Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 September 2013

Cerpen ke-8


            Gadis di Kaki Bukit Prolo

Pegunungan Kendheng menyimpan banyak cerita, tentang gadis kecil bernama Maryati yang tinggal di kaki bukit Prolo. Tumbuh besar dalam eksotisme alam Bojonegoro dan menabur mimpi di kaki gunung kapur untuk menaklukkan negeri. Kelak ..

            Gadis manis berambut panjang itu bernama Maryati, gadis yang duduk beralaskan terpal di beranda rumahnya itu sedang memisahkan biji-biji jagung dari bongkotnya untuk diolah menjadi nasi jagung nantinya. Di bawah Bukit Prolo, bukit yang masih jajaran Pegunungan Kendheng yang membentang dari Kabupaten Jombang, Nganjuk, Bojonegoro dan Ngawi., gadis manis berkulit sawo matang itu tinggal bersama orang tua dan sanak keluarganya. Bukit yang dihiasi oleh tanaman padi di sepanjang terasering milik warga setempat, pemandangan yang sangat indah jika dilihat dari kejauhan, ditambah lagi dengan keberadaan rumah-rumah warga yang berdiri kokoh di kaki Bukit Prolo dibangun dari kayu jati pilihan dengan tanah yang masih berupa tanah, bukan tegel atau keramik, hunian yang menurutku sangat sederhana.
            Ketika mengunjungi rumah Maryati maka akan disambut dengan seekor sapi betina dan seekor pedhet. Bukan disambut dengan pintu beraksen ukiran mewah dengan perabot yang berplitur indah. Bukan. Ketika aku mengunjungi rumah gadis yang bernama Maryati aku serasa kembali ke beberapa puluh tahun yang lalu.
            Rumah di kaki Bukit Prolo bukanlah kawasan real estate yang digunakan untuk mendirikan villa mewah karena letaknya berada di daerah pegunungan atau perbukitan. Pegunungan Kendheng bukanlah pengunungan yang terlalu tinggi, namun memiliki sense of nature seperti pegunungan-pegunungan lainnya, bentangan alamnya akan menarik hati siapapun yang memandangnya. Pegunungan Kendheng hampir menyamai pegunungan di kota besar seperti Malang, Pasuruan, atau Bogor. Jika peguungan di ketiga kota tersebut berudara dingin dengan pohon-pohon pinus, cemara, rambutan, durian dan bunga beraneka warna membentang di sisi kanan kiri, maka di Pegunungan Kendheng pesona alam yang terbentang di sepanjang jalan adalah hamparan padi, jagung, kelapa dan pohon jati.
            Panas adalah cuaca yang cukup pantas untuk kugambarkan mengenai Pegunungan Kendheng yang terdapat Bukit Prolo, Bukit Gong dan Gunung Pandhan yang menjadi puncak tertinggi. Aku tak tau mengapa bukit tempat Maryati tinggal disebut Bukit Prolo. Ketika kutanya pada Maryati, dia menjawab tidak tahu. Namun ketika aku bertanya mengenai Bukit Gong dia menjawabnya. Konon ceritanya, di bukit Gong terdapat seperangkat gamelan yang meliputi gong, sarun, kenung, slenthem dll yang dulu kerap digunakan penduduk desa sekitar untuk karawitan atau alat untuk mengiringi tanggapan sindhen atau wayang dalam acara hajatan orang desa. Gong atau seperangkat gamelan itu menurut ceritanya keberadaannya memang ada di alam terbuka. Bukan manusia atau penduduk sekitar yang memilikinya, namun makhluk ciptaan Tuhan lainnya yang kasat mata. Seperangkat gong tersebut bisa dipinjam atau digunakan oleh penduduk desa dengan cara melakukan ritual tertentu sebagi izin terhadap pemilik gong. Begitulah ceritanya, cerita yang dulu masih dipercayai keberadaannya. Namun zaman  semakin berkembang dan terus mengalami perubahan maka semakin pudarlah kepercayaan itu hingga gong itu dianggap oleh penduduk setempat sudah tidak ada lagi.
            Maryati, gadis yang lahir dan tumbuh besar di kaki Bukit Prolo yang jauh dari keramaian harus berjuang keras untuk meraih mimpi. Sekolah dalam pemikiran remaja kota adalah tempat dimana kita bisa memamerkan kekayaan orang tua. Hal itu tak bisa dipungkiri, dalam kenyataannya, sekolah merupakan tempat dimana remaja bisa pamer motor dan gadget terbaru, tempat memamerkan tas, sepatu, fashion, hijab, atau seperangkat alat sekolah yang tengah mode on sekarang.
            Kawan, sekolah bagi Maryati adalah sebuah pengorbanan. Dimana selama tiga tahun ia harus berjuang berangkat pagi naik turun bukit menyeberangi dua sungai untuk bisa sampai ke sekolah. Tak heran jika kulitnya semakin menjadi coklat sawo matang karena setiap pagi dan siang hari selalu diterpa sinar matahari saat melewati pematang sawah dan jalan berpaving yang naik turun. Belum lagi saat musim hujan turun, semakin berat medan yang harus ia lalui. Banjir yang mengenangi sungai karena hujan deras, jalanan dan pematang sawah yang penuh menjadi berlumpur.
            Maryati, gadis yang tengah bersekolah di kelas dua sekolah menegah pertama bercita-cita untuk melanjutkan pendidikan menengah atas di pusat kota tempatku tinggal. Tentu saja aku mendukung niatnya, menyambut baik harapan dan mimpinya. Dalam benakku, sungguh indah jika sekolah-sekolah di kota ini dipenuhi oleh mereka yang memang berniat untuk sekolah, mencari ilmu untuk meraih mimpi, merelakan diri jauh dari orang tua yang bekerja sebagai petani jagung dan padi di kaki bukit. Tentu saja sekolah akan dihiasi dengan semangat-semangat yang membara dari para muridnya. Bukan dihiasi oleh remaja-remaja yang kuanggap seperti manekin karena mengejar trend dan mode terbaru. Pelajar yang menganggap sekolah hanya sebagai formalitas saja karena hanya mengejar angka delapan, sembilan atau bahkan angka seratus sempurna dan absensi dengan cara apapun itu.
            Kawan, percayalah padaku. Jika kau hanya mengejar angka-angka dalam setiap test dan raportmu maka kau tak akan bisa merasakan bagimana rasanya bersekolah yang sesungguhnya. Sekolah adalah bagian dari proses hidup, di sekolah lah kita di tempa untuk menjadi apa yang kita inginkan. Di sekolah lah kita akan mendapatkan keluarga baru, mendapatkan ilmu-ilmu baru. Kurang apa nikmatnya bersekolah, para guru yang bersusah payah menempuh pendidikan tinggi, mengajari kita, mendendangkan pelajaran-pelajaran untuk kita pahami sampai lelah namun kita hanya menganggapnya angin lalu. Masuk telinga kiri keluar telinga kanan.
Maryati dengan tekad dan semangat menuntut ilmu yang kuat terus berusaha agar sampai di sekolah tidak telat, sebelum jago berkokok Maryati sudah bangun untuk menuaikan sholat subuh, membantu membersihkan rumah dan mempersiapkan diri berangkat ke sekolah. Di sekolah pun Maryati tekun menikmati pelajaran agar bisa menjadi murid pandai dan bisa meraih mimpi. Keterbatasan fasilitas seperti buku pelajaran, buku bacaan, tehnologi pembelajaran dan keterbatasan apa yang dimiliki orang tuanya membuatnya lebih bersemangat untuk bisa membahagiakan orang tuanya.
            Maryati sepertinya menjadi sosok yang pantas untuk kita tiru. Maaf, bukan maksudku untuk mengguruimu. Aku hanya ingin berbagi cerita padamu, mungkin kau bisa mengambil sisi posifit atau hikmah dari apa yang aku ceritakan ini.

Cerpen ke-7


Pergi

Sabar adalah guru paling hebat dalam hidup ini. Sabar mengajariku bagaimana mengendalikan dan mengatasi musuh terbesar dalam hidup ini. Nafsu. Sabar pula yang membuatku mencintai wanita dengan hati.

Menjadi bagian dari hidup wanita yang kucintai seperti mengukir ukiran cinta dengan busur panah yang tertancap di atas air. Sungguh sulit sekali. Wanita cantik yang mempunyai rambut hitam panjang legam yang selalu tergerai indah itu benar-benar memikat naluriku sebagai lelaki untuk menaruh hati padanya. Berkali-kali aku gagal untuk memiliki dia sepenuhnya tapi aku tak pernah menyerah. Seperti yang Ibu bilang, sabar itu tak mengenal kata tetapi. Sabar itu sahabat terbaik dalam hidup ini. Sabar memang tak selalu berujung dengan bahagia. Tapi sabar adalah guru paling hebat dalam hidup ini. Sabar mengajariku bagaimana mengendalikan dan mengatasi musuh terbesar dalam hidup ini. Nafsu. Sabar pula yang membuatku mencintai wanita dengan hati.
Bukan pria berpostur tinggi dan atletis itulah yang menjadi musuh terbesarku. Bukan. Meski tak bisa dipungkiri jika aku dan lelaki berpostur tubuh atletis itu adalah rival. Pria etletis itu selalu menantangku berduel untuk mendapatkanmu. Maaf wanita yang kukagumi, bukan maksudku mejadikanmu sebagai taruhan atas duel ini. Bukan. Aku hanya ingin mendapatkan dirimu dengan caraku, dengan peluh dan usahaku. Jika memang jalannya adalah menerima tantangan pria berpostur atletis yang selalu mengunjungimu saat hari sabtu tiba.
            Tasya, apa kamu bahagia dengan kehadiran pria berpostur atletis itu setiap sabtu tiba?  Pria yang menemanimu menikmati kerlap kerlip bintang, menemanimu menghabiskan sabtu malam di serambi rumahmu ditemani kunang-kunang. Tasya, sungguh aku iri melihat kalian berdua yang seringkali duduk berbincang-bincang di serambi rumahmu dengan akrabnya. Tak berani aku menatap kebersamaanmu degannya. Maaf, bukannya aku sombong tak menyapamu setiap kali aku melintas di depan rumahmu usai mengajari anak-anak kecil latihan silat.
            Tasya, nyaliku seketika menjadi ciut sebelum melintasi rumahmu yang berpagar coklat terang dengan arsitektur bergaya joglo itu. Motor mewah yang dikenakan pria itu dari jauh sudah terlihat kinclongnya. Membuatku mengerutkan hati untuk sekedar melihatmu sekilas. Tasya, aku tahu jika kamu selalu melihatku melintasi rumahmu dengan sepedah butut peninggalan almarhumah bapakku.
            Tasya, aku masih mengingat dengan jelas bagaimana kamu selalu menungguku di depan serambi rumahmu untuk bertemu denganku atau sekedar melihatku lewat usai mengajar silat. Aku masih ingat ketika dulu kamu berpura-pura menunggu abang bakso yang lewat, padahal kamu tengah menungguku lewat.
            Tasya, aku tahu kamu menaruh hati padaku. Wanita mudah sekali terbaca gerak-geriknya saat jatuh cinta. Meski secerdik apapun wanita itu menyembunyikan perasaanya, pasti akan kelihatan juga. Meski bibirmu yang indah seperti bunga merekah itu terus berkata tidak ketika aku menggodamu namun matamu tak mungkin bisa berkata tidak. Bola matamu yang hitam itu selalu menjadi bagian yang aku lihat ketika berhadapan denganmu. Naluriku sebagai lelaki bisa memahami jika kamu menyukaiku.
            Tasya, aku juga tak pernah berkata padamu jika aku mencintaimu. Jujur aku tak pernah berkata itu. Sebab aku memang tak berani mengatakannya. Yang jelas aku benar-benar mencintaimu. Cintaku padamu bukanlah cinta yang terencana. Aku tak bisa memperediksi sejak dan sampai kapan aku akan mencintaimu. Cintaku benar-benar tulus dari hati, tumbuh dari lubuk hati yang paling dalam.
Tasya, jika ada cinta yang terucap dan tak terucap, maka kaulah cinta tak terucapku. Cinta yang tak pernah berkata ada kata love you, jadian atau apapun itu. Cinta kita tumbuh dengan sendirinya. Tanpa rencana, tanpa sebab, bukan karna ada maksud apapun.
Tasya, apa kamu merindukanku? Aku merindukanmu, rindu pada gelak tawamu ketika bergurau dengan adik-adikmu di teras rumah, rindu senyummu yang kau tujukan padaku saat aku tersenyum padamu, rindu pada bola matamu yang hitam jernih itu yang selalu menjadi penyemangatku agar aku mencintaimu. Rindu pada rambut panjangmu yang membuat dirimu semkain cantik bak bidadari turun dari khayangan.
Tasya, sudah hampir dua purnama aku melintasi rumahmu namun aku tak pernah melihatmu di teras rumah. Aku tak pernah melihatmu tengah menunggu abang-abang bakso di hari lainnya, tak pernah melihatmu tengah bermain dengan adik-adikmu atau dirimu yang tengah dikunjungi pria etletis itu. Tasya, sedang apa kamu hingga aku tak pernah melihat sosokmu lagi.
Satu purnama lagi telah aku lewati. Berarti sudah tiga purnama berlalu kita tak bertemu. Tasya, ada apa denganmu? Di purnama ketiga aku tengah berada di kota lain. Mengadu nasib untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak. Andai kau tahu bahwa ragaku disana tapi hatiku disini. Tasya, aku mencemaskan keberadaanmu. Hingga akhirnya belum genap purnama keempat datang aku sudah memutuskan untuk kembali pulang.
Tasya, rasanya hatiku sudah putus asa. Tak berani aku mengetuk pintu rumahmu untuk bertanya keberadaanmu dan keadaanmu. Aku tak ingin dianggap lelaki pengecut karena ingkar janji. Aku berjanji pada pria atletis itu untuk tidak menemuimu. Ya, pria atletis itu mengetahui apa yang tengah bergejolak di antara kita. Tasya, pria atletis itu terus mencariku, menantangku berduel untuk mendapatkanmu. Kedengarannya konyol dan kekanak-kanakan, tapi memang inilah dunia kaum adam.
Tasya, hingga akhirnya Tuhan yang memberiku jawaban dari kerisauanku selama ini, di suatu pagi yang basah karena hujan semalam yang mengguyur kota ini aku hendak pergi ke rumah kerabatku dan melintasi rumahmu. Tasya betapa risaunya hatiku ketika kulihat dari kejauhan  di pagar rumahmu tengah tertancap bendera putih yang ditengahnya terdapat tanda palang merah. Tasya, ada apa di rumahmu. Aku memutuskan untuk menuntun sepedah federal buntut ini. Perlahan mendekati rumahmu.
Tasya, betapa kagetnya aku ketika aku semakin dekat dengan rumahmu melihat orang sedang mengukir namamu dalam batu nisan. Tasya, ku eja nama itu berkali-kali. Masih saja tertera dengan jelas 5 huruf yang selalu kusebut-sebut dalam setiap sujudku untuk menjadi pelabuhan terakhirku, TASYA. Tasya, nyatakah ini? Atau mimpikah ini? Benarkah tubuh yang kulihat dari sini seberang jalan sini adalah sosokmu yang terbalut kain jarik dan kain putih dalam ruang tamu? Benarkah mereka yang sedang membacakan surat yasin tengah mendoakanmu yang tengah terbaring kaku itu?
Tasya, benarkah orang yang tengah menangis di sampingmu itu adalah mamahmu? Aku ingin masuk ke rumah itu. Tapi pantang bagiku untuk ingkar janji pada pria atletis itu. Tasya, orang berlalu lalang masuk kerumahmu, sedangkan aku masih saja berdiri mematung di seberang jalan rumahmu. Mereka datang dengan pakaian hitam-hitam dan berkerudung dengan sesekali berbicara bisik-bisik tentangmu. Tasya, aimataku jatuh. Aku tak peduli  sedang dimana aku. Menangis itu tak mengenal jenis kelamin. Tasya, aku benar-benar menangis di depan rumahmu, di seberang jalan, disaksikan orang yang berlalu-lalang melintasi jalan raya, di tempat yang sering kita gunakan untuk bertemu walau tak kurang dari 10 menit.
Tasya, gadis kecil yang sering kau ajak bergurau di teras rumahmu tengah menyeberang jalan, gadis kecil itu menghampiriku. Gadis kecil berambut keriting itu menyodorkan kertas putih untukku dan segera berlaluu meninggalkanku, kembali ke ruang tamu rumahmu.
Tasya, kubaca surat itu.
            Cinta itu berarti saling setia dan saling percaya. Aku percaya jika kamu mencintaku, pria berambut ikal dengan kulit hitam legam dan tubuh tinggi.  Meski tak pernah terucap kata cinta dari bibirmu. Aku selalu menunggumu melintasi rumahku setiap malam. Setiap hari rasanya aku merindukanmu. Sayang, bukankah rindu itu harus dirawat degan baik. Jangan dibiarkan berkobar karena bisa merusak jiwa. Maaf jika aku memanggilmu sayang, tapi aku memang menyayangimu. Sayang, maaf jika aku meninggalkanmu untuk selamanya tanpa pernah bercerita padamu tentang sakit yang kuderita ini. Sayang, aku tak ingin kamu mencintaiku hanya karna belas kasih seperti pria atletis yang kamu maksud itu. Tidak sayang, aku tak ingin kanker yang menggerogoti tubuhku ini menjadi sebab aku dikasihani. Sayang, dengan cintamu yang tak terucap itu aku merasa terus ingin hidup. Meski setiap hari aku harus menghitung hari menunggu kepulanganku ke rumah-Nya. Sayang, sebulan aku sakit dirumah, sebulan aku dirawat di rumah sakit dan sebulan pula aku memilih kembali kerumah untuk menunggumu. Namun selama hampir sebulan itu kamu tak muncul juga. Sayang aku lelah, aku rindu, aku rapuh. Maaf hingga akhirnya aku membalas cintamu dengan kejutan yang menyakitkan ini. Sayang, bebaslah kamu menjadi pria. Jadilah pria yang bertanggung jawab dari setiap perbuatan yang kamu perbuat.

                                                                                                                        Tasya

Tasya, sungguh aku sanggup untuk meninggalkanmu. Tak sanggup menerima kenyataan yang pahit ini, tak sanggup menerima semua kejadian yang serasa mendadak dan mengiris relung hatiku. Selamat tinggal dan selamat tidur panjang kekasih tak terucap. Dan semoga aku dapat melupakanmu cepat.

Cerpen ke-6




Radar Bojonegoro Minggu, 23 Desember 2012

Aku, Ibu dan Penyesalan

Gagal itu ibarat sobekan tiket  yang harus dikumpulkan dan disatukan agar kertas itu menjadi utuh lagi, kertas yang kusebut tiket kesuksesan. Ya, aku harus menyatukan sobekan tiket itu agar  bisa masuk ke pintu kesuksesan untuk meraih mimpiku!

 Nyesek iku naliko aku kelingan pas awakmu ngelarang aku sekolah nang SMA Sampoerna Bogor“.Batinku dalam hati saat jam berdenting menunjukkan tepat pukul dua siang. Aku yang saat itu tengah berbaring dikamar meneteskan air mata. Alunan lagu yang kudengarkan telah menyeretku dalam kejadian 20 bulan yang lalu.
Entah kenapa kaset dalam otakku seperti memplay kejadian 20 bulan lalu ditengah kegalauan yang menimpaku saat ini. Aku yang kini tengah merasakan downnya kondisi fisikku akibat kurang istirahat serta bingung karena begitu banyak permasalahan yang sedang kuhadapi.
Mungkin omelan ibukku beberapa waktu lalu juga menjadi faktor kegalauanku saat ini, omelan yang selalu kupikirkan sebelum aku tidur, saat aku sedang sendiri atau kapanpun saat aku diam tanpa aktivitas. Yang jelas, aku memang tengah merenungkan apa yang dikatakan ibuku. Meresapi setiap kata yang ditujukannya padaku. Kata yang terlontar ikhlas dan tulus dari hatinya. Aku mengakui jika aku memang aku bersalah dan pantas mendapatkan omelan itu. Bahkan sampai saat ini pun masih teringat jelas ungkapan kekecewaan ibu padaku.
Kulepaskan headset yang menutupi telingaku, membuka bantal yang menutupi wajahku lalu mengusap air mata yang turun dengan tanganku. Rumah dalam keadaan sepi, ibuku tidur di kamar sebelah yang hanya berbatas tembok bata. Ayahku sedang tak ada dirumah dan adikku bermain diluar rumah. Semoga saja ibuku tak mendengar isak tangisku ini. Bahkan jangan sampai ibuku tahu.
Berkali kali air mataku turun lalu kuusap lagi, turun lagi kuusap lagi. Begitu terus sampai aku berhenti menangis. Mungkin inilah saat aku bisa menyadarkan diriku, mencoba menyadari akan kebodohanku, kemalasanku, serta sikapku yang tak mau mendengar nasihat ibu dan selalu memutuskan sesuatu tanpa pertimbangan yang matang.
Walaupun kejadian itu sudah lama ingin kututup rapat-rapat dan aku tak mau menyinggungnya lagi. Tapi sepintar-pintarnya seseorang dalam menutup kenangan paling buruk sekali pun suatu saat sengaja atau tanpa sengaja kenangan itu akan teringat kembali.
Dan ceritanya sewaktu aku akan meninggalkan bangku SMP, aku berniat untuk mendaftarkan diri sebagai salah satu penerima beasiswa SMA Sampoerna Malang. Awalnya niat itu tak kuceritakan pada orang tuaku, jadi aku mengurus sendiri segala keperluan yang kubutuhkan. Termasuk mencari informasi ke sana-sini, mengurus persyaratan disekolah, melengkapai administrasi, dll. Dan ketika persyaratan sudah lengkap semuanya aku baru bilang orang tuaku sekaligus meminta tanda tangan sebagai salah satu syarat persetujuan dalam formulir. Alhamdulillah, aku mendapat respon yang cukup baik dari mereka, orang tuaku mendukungku untuk mengikuti seleksi beasiswa itu.
Setelah semuanya kurasa beres, 3 hari sebelum penutupan penerimaan administrasi oleh pihak sampoerna aku baru mengirimkan administrasi bersama beberapa temanku melalui kantor pos. Sampai tiba waktunya pengumuman siapa saja yang lolos test administrasi, yang selanjutnya berkesempatan untuk pergi ke Malang mengikuti test tulis. Dari ke 9 orang temanku yang mendaftar, hanya 1 yang lolos. Lelaki, teman sekelasku. Yang memang telah menajdi rivalku selama ini. Tentu saja rival dalam belajar agar aku atau dia bisa mendapatkan nilai yang lebih tinggi. Namun aku mengakui jika dia memang pantas mendapatkan kesempatan itu . Dia lebih matang dariku, baik dari persiapan, sikap, mental maupun kecerdasannya.
Ya sudah, mungkin itu belum rezekiku. Bukankah di kota kelahiranku ini masih banyak sekolah yang mampu mendidik serta membimbingku untuk meraih apa yang aku cita-citakan. Semenjak kegagalan itu, tentu saja aku harus berjuang tak kalah kerasnya lagi untuk bisa bersekolah di salah satu sekolah favorit di tempat aku lahir. Sekolah yang menjadi impian keduaku jika aku tidak diterima di Malang. Bahkan sekolah itu sudah menjadi mimpiku ketika aku masih duduk di bangku taman kanak-kanak samping sekolah menegah atas itu.
Namun, di suatu waktu aku lupa entah kapan tepatnya. Siang hari ketika aku berada di rumah temanku, ayahku yang di rumah mendapat telfon dari Jakarta yang bilang kalau aku berkesempatan mengikuti test tulis dan interview untuk menjadi salah satu pelajar di SMA Sampoerna Bogor. Ayahku yang selesai berbicara dengan mbaknya dari Jakarta sana melalui telfon rumah, langsung menelfon aku, memberi tahuku tentang kabar baik itu. Ah tentu saja aku kaget, namun hatiku tak kalah senangnya. Setidaknya aku masih berkesempatan untuk mendapatkan beasiswa dan tentu saja mampu meringankan bebean ekonomi yang ditanggung keluargaku.
Malamnya semenjak kejadian siang tadi aku tak bisa tidur. Berbagai macam pikiran melayang-layang dalam benakku. Tentu saja yang kupikirkan nanti seperti apa ya testnya, sulit tidak, sanggupkah aku? Loloskah aku? Jika tidak aku harus bagaimana? Dan saat itu test dari Bogor hampir bersamaan dengan persiapan PSB di kotaku. Tentu saja aku galau.
Kuhubungi lelaki yang saat itu menjadi teman dekatku, meminta pertimbangan darinya harus bagaimana aku. Mungkin saja dia bisa memberiku saran, mengajariku sesuatu, meberiku semangat dll.
Kukira dia bisa mendukungku, namun berbeda dengan apa yang aku pikirkan. Dia tidak meresponku. Ya, dia tidak mendukungku untuk melanjutkan test beasiswa itu. Hingga hari berganti hari menjelang test tersebut, dia, lelaki itu terus merasuki pikiranku, melarang aku untuk tidak mengikuti serangkaian test itu.
Aku yang saat itu tengah merasa berada di puncak kebahagiaan bersamanya bimbang harus bagaimana. Aku tak melakukan sesi konsultasi pada orang tuaku. Dan orang tuaku sendiri memang mendukung, tapi kurang responsive agaknya. Pikiranku pun terpecah belah, satu sisi jika aku diterima di Bogor apa yang harus aku persiapkan? Sanggupkah aku jauh dari kedua orang tuaku? Berpisah ratusan kilometer dengan keluargaku kelak. Termasuk berpisah dengan lelaki yang kusayangi yang sudah menemaniku berbulan-bulan. Fokus belajar disana untuk meraih cita-citaku. Dan akan bertemu mereka setahun sekali. Ya Tuhan, berikan jalan untukku, berikanlah aku pilihan yang Kau anggap baik untukku, doaku dalam setiap sujudku.
Persiapanku memang belum matang ditambah lagi dengan keinginan lelaki itu yang tak merelakan aku pergi.
Bapak, bukan ayahku kandung, melainkan orang yang kupanggil Bapak itu orang yang selama ini juga telah membiayai sekolahku, bertanya padaku. “ Jadi dimana nduk? Wes siap test di Bogor atau niat sekolah di sini?”.  Ketika aku menyambangi tokonya, mengembalikan tabung elpiji yang habis dipakai ibuku memasak. Bibirku kelu, rasanya tak bisa menjawab. Namun kata yang terlontar dari bibirku adalah “Saya siap dimana saja, kalau di Bogor semoga Allah memberi kekuatan dan kemudahan, kalau di sini semoga Allah memberi rezeki yang lancar untuk Bapak dan Ayah agar bisa membiayaiku sekolah lebih tinggi.“
Nyess rasanya di hati, ketika berbagai pihak mendorongku untuk tetap melaksanakan test itu hingga akhirnya hari dimana test itu dilaksanakan jatuh juga. Dua hari aku menjalani test tersebut. Awalnya pshycotest dan test tulis. Aku tak terlalu mengalami kesulitan dalam test tersebut, tapi test di hari kedualah yang membuat pikiranku kacau. Sesi pertama adalah test interview bersama pihak sampoerna, entah kenapa saat aku ditanya bagaimana kesanggupanku untuk meninggalkan kedua orang tuaku, aku menangis dan air mata yang turun tak sedikit. Aku tak bisa menjawab pertanyaan yang mereka lontarkan padaku, bahkan isak tangisku begitu terasa senggukannya dihadapan mereka. Dan saat itulah kuketahui bahwa AKU BELUM SIAP MENINGGALKAN MEREKA. Padahal, saat aku test interview tersebut ada 2 orang pihak sampoerna yang mensurvei rumahku, melihat kondisi keluarga dan tempat tinggalku.
Se-Bojonegoro Tuban Cepu yang lolos, tidak semuanya di survey rumahnya melainkan hanya beberapa saja. Dugaan orang tuaku, MUNGKIN aku lolos, karena yang diketahui mereka bahwa survey rumah itu adalah tahapan terakhir dari semua test. Namun dalam batinku, apa benar aku kelak akan lolos dan besekolah disana? Mengingat sewaktu test interview tadi aku sempat menangis, dan tentu saja itu akan menurunkan poinku. Tapi etahlah, Wallahuallam.
Sampai akhirnya pengumuman siapa saja yang diterima itu muncul ke publik, dan aku tidak termasuk diantara mereka. Aku mbatin, “maafkan aku buat semua yang sudah mendukungku. Aku belum mampu membahagiakan kalian, mungkin inilah jalan yang dipilih Tuhan, yang terbaik untukku. Bekerja keras menempuh pendidikan disini bersama kalian orang-orang yang menyayangiku”.
Usai kegagalan yang kedua kalinya tentu saja aku tak boleh patah arang. Ya, aku harus tetap berusaha. Berusaha agar aku bisa masuk di salah satu sekolah tempatku lahir yang menjadi mimpiku. PSBpun dimulai, aku kembali mengikuti serangkaian test tulis yang diselenggarakan pemerintah. Dan hasilnya, Alhamdulillah aku bisa menjadi salah satu murid di sekolah tersebut.
Sebagai murid baru, tentu saja harus melewati Masa Orientasi Siswa yang menurutku sangat berkesan sekali. Termasuk harus memenuhi biaya administrasi yang meliputi pembelian seragam, daftar ulang dan pemRayaran uang gedung sekolah.
Aku tau, tentu saja orang tuaku tak memiliki nominal sejumlah uang yang harus dipenuhi begitu saja. Aku harus merelakan sepeda ontel yang telah setia mengantarkanku belajar di bangku menegah pertama untuk dijual, membeli baju seragam sekolah menegah atas. Dan tentu saja untuk administrasi lainnya masih dibantu orang yang kusebut Bapak itu.
Permulaan yang baik, menyadarkanku betapa kerasnya pengorbananku untuk dapat melanjukan sekolah. Dan seharusnya dari permulaan itulah aku tak boleh patah semangat.
Semester pertama di bangku SMA berjalan baik dan aku mampu menembus peringkat kelas, bahkan pararel 10 besar di sekolah. Tapi, untuk semester kedua semuanya menjadi kabur. Ya, nilaiku turun. DRASTIS. Kenapa hal itu terjadi?
Hubunganku dengan lelaki yang sempat melarangku untuk bersekolah di Bogor kandas. Padahal saat itu aku merasa hubungan kami baik-baik saja. Begitu pula orang tuaku yang menganggap kami ayem tentrem. Ya, orang tuaku telah dekat mengenal lelaki itu.
Kandasnya hubunganku bersama lelaki itu yang membuatku anjlok, bagaimana tidak? Semuanya berakhir beberapa hari menjelang ulangan semester. Dan aku tak terlalu paham sebab musababnya dia meninggalkanku. Layaknya remaja, bukan hal yang tidak biasa kalau tidak GALAU. Lalu malas untuk belajar, gak konsen dengan ulangan serta hal-hal lain yang SEHARUSNYA tak boleh terlalu kupikirkan.
Namun semenjak kandasnya hubunganku, aku harus mengakui bahwa keadaan dan semangatku sudah tak membara seperti dulu lagi. Bahkan 6 bulan semenjak kejadian itu, masih berdapak sekali kemalasanku. Ya, aku berlebihan memang. Tapi lelaki itulah yang menemaniku selama 2 tahun, tempatku mencurahkan keluh kesah dan memang salahku pula aku tak terlalu dekat dengan orang tuaku. Jadi wajar saja aku kehilangan control yang mengakibatkanku galau berlebihan.
Sempat terjadi pertentangan antara keluargaku dan aku yang saat itu aku memilih masuk jurusan social. Tapi keluargaku menginginkan aku di jurusan alam. Bahkan sempat pula terlontar dari kata kakekku, yang tidak mau membiayaiku lagi jika aku masuk program social.
Aku menyakinkan pada mereka, ilmu social lah duniaku. Bukan ilmu alam. Dan aku lah yang memenangkan perdebatan itu akhirya,          meskipun aku harus mendapat cercaan dari berbagai pihak yang menyayangkan aku memilih jurusan social.
Akan kubuktikan pada mereka bahwa kelak aku juga bisa menjadi yang terbaik di program social, dan muluruhkkan pemikiran mereka bahwa social itu sebenarnya BUKAN TEMPATNYA anak bodoh.
Namun apa yang terjadi? Aku mengalami tekanan yang luar biasa, berbagai masalah memRayangiku. Orang tuaku semakin tak mampu membiayaiku, orang yang kupaggil Bapak kini sedang mengalami penurunan ekonomi pula. Lalu kakekku? Sama saja. Bahkan beliau harus memenuhi kehidupan om dan pamanku yang mengalami pemutusan hubungan kerja.
Aku bangkit dari sebuah kekurangan, tapi berkali-kali aku bangkit kerap kali pula aku jatuh. Aku menyesal, kenapa dulu dan sekarang aku tidak dekat dengan orang tuaku, khususnya ibuku. Hingga ibuku sangking jenuhnya sampai melontarkan kekecewaannya terhadapku. Kenapa aku dulu kurang bersemangat mengikuti test itu, andai saja diterima pasti semuanya tidak akan seperti ini to nduk. Ucapan ibuku saat aku pulang larut malam, yaitu pukul 11 malam. Karna aku dolan dan tak bilang pada ibuku. Akhir-akhir ini pula aku juga sering tak membantu ibuku menyelesaikan pekerjaan rumah, sering keluar malam bersama teman-teman, pulang sekolah juga tak langsung pulang. 
Dan malam itulah ibuku memarahiku habis-habisan, malam saat aku pulang dari bermain pukul 11 malam. Puncak kekesalan ibuku padaku.
Sekarang aku benar-benar menyesalinya.
Mengingat kembali rentetan peristiwa 20 bulan terakhir hingga sekarang. Membuat hatiku terasa pilu, betapa aku telah mengecewakan mereka hanya karna lelaki yang mengendorkan semangatku dulu.
Baiklah, ini memang jalan hidup yang digariskan Tuhan untukku. Jika aku tak mampu mendapatkan kesempatan beasiswa itu mungkin salah satu dari tiga adikku yang sekarang masih mengenyam bangku sekolah dasar yang akan mengobati kekecewaan mereka dan menggantikanku.



Pernah dimuat di Radar Bojonegoro
Minggu, 23 Desember 2012 dengan judul SEPURANE