termasuk informasi mengenai beasiswa. Ada banyak situs resmi pemberi beasiswa seperti beasiswaunggulan.dikti.go.id, infobeasiswa.com, beasiswaterbaru.com atau dalam akun groups yahoo di yahoogroups.com. Dan ada sekitar 558 milis yang memuat tantang informasi beasiswa.
Selain informasi beasiswa di internet karena banyak media cetak yang memberikan sumber informasi seperti  Kompas, Republika, The Jakarta Post, Tempo atau Femina. Ada juga informasi beasiwa melalui selebaran yang dibagikan atau melalui pameran pendidikan. Siswa tinggal memilih dan membandingkan beasiswa satu dengan beasiswa yang lainnya.
Berikut adalah contoh lembaga-lembaga yang menyediakan beasiswa untuk anak Indonesia :
1.       Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GN-OTA) yang berdiri sejak 1996 ini merupakan media penyalur beasiswa lewat sekolah yang berkoordinasi dengan komite sekolah. GN-OTA menyalurkan beasiswa mulai dari SD, SMP dan SMA.
2.       Yayasan Amal Abadi Beasiswa Orang Tua Pembimbingan Terpadu (YAAB ORBIT) menyediakan beasiswa bagi siswa yang duduk di kelas 2 dan 3 SMU/SMK yang pengajuannya dilakukan bulan April – Juni dengan kantor yang beralamat di Gedung The Habibie Center Lt. 1 Jl. Kemang Selatan 98 Jakarta
3.       Sampoerna Foundation yang beralamat di Sampoerna Strategis Square Tower A Lt. 26 Jl. Jend Sudirman Kav. 45 Jakarta 12930 bekerjasama dengan Depdiknas menyediakan beasiswa untuk ejnjang SMU?SMK sejumlah 3000 anak dan jenjang SD SMP sejumlah 1000 beasiswa.
4.       Astro ASih yang merupakan cabang dari Astro TV juga menyediakan beasiswa untuk 40 mahasiswa jenjang S1 di bidang ekonomi dan teknik terapan di 7 perguruan tinggi negeri.
5.       Tanoto Foundation yang merupakan produsen Kacang Garuda sejak tahun 2005 menyediakan 3000 beasiswa untuk jenjang S1 dan 50 beasiswa untuk jenjang S2.
Beasiswa tak membedakan suku, ras, agama dan fisik. Namun beasiswa memeprtimbangankan bagaimana prestasi akademik yang dimiliki. Untuk mendapatkan beasiswa di perguruan tinggi memang disyaratkan diterima dulu di perguruan tinggi yang disarankan. Setelah diterima baru bisa mengajukan beasiswa. Setelah mendapatkan beasiswa nilai-nilai harus dipertahankan agar tidak turun atau dibawah nilai minimal yang telah ditentukan.
Banyak orang yang kurang mampu meraih gelar sarjana, master dan doktor serta dokter berkat beasiswa. Jika orang lain bisa, mengapa saya tidak. Maka, saya harus bisa!

Jumat, 27 Januari 2012

Manfaat Konten Lokal

                                           

Apa sih konten lokal itu???

Kita sering menyebutnya konten lokal Indonesia. Tapi untuk memahami lebih lanjut mungkin tidak terlintas dibenak anda. Nah melalui artikel ini saya memberanikan diri untuk mengikuti “Lomba SEMI SEO XLalu Cinta Indonesia”, agar apa yang berada di benak saya mengenai apa itu konten lokal bisa tersalurkan kepada masyarakat Indonesia khususnya. Agar masyarakat bisa mengetahui bagaimana pengaruh dan manfaatnya.

Berbicara mengenai konten lokal, sebelum membahas lebih lanjut seperti apa sih konten lokal itu, yuk kita ulas apa pengertian dari konten lokal. Memang belum ada secara pasti arti tentang konten lokal tetapi dapat disimpulkan bahwa konten lokal adalah semua informasi yang dapat disalurkan melalui media cetak ataupun media elektronik baik berupa software, hardware, video, gambar, text, film, permainan, mainan, aplikasi dan sebagainya yang merupakan hasil karya anak dalam negeri (masyarkat lokal).

Mengapa harus mendukung konten lokal???

Sedikit paham kan mengenai apa itu konten lokal. Nah sebagai masyarakat asli dalam negeri, sudah sewajarnya mendukung dengan adanya konten lokal. Meskipun tidak bisa ikut berkarya seperti penggagas berbagai macam konten lokal itu, setidaknya itung-itung ikut berpartisipasi dengan menggunakannya secara baik dan menjaga keasliannya agar tidak tergerus oleh arus globalisasi. Supaya karya anak dalam negeri bisa menjadi citra kebudayaan asli bangsa kita yang dapat di banggakan dan dipamerkan di dunia internasional. Sehingga Indonesia tidak harus dikatakan sebagai negara yang bergantung kepada negara lain yang negara lain itu bisa menciptakan produk-produk yang multiguna dan Indonesia hanya berperan sebagai konsumennya saja. Jika hal tersebut dibiarkan terus-terusan Indonesia tidak akan pernah bisa bangkit dari keterbelakangan. Untungnya masih banyak anak Indonesia yang mempunyai ide-ide cemerlang sehingga bisa menciptakan berbagai macam konten lokal (terimakasih buat para penggangas konten lokal yang telah ada sekarang ini. Yang telah turut serta mewarnai dunia telekomunikasi dan komunikasi sehingga kebutuhan masyarakat akan tehnologi mudah untuk terpenuhi. Khususnya PT.XL Axiata yang sepenuhnya telah berperan aktif dalam dunia tentang konten lokal).Buktinya, dengan adanya berbagai macam konten lokal baik yang disediakan oleh PT.XL Axiata atau lainnya seperti dalam bentuk software yaitu antivirus smadav yang digagas oleh Zainuddin Nafarin, hadware yaitu laptop karya anak SMK yang disebut laptop mogen, tehnologi transportasi karya anak SMK yang disebut mobil esemka, film yang bersifat edukasi seperti King, hiburan dalam bentuk permainan dan mainan tradisional ataupun modern, aplikasi penulisan huruf bahasa jawa, tehnologi percetakan melalui komputer untuk membuat batik dll. Sehingga kebutuhan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya dapat terlaksana dengan mudah, murah, cepat, dan efisien kan?

Yaps, Sekedar uraian tersebut yang bisa saya ungkapkan mengapa kita harus mendukung adanya konten lokal. Intinya konten lokal itu harus dimanfaatkan dengan baik dan dijaga dengan baik agar tetap asli dan dapat menjadi citra kebudayaan negara Indonesia karena hal tersebut merupakan hasil karya asli dari buah pemikiran anak dalam negeri.

Apa konten lokal yang seharusnya dibutuhkan masyarakat???

Disini saya akan mengulas salah satu konten lokal yang menurut saya seharusnya diperlukan oleh masyarakat Indonesia, yaitu permainan dan mainan tradisional yang semakin lama keberadaanya sulit untuk ditemukan lagi. Karena banyaknya game on-line atau sejenisya (seperti PS, game HP, dsb). Tahukah anda apa itu permainan dan mainan tradisional?? Permainan dan mainan tradisional adalah permainan yang cara bermainnya masih bersifat tradisional (sederhana) dan merupakan permainan yang sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu sebelum adanya perkembangan alat-alat tehnologi, jadi tak ada sentuhan tehnologi sedikitpun dalam bermainnya.

Mengapa saya memilih membicarakan mengenai permainan tradisional???

Karena Indonesia ini kaya akan kebudayaan, dan setiap daerah mempunyai ciri khas budaya sendiri. Dan diharapkan dengan adanya permainan dan mainan tradisional ciri khas dari masing-masing daerah itu dapat ditunjukkan. Contoh, permainan tradisional adalah permainan ini secara umum disebut petak umpet. Dengan sistem permainan yaitu satu anak yang dianggap kalah saat hompimpa harus memejamkan mata dan menghadap tembok dengan menghitung angka 1-20, sedangkan teman yang lainnya bersembunyi, setelah hitungan selesai anak yang memejamkan mata harus mencari teman-temannya yang bersembunyi. Tempat yang digunakan untuk memejamkan mata biasa disebut benteng. Tapi didaerah Jakarta disebut inglo, dan didaerah lain ada yang menyebutnya hon atau bon. Sedangkan contoh mainan tradisional adalah alat bermain dakon yang terbuat dari kayu, mobil-mobilan dari kayu atau batok kelapa, kapal dari kayu, dll.

Perbedaan yang menurut saya sangat mencolok antara permainan dan mainan tradisional dengan permainan dan mainan sekarang ini adalah pengaruh dari rasa senang yang dapat dirasakan oleh pemain. Kesenangan permainan tradisional lebih banyak dirasakan oleh setiap individu meskipun dengan berkelompok saat bermain. Karena dari hal tersebut munculah rasa solidarisme, kekompakan, kreatifitas, imajinasi dan rasa semangat. Selain itu permainan dan mainan tradisional juga tidak membutuhkan banyak biaya. Sedangkan permainan sekarang ini khususnya game on-line banyak dilakukan oleh satu individu saja. Jadi jika hanya dilakukan satu indivudu saja nanti kurang bisa merasakan apa yang dirasakan dalam permainan tradisional. Apalagi sekarang juga banyak beredar ‘mainan’ yang membahayakan kesehatan. Karena bahan untuk membuat mainan tersebut terbuat dari zat berbahaya yang bisa menyebabkan kanker paru-paru. Wah, harus lebih selektif kan dalam memilih mainan!!! Hal tersebut juga saya alami sendiri saat saya masih berusia sekitar 6-10 tahun. Saat itu masih banyak permainan dan mainan tradisional yang dimainkan anak-anak seumuran saya seperti gobak sodor, petak umpet, boy-boyan, engklek, lompat tali, bekel, dakon, dan juga mainan yang terbuat dari kayu (seperti balapan mobil dari kayu, balapan perahu dari daun, bermain dakon dari kayu dan biji buah sawo atau kerikil kecil, dsb). Tapi sekarang ini sudah jarang permainan tersebut dimainkan. Karena anak seumuran itu zaman sekarang lebih memilih untuk menonton TV, bermain HP, pergi ke warnet untuk bermain game on-line, pergi ke rentalan untuk bermain PS, pergi ke toko mainan untuk beli mainan. Padahal game on-line atau sejenisnya meskipun bersifat mendidik, tetapi lebih banyak memberikan sisi negatifnya yaitu rasa malas. Malas untuk melakukan semua aktivitasnya karena sudah keasyikan menatap layar komputer untuk menghabiskan waktu berjam-jam bermain game on-line. Dan menurut saya, masyarakat Indonesia sekarang ini menjadi malas karena sudah dibudakkan oleh tehnologi. Semakin cepatnya kemajuan tehnologi untuk memudahkan mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup khususnya mencari informasi yang memang peran informasi itu sangat penting agar tidak menjadi masyarakat yang terbelakang. Tapi, penggunaan tehnologi tersebut tidak diimbangi dengan ilmu pengetahuan yang memadai sehingga pemanfaatan hal seperti itu kurang optimal.



Banyak orang tua yang menyayangkan dengan adanya game on-line. Para orang tua berpendapat lebih baik bermainan permainan dan mainan tradisional daripada bermain sejenis PS atau game on-line. Memang sih game on-line sedang boomingnya di dunia maya, karena tak hanya digandrungi anak-anak saja. Bahkan remaja sampai dewasa pun juga. Apalagi game on-line yang sistem permainannya mengunakan sistem tingkatan level sehingga pemainnya semakin terpacu untuk terus bermain lalu lupa yang lainnya. Kebanyakan anak-anak Indonesia itu seperti itu kan :D ...

Jika dibandingkan lagi antara permainan dan mainan tradisional dengan permainan dan mainan modern sekarang ini, permainan dan mainan tradisional yang cenderung dilakukan di tempat terbuka (outdor) dapat memberikan manfaat lebih untuk para pemainnya. Sehingga bermain sambil berinteraksi dengan sesama dan memahami lingkungan dimana mereka berada. Selain itu permainan dan mainan tradisional lebih banyak mengajarkan bagaimana cara bekerja keras untuk menjadi seorang pemenang. Tak perduli keringat membasahi tubuh, yang terpenting kelincahan tubuh dan ketajaman otak dapat terus terasah. Sekaligus banyak muncul ide kreatif dari mereka untuk membuat mainan agar bisa digunakan untuk bermain dengan teman-teman.
Tapi sangat disayangkan sekali, karena permainan dan mainan tradisional sekarang ini banyak ditinggalkan oleh anak-anak muda. Padahal sebagai generasi bangsa, mereka berkewajiban untuk tetap melestarikannya. Misalkan pada saat peringatan 17 Agustusan diadakan lomba seperti balap karung, tarik tambang, panjat pinang dan sebagainya (kan di negara lain tidak ada, seharusnya bangga donk Indonesia punya permainan sendiri :D). Selain itu bisa juga diadakan festival membuat mainan tradisonal yang berbahan dasar dari alam seperti kayu, batok kelapa, daun, dll. Atau saat hari liburan sekolah, sekolah mengadakan lomba tradisional seperti lomba makan krupuk, gobak sodor, dll. Dijamin pasti seru banget!!! Atau mungkin saat hari ibu, diadakan lomba khusus ibu-ibu yaitu nyunggi tampah atau egrang. Pasti banyak keseruan akan didapatkan dalam lomba tersebut sekaligus para ibu bisa bernostalgia akan kenangan masa kecilnya.

Banyak peluang untuk memunculkan kreatifitas. Banyak peluang untuk dapat mendukung konten lokal kan!!! Yuk sebagai masyarakat yang cinta tanah air tak peduli tua ataupun muda, anak-anak ataupun dewasa. Mari bersama-sama menggalang semangat untuk tetap melestarikan kebudayaan lokal Indonesia agar keberadaan budaya tersebut tidak hilang. Seperti XL yang memberikan pelayanan konten lokal agar para penggunanya mudah mencari informasi (browsing) seperti :
• XL Nongkrong Seru (aplikasi facebook, sms twitter dsb yang memudahkan berinteraksi dengan sesama meskipun jauh. Karena tak terbatas akan waktu dan tempatnya.)
• XL Konten Seru (banyaknya bonus yang memberikan pelayanan super ekstra yang membuat penggunanya merasa puas)
• XL RBT and Musik (tersedia musik-musik lokal yang mudah diunduh untuk dinikmati di handphone anda)
• XL Layanan Seru (mudah banget cari informasi paling up to date)

Sebuah bukti nyata bahwa PT.XL Axiata meskipun bergerak di bidang jasa telekomunikasi tapi turut serta menjaga kelestarian kebudaayaan Indonesia tercinta.

We love Indonesia !!!! 