Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Essay. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Oktober 2013

Menggali Semangat Menuju Bojonegoro Matoh



“Negeri kita kaya, kaya, kaya-raya, Saudara-saudara. Berjiwa besarlah, berimagination. Gali! Bekerja! Gali! Bekerja! Kita adalah satu tanah air paling cantik di dunia”.

Bagaimana jika saya merubah kalimat yang disampaikan Soekarno menjadi

Bojonegoro kaya, sangat kaya, kaya akan minyak dan gas, wahai Pemuda-pemudi. Berjiwa besarlah, berimagination. Ayo! Semangat! Bekerja! Dan Berkarya! Bojonegoro adalah tanah air paling cantik di dunia

Bukan hal yang mengherankan jika saya menyebut Bojonegoro adalah tanah air paling cantik. Karena Bojonegoro menjadi salah satu daerah penghasil minyak bumi terbesar di Asia yang mampu memikat investor asing agar mendirikan perusaahan untuk mengolah minyak di Bojonegoro.
Nah, sebagai masyarakat Bojonegoro, khususnya pemuda-pemudi haruslah kritis menyikapi hal ini karena Bojonegoro memiliki potensi alam yang luar biasa. Potensi tersebut jika dikelola dengan baik dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat. Oleh karena itu, sebagai pemuda-pemudi Bojonegoro wajiblah menjadi generasi berkualitas yang mumpuni untuk menjadikan Bojonegoro matoh yang tidak hanya menjadi sekedar slogan.
Lalu bagaimana menjadikan Bojonegoro matoh?
Mari kita menggali semangat dari ajaran Saminisme dari warga Samin yang tinggal di tengah hutan jati yang cukup lebat dan sunyi, di dusun Jipang Desa Margomulyo Kecamatan Margomulyo.
Ada keunikan di dusun Jepang, kondisi situasi lingkungan dusun sangat kondusif dan terjaga keamanan serta kenyamanannya. Karena warga Samin sangat menjunjung tinggi nilai-nilai yang diajarkan luhurnya yaitu kejujuran dan kebaikan. Tidak ada pencurian di dusun Jepang, barang yang tergeletak di jalan pun juga tidak akan diambil jika bukan miliknya.
Warga Samin juga tidak sembarang melakukan tindakan karena menurut mereka, ketika berbicara dan bersikap harus sesuai dengan apa yang diucapkan, dipikirkan dan dirasakan dalam hati. Pernah warga Samin menjadi ikon kejujuran di Jakarta, kabar baik tersebut saya peroleh ketika mengikuti Seminar Sarasehan Komunitas Pegiat Kebangsaan Jawa Timur di Kahyangan Api pada 6 April 2013 dan yang menjadi pembicaranya adalah Samin Harjo Kardi. Beliau merupakan turunan ke-4 pendiri ajaran Samin yaitu Samin Surosentiko.
Samin menurut bangsa Belanda dianggap bodoh karena ketika diajak berdialog tidak nyambung. Samin menggunakan politik bahasa dalam melawan bangsa kulit putih. Politik bahasa contohnya maksudnya ketika Belanda bertanya pada orang Samin “dari mana?” dan orang Samin menjawab “dari belakang mau ke depan”. Tak ayal jika Belanda menganggap orang Samin idiot karena merasa tidak nyambung ketika diajak berbicara. Orang Samin tidak pernah menggunakan senjata untuk melawan Belanda. Cara orang Samin dalam melawan penjajahan kala itu dengan tidak mau membayar pajak dan menuruti kebijakan Belanda, warga Samin juga tidak menggunakan perlawanan senjata dan fisik.
Ketika berjuang melawan penjajah, orang Samin punya mimpi, berharap Indonesia akan dipimpin oleh orang-orang pribumi, bukan orang asing. Ki Samin kala itu menerapkan semangat untuk bekerja keras karena orang yang bekerja keras dapat memenuhi kebutuhan hidup, termasuk punya makan untuk dimakan. Jika punya makanan sendiri, maka akan tidak mudah tergoda bujukan penjajah Belanda.
 Samin memiliki ajaran-ajaran yang bisa diamalkan oleh masyarakat biasa. Seperti nilai kejujuran, kebersamaan, kerendahan hati, kesederhanaan, dsb. Nilai-nilai seperti itulah yang bisa disebut sebagai nilai luhur budaya, yang keberadaanya oleh generasi muda tidak hanya dipertahankan saja, melainkan harus diamalkan. Nilai kerja keras dalam ajaran Samin juga bisa kita tiru untuk bersemangat dalam bekerja sehingga bisa mengelola sendiri potensi yang dimiliki.
Sebagai generasi muda kita harus semangat dalam menempuh pendidikan. Baik di jenjang terendah sampai tertinggi,. Agar memiliki skill yang memadai sehingga bisa menjadi putra daerah yang berintelektual dan mampu mengelola potensi yang ada di Bojonegoro.
Namun kondisi masyarakat sekarang ini, nilai luhur budaya yang beberapa puluh tahun lalu masih dipegang teguh kini mulai mengalami kemerosotan. Generasi muda kurang cakap terhadap apa yang ada disekitarnya. Krisis moral terjadi di Indonesia, dan tentunya pemuda-pemudi Bojonegoro termasuk didalamnya. Walaupun sudah banyak berdiri komunitas, klub, kelompok yang mengatasnamakan solidaritas dan cinta Bojonegoro namun jumlahnya masih kecil dibandingkan dengan jumlah masyarakat Bojonegoro.
Westernisasi tak pernah berhenti merasuki sendi-sendi kehidupan yang menyebabkan runtuhnya nilai luhur. Budaya ketimuran yang sopan dan penuh dengan tatakrama kini mulai berubah menjadi kebarat-baratan. Buktinya, kecintaan pada budaya lokal semakin menurun dilihat dari semakin sedikitnya generasi muda yang mempelajari kebudayaan daerah seperti tari-tarian, musik, kesenian dan kerajinan.
Budaya lokal termasuk salah satunya sejarah lisan maupun tertulis yang memiliki nilai moral dan nilai luhur. Termasuk cerita folklore yang divisualisasikan melalui tari-tarian, teater, pentas budaya kini mulai tergantikan dengan semangat mempelajari gaya hidup kebarat-baratan yang lebih menggelora daripada mempelajari budaya sendiri.
Boleh saja mempelajari budaya asing, namun tidak boleh mengabaikan budaya lokal dan nilai luhur bangsa. Kita harus selektif dalam menerima budaya asing yang semakin sering mengakulturasikan diri dengan budaya lokal. Sebagai generasi muda haruslah kita menyadari bahwa secara naluriah telah terpilih untuk menjadi sosok yang berkewajiban menjaga nilai-nilai luhur  budaya dan mengamalkannya di kehidupan sehari-hari agar asset budaya yang dimiliki tidak hilang begitu saja.
Potret buram kondisi tanah air ini semakin terlihat jelas, karena sering tersiar di media massa tentang kenakalan remaja. Meskipun ada beberapa generasi muda yang mengahrumkan nama bangsa di kancah Internasional dengan kejuaraan-kejuaraan baik di bidang seni, olahraga, akademik dan potensi lainnya. Namun jumlahnya masih sedikit karena masih banyak pula remaja yang menorehkan sejumlah kenakalan yang saat ini makin sering terjadi seperti seks bebas, miras, abortus, tawuran, balapan liar, dll. Remaja juga tengah berlomba-lomba untuk menikmati produk barat yang semakin merajai pasaran.
Seseorang akan dianggap gaul jika bisa makan di restoran fastfood, karena membeli produk luar negeri dianggap sebagai kebanggaan tersendiri yang bisa meningkatkan prestise di hadapan masyarakat. Sehingga produk lokal mulai mengalami penurunan permintaan. Padahal produk lokal adalah karya anak bangsa yang seharusnya patut diapresiasi.
Betapa westernisasi telah merusak jati diri generasi muda. Nilai luhur dan moral mulai terabaikan dengan gaya hidup yang serba modern dan instan. Padahal nilai luhur menjadi pendoman dalam melaksanakan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Nilai luhur budaya salah satunya juga dalam hal bersikap dan bertutur kata. Namun dewasa ini etika dalam bertutur kata tersebut mulai luntur tergerus oleh derasnya pengaruh lingku­ngan. Remaja sekarang tidak lagi menerap­kan nilai-nilai normatif budaya. Sehingga tidak jarang kita temukan generasi muda yang tidak bisa menempatkan bahasanya, baik ketika berkomunikasi dengan yang lebih be­sar, yang lebih kecil ataupun sebayanya.
Seringkali dijumpai di jejaring social postingan yang sifatnya mengumpat atau kata-kata kasar. Hal tersebut tidaklah sesuai dengan nilai luhur. Sebagai generasi muda yang baik kita harus menyadari bahwa jejaring social adalah dunia maya yang sangat luas. Status-status yang tidak pantas diposting bisa saja dibaca oleh orang yang lebih tua dari yang menulis status.
Sikap seperti inilah yang harus dibenahi agar generasi muda tidak mengalami kemerosotan moral yang semakin parah. Karena perkembangan zaman semakin menuntut kita untu berpikir kritis dan tidak apatis. Generasi muda haruslah memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Generasi muda Bojonegoro harus mengupayakan nilai-nilai moral dan luhur dari ajaran Samin diterapkan di kehidupan agar bisa menjadi generasi muda yang berkualitas dan patuh terhadap norma-norma yang sesuai di masyarakat.
Karena generasi muda yang nantinya menjadi agent of change, alias agen perubahan. Seperti yang pernah dikatakan Bung karno dalam pidatonya “ Tuhan tidak akan merubah nasib manusia sebelum manusia itu merubah nasibnya sendiri”. Kata-kata yag dikutip Bung Karno dari Al-Qur’an tersebut dapat kita artikan Tuhan tidak akan mengubah nasib Bojonegoro sebelum Bojonegoro mengubah nasibnya sendiri.
Bojonegoro akan menjadi apa kelak tergantung bagaimana generasi mudanya. Oleh karena itu dibutuhkan generasi muda yang bisa menjadi seorang pemimpin-pemimpin yang mumpuni, yang punya jiwa pancasilais, punya semangat nasionalisme, punya kesadaran diri bahwa harus menjaga nilai-nilai luhur budaya yang mulai runtuh.
Ingat, bahwa pemuda hari ini adalah orang tua di masa yang akan datang. Kakan seperti apa Indonesia 6-10 tahun kedepan, tergantung bagaimana generasi mudanya bersikap.

Senin, 23 September 2013

Pendidikan Gratis sebagai Aspek Pendorong Pembangunan Negeri


Mutu pendidikan Indonesia menduduki peringkat ke-69 di dunia dari 127 negara. Data tersebut berdasarkan Education For All (EFA) Global Monitoring Report 2011: The Hidden Crisis, Armed Conflict and Education yang dikeluarkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) yang diluncurkan di New York, Senin (1/3/2011). Dan Finlandia lah yang menyandang gelar Negara dengan Pendidikan Paling Berkualitas di Dunia.
 Salah satu upaya pemerintah Finlandia adalah mewajibkan setiap anak untuk belajar bahasa inggris dan membaca minimal satu buku setiap minggu. Pemerintah Finlandia juga memberikan fasilitas pendidikan gratis untuk seluruh warga negaranya. Bahkan pemerintah negara Finlandia tak segan-segan mengeluarkan biaya 200 euro persiswa hingga lulus dari universitas dnegan pendidikan minimal strata dua.
Sebesar 25% kenaikan pendapatan Finlandia yang didapatkan dari pajak daerah, provinsi, dan nasional disumbangkan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Dari negera agraris yang tak terkenal kini Finlandia maju di bidang teknologi. Produk HP Nokia misalnya merajai pasar HP dunia. Begitulah bukti nyata bagaimana negara berjuang membangun kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan.

Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya terfasilitasi dengan layak dan gratis. Meskipun terdapat dana Bantuan Operasional Sekolah, ketika saya duduk di kelas X masih ditarik biaya SPP sebesar Rp 150.000, naik kelas XI menjadi Rp 165.000. Dan di kelas XII naik lagi menjadi Rp 210.00, padahal sekolah saya (SMAN 2 Bojonegoro) termasuk salah satu sekolah yang mendapatkan dana BOS dari pemeritah. Namun mengapa siswa masih dibebani dengan biaya perbulan yang begitu besar. Ditambah dengan uang gedung saat pertama kali masuk ditarik sebesar Rp 1.500.000, dan pembayaran ulang setiap setahun sekali yang jumlahnya berkisar duaratus ribu lebih. Belum lagi ketika ada event seperti karnaval, idul adha, bimbingan tambahan, dll yang harus kembali membayar. Bahkan sampai sekarang pun penarikan uang gedung juga masih terjadi.
Padahal Indonesia kaya akan kekayaan alam atau hasil bumi. Kas Indonesia juga didapatkan dari pajak hasil bumi dan non bumi. Tetapi kenapa masih saja belum bisa memfasilitasi warga negaranya dengan cukup? Menurut saya kelemahannya berada di sektor alam yang tidak dikelola sendiri oleh Indonesia. seperti di Bojoengroo yang banyak berdiri perusahaan asing untuk mengambil minyak bumi seperti Exxon Mobil, Blok Cepu, Petro Cina dll.
Hasil dari pengolahan tersebut Indonesia hanya mendapatkan 40% saja. Dan itupun masih dibagi untuk daerah, provinsi, dan nasional. Jika kekayaan alam di Indonesia dapat dikelola oleh masyarakat Indonesia sendiri maka akan mendapatkan pendapatan yang lebih banyak dan Indonesia memungkinkan memberikan pendidikan gratis untuk masyarakatnya.
Sehingga dengan adanya pendidikan gratis, pendidikan dapat merata. Masih banyak orang yang pintar tapi tidak bisa melanjutkan pendidikan bahkan tidak mengenyam pendidikan sama sekali karena terkendala biaya. Oleh karena itu pendidikan gratis perlu diadakan terlebih lagi Indonesia adalah negara berkembang yang membutuhkan sumber daya manusia yang mumpuni agar kelak Indonesia dapat menjadi negara yang maju.
Untuk menjadi negara yang lebih berkembang sehingga bisa menjadi negara maju tergantung dari generasi mudanya. Generasi muda haruslah berkualitas dan berintelektual sehingga memiliki daya saing yang berkompeten. Karena pendidikan yang nantinya akan menentukan seseorang bagaimana bersikap, bertindak, dll.



Minggu, 22 September 2013

Terbanglah RajawaIi Bersama Generasi Emas Bangsa


 “Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu : “Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim”. ” Tuhan tidak akan merobah nasib manusia sebelum manusia itu merobah nasibnya” 

Pernyataan Bung Karno diatas disampaikan pada HUT Proklamasi ke-18, tepatnya 18 Agustus 1963. Sosok yang sangat familiar bagi bangsa Indonesia ini menekankan bahwa bangsa Indonesia harus berjuang untuk mengubah nasibnya sendiri.
Mari kita tengok perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Ketika enam puluh delapan tahun lalu bangsa ini masih terbelenggu kejamnya penjajahan, teriakan semangat merdeka terus berkobar dari dada rakyat Indonesia. Ratusan tahun berjuang untuk melakukan sebuah perubahan yang didalamnya termasuk kebebasan mengatur bangsanya sendiri. Kemerdekaan tersebut tidak akan pernah terwujud jika berasal dari dari diri seorang saja. Ratusan bahkan ribuan jiwa telah menyumbangkan darah, peluh, dan tenaga.
 Hal ini menjadi bukti nyata dan catatan sejarah betapa kuatnya keinginan bangsa ini untuk merdeka. Tiga setengah abad lebih bangsa yang penuh dengan pesona khatulistiwa ini menjadi  bangsa yang gersang karena kekayaan alam dan manusianya dieksploitasi oleh penjajah.
Bahkan sampai saat ini masih bisa dikatakan bahwa bangsa nan elok permata ini masih dijajah oleh bangsa lain. Bangsa yang disebut Soekarno sebagai Rajawali pada HUT Proklamasi ke-10 masih belum benar-benar terbebas dari belenggu penjajahan. Dan saat ini semangat melawan penjajah masih  menggema meskipun tak seheroik dulu. Jika beberapa puluh tahun yang lalu bangsa ini memerangi penjajah dengan kekuatan fisik, persenjataan yang kuat dan semangat merdeka yang terus dikoarkan, lalu bagaimana dengan sekarang?
Akan terlihat konyol jika saat ini kita masih meneriakkan kata merdeka. Karena saat ini sudah bukan waktunya lagi melawan penjajahan dengan persenjataan seperti tombak, bamboo runcing, mesiu, meriam, pistol dll untuk berperang. Melainkan memerangi penjajahan di era modern ini dengan intelektualitas, kecerdasan otak, kepekaan hati, dan kepedulian sosial. Karena penjajah di zaman sekarang adalah kebodohan, kemiskinan, pengangguran, korupsi , globalisasi, kemajuan tehnologi, dll. Bahkan seorang Pakar Hukum Tata Negara (Margito) mengatakan bahwa saat ini banyak masyarakat Indonesia tidak pancasilais.
Pernyataan Margarito disampaikan pada dialog kepemimpinan bersama Ketua The Presiden Center Eddy Herwani Didied Mahaswara, dan pengamat politik UI Boni Hargens, di Jakarta, Minggu (2/6/2013). Margarito dalam dialog tersebut menekankan bahwa masih banyak calon legislatif (Caleg), dan Capres, yang jejak rekamnya tidak Pancasilais, melainkan kapitalis, impresialis, dan neoliberalisme. Seluruh kebijakan ekonomi, sosial politik, pendidikan, budaya, agama, dan sebagainya kurang menjiwai Pancasila.
Namun sikap tidak pancasilais tak hanya menjangkiti para politikus kita. Sebenarnya banyak generasi muda yang sikapnya tidak pancasilais. Buktinya, masih banyak diberitakan di media terjadinya sex bebas, abortus, mengkonsumsi obat-obaran terlarang, tidak jujur dalam mengerjakan ulangan, tidak disiplin dll. Sikap tidak pancasilais dapat merutuhkan kekokohan bangsa Indonesia. Ditambah lagi westernisasi mulai merasuki jiwa-jiwa rakyat Indonesia yang semakin mengendur semangat nasionalismenya.
Ketika enam puluh delapan tahun yang lalu bangsa ini membutuhkan pelajar, mahasiswa, pemuda, dan tokoh masyarakat untuk menjadi gerilyawan dalam melawan penjajah, kini bangsa ini tengah membutuhkan kaum berintelektual untuk berperang. Dan siapakah sosok yang mendapatkan predikat berintelektualitas dalam bahasan ini? Tentunya kita, para pelajar yang tengah mengenyam bangku pendidikan. Yang telah berkali-kali mendapat asupan nutrisi pembelajaran mengenai wawasan kebangsaan, semangat, jiwa nasionalisme dan patriotisme. Tentunya bukan hanya sebagai pelajar yang berkewajiban untuk belajar yang duduk diam saat guru menerangkan dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai terbaik. Melainkan sebagai pelajar yang memiliki kesadaran diri karena memegang sebuah kewajiban untuk bersikap pancasiais untuk menjadi pewaris bangsa ini.
Generasi muda haruslah menjadi sosok yang mampu menciptakan kreativitas, inovasi, menjadi revolusioner dan serangkaian perubahan lainnya. Karena generasi muda adalah sosok yang secara naluriah telah dipilih menjadi pemilik tongkat estafet kepemimpinan selanjutnya.
Kreativ juga memiliki pengertian di banyak bidang. Bidang ekonomi misalnya, David Mc Clelland menyatakan bahwa sebuah bangsa akan makmur jika memiliki entrepreneur sebesar 2% dari total penduduknya. Sedangkan Indonesia pada tahun 2012 hanya sebesar 1,56% dari jumlah penduduk, sedangkan di negara tetangga seperti Malaysia mencapai 4%, Thailand 4,1% dan Singapura telah mencatat 7,2%.
Bangsa Indonesia dibesarkan oleh semangat, seperti semangat untuk meraih kemerdekaan. Bangsa Indonesia juga dibesarkan oleh budaya yang jumlahnya ribuan karena Indonesia sendiri adalah negara plural. Namun satu yang sangat disayangkan, bangsa Indonesia tidak dibesarkan oleh budaya wirausaha. Budaya wirausaha baru beberapa tahun terakhir mulai digerakkan. Padahal Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah. Hasil kelapa sawit Indonesia menduduki nomor satu di dunia, disusul karet menduduki peringkat tiga, tembaga nomor lima, emas nomor tujuh dan gas alam nomor delapan, serta kekayaan laut yang banyak.
Jika seorang generasi muda kreativ dan memiliki jiwa berwirausaha akan memberikan warna yang baru bagi dunia perekonomian, karena bisa diketahui bahwa Indonesia juga bagian dari pasar bebas dunia yang menyebabkan banyak investor dan produk asing masuk Indonesia.
Buktinya, gas alam Indonesia banyak dikelola oleh perusahaan asing seperti PT Freeport di Papua, Exxon Mobil dan Petrocina di Bojonegoro. Selain itu produk asing juga semakin merajai pasar Indonesia yang mengakibatkan terjadi politik dumping yang merugikan pasaran lokal utamanya usaha mikro.
Jika generasi muda bersemangat dalam menggapai mimpi, kelak juga akan mampu menjadi pembisnis atau wirausaha yang hebat. Perekonomian Indonesia dapat meningkat karena produk lokal diminati oleh masyarakat Indonesia sendiri dan mampu merambah ke luar negeri, selain itu dengan membuka bisnis dapat mengurangi pengangguran karena menyerap tenaga kerja. Hingga akhirnya dapat berkontribusi dalam memperbaiki roda perekonomian, turut serta mensejahterkan rakyat.
Bukankah kita yang sekarang ini tengah mengenyam pendidikan bangku sekolah menengah atas seringkali disosialisasikan mengenai pendidikan entrepreneurship agar memiliki softskill setelah lulus.  Dan tak hanya softskill di bidang ekonomi saja, tentunya setiap pribadi memiliki softskill yang berbeda-beda. Yang perlu dipahami adalah, bagaimanapun juga seorang pemuda harus memberikan kontribusi untuk bangsanya sesuai potensi yang dimiliki.
Karena pada umumnya, masa keeemasan orang berada di saat dia menjadi seorang pemuda. Jiwa dan kewajiban pemuda tidak akan berubah. Pemuda ketika zaman penjajahan, pemuda di zaman global ini dan pemuda di zaman millennium yang akan datang tetap akan menjadi penggerak peradaban. Pemuda adalah monitor penggerak sebuah bangsa, akan menjadi apa bangsanya nanti juga tergantung bagaimana pemuda bermimpi, berinovasi, berkreasi dan bercita-cita. Karena  pemuda kelak akan menduduki kursi pemerintahan, menjadi tokoh masyarakat dan menjadi pemimpin bangsa.
 Jika ditelisik lebih dalam dapat kita ketahui mulai dari terbentuknya gerakan Boedi Oetomo sebagai organisasi yang dapat dikatakan sebagai awal dibentuknya organisasi nasional yang bersifat kepemudaan. Dilanjutkan dengan perjuangan di tahun 1928 yang berhasil mempelopori persatuan nasional melalui Sumpah Pemuda. Dahsyatnya semangat Yusuf Kunto dan WIkana dalam yang membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok agar segera memproklamirkan kemerdekaan dan tidak terpengaruh oleh Jepang, penghapusan anggota PKI yang mengakibatkan aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh para pemuda di tahun 1965 yang mengakibatkan beberapa mahasiswa tewas akibat tembakan pasukan cakrabirawa dan mendapatkan gelar Pahlawan Ampera serta gerakan reformasi tahun 1998 juga dilatarbelakangi oleh pemuda.
Menurut Rizal Ramli mantan Menteri Perekonomian Indonesia yang memberikan sambutan pada saat diadakannya Leaders Dialogue 9 di Universitas Indonesia, beliau mengemukakan bahwa ada banyak cara yang bisa pemuda lakukan sebagai bentuk kontribusinya pada pemerintahan. Pertama dengan kita taat hukum, maka setidaknya kita sudah berkontribusi pada Indonesia. Yang kedua, dengan mengikuti pendidikan sosial yang baik, pendidikan sosial bisa meningkatkan kesejahteraan kita dan pemaknaan kita akan hidup yang baik. Yang ketiga adalah realisasikan impian-impianmu yang sudah dibuat dulu. Selain itu sebagai pemuda kita harus gesit otak, gesit tangan dan gesit gaul. Kegesitan itu harus dipupuk dan dilatih sedari sekarang dengan jalan mengikuti pendidikan softskill dan berorganisasi, karena Anda di 25 tahun mendatang adalah akumulasi tindakan yang anda lakukan sekarang ketika masih menjadi pemuda.  
Bung Karno, presiden pertama kita juga berkata bahwa “Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit.  Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang”.
Rajawali tengah mencari sosok-sosok yang mampu membawanya melambung tinggi ke angkasa, membawa Rajawali terbang bebas menyusuri cakrawala dunia. Melepaskan diri dari jeratan sangkar emasnya dan itulah kewajiban kita sebagai generasi muda Indonesia
            Betapa hebatnya kekuatan seorang pemuda yang menjadi ruang penggerak sebuah perubahan. Sebuah bangsa tidak akan berdiri dengan kokoh dan maju jika para pemuda tidak bersatu membentuk sebuah pergerakan perubahan. Dan hanyalah pemuda yang kritis dan berani yang akan membuat perubahan itu. Jangan hanya menjadi pemilik bangsa yang hanya pandai membuat slogan, namun jadilah bangsa yang mampu merealisasikan sebuah slogan.
Terbanglah Rajawali, Hidup Generasi Emas Indonesia!


Mahasiswa dan Ranah Organsiasi



Ini adalah catatan yang mampu membantu menjabarkan pikiran pemuda Indonesia. Bagaimana seharusnya mahasiswa berperan dalam membangun masa depan bangsa.

Kemelut politik dan ekonomi yang terjadi di masa orde lama atau biasa disebut dengan ORLA terjadi dari thun 1965-1966 dan mengalami gejolak yang kian memanas pada bulan Januari hingga Pebruari 1966. Sejarah mencatat bahwa pada tanggal 24 Pebruari 1966 seorang mahasiswa bernama Arief Rahman Hakim gugur saat melakukan unjuk rasa yang bertujuan untuk menumbangkan rezim orde lama. Tak hanya Arief Rahman Hakim saja yang gugur dalam aksi unjuk rasa saat itu, ada sederet nama yag menyertainya, seperti Zubaedah, Ikhwan Ridwan Rais, dll.
Aksi unjuk rasa tersebut terjadi karena ketidakpuasan masyarakat terhadap tindakan  Presiden Soekarno pada 24 Pebruari 1966 yang bermaksud melantik menteri kabinet baru yaitu "Kabinet Seratus Menteri” yang anggotanya mencerminkankan ketidakberdayaan Soekarno dalam mengendalikan situasi politik dan ekonomi Indonesia yang semakin memanas.
Salah satu anggota menteri yang akan dilantik oleh Soekarno adalah seorang tokoh militer yang dikenal masyarakat sebagai pemimpin copet di Jakarta. Kabinet yang nama resminya disebut sebagai “Kabinet Gotongroyong yang lebih disempurnakan lagi” itu ditolak keberadaannya oleh para mahasiswa, pelajar dan berbagai kelompok masyarakat yang lain.
Salah satu upaya penolakan itu dengan dilakukannya unjuk rasa pada hari itu. Mereka yang berunjuk rasa bukan hanya mahasiswa dan pelajar dari atau di Jakarta saja, melainkan dari mana-mana. Pagi itu, seorang mahasiswa UI bernama Arief Rahman Hakim turut serta melakukan aksi unjuk rasa bersama para demonstran yang lain di depan Markas Resimen Cakrabirawa.
Selayaknya orang berdemo, para demonstran terus meneriakkan tuntutan mereka dan tak segan-segan mengutarakan kata-kata pedas bagi tokoh yang mereka maksud. Pasukan Cakrabirawa yang bertugas di seberang jalan merasa tak tahan dengan teriakan dan ejekan para demonstran hingga akhirnya pasukan cakrabirawa meletupkan tembakan bertubi-tubi ke arah para demonstran.
Para demonstran panik dan berpencar tak karuan. Dan ditengah kepanikan itulah Arief Rahman Hakim terkena rentetan timah panas pasukan cakrabirawa. Arief Rahman Hakim tewas ketika perjalanan menuju rumah sakit. Ya, mahasiswa dari Universitas Indonesia yang mengenakan almamater berwarna kuning itu tewas bersimbah darah dalam perjuangan menurunkan tirani Indonesia. Arief Rahman Hakim dan para demonstran yang tewas pada waktu itu diangkat sebagai pahlawan ampera dan dikukuhkan dalam TAP MPRS No. XXIX/MPRS/1996.
Sedikit cuplikan catatan sejarah bagaimana generasi muda atau mahasiswa menjadi agen perubahan suatu bangsa. Para aktivis yang notabenenya adalah para mahasiswa kala itu tengah berjuang untuk menuntut perubahan bangsanya menjadi lebih baik, yang menuntut sebuah keadilan dan kebijakan agar bisa dirasakan masyarakat utamanya.
Sosok Arief Rahman Hakim dan mahasiswa yang menjadi aktivis saat itu sudah sepatutnya menjadi contoh bagi generasi muda sekarang ini. Tentunya generasi muda sekarang ini harus mengambil contoh dalam segi positifnya, semangatnya. Bagaimana tidak? Mahasiswa lah yang nantinya akan menjadi agent of change alias agen perubahan bagi dirinya, lingkungannya dan masyarakatnya. Oleh karena itu, diharapkan mahasiswa sebagai generasi muda dapat turut serta berkecimpung di ranah organisasi untuk menggambleng mentalitas. Walaupun sudah banyak mahasiswa yang berkecimpung di ranah organisasi, namun jumlahnya masih sepersekian kecil dari jumlah mahasiswa yang ada.
Mahasiswa tak hanya dituntut untuk menjadi agent of change saja, melainkan juga menjadi agen pemberdayaan alias moral force atau sebagai pemertahan nilai-nilai moral yang terdapat di masyarakat, dan diharapkan menjadi ironstock alias seorang pemimpin yang sesuai dengan criteria Indonesia yang menganut ideologi terbuka pancasila. Namun pada kenyataannya masih banyak mahasiswa yang beranggapan bahwa perannya hanyalah ngampus. Mengerjakan tugas kuliah dan mendengarkan dosen saat menerangkan mata pelajaran kuliah agar bisa mendapatkan indeks prestasi tinggi yang berguna di dunia kerja nanti.
Paradigma yang seperti inilah yang hasus diluruskan, memang benar bahwa tugas mahasiswa adalah seperti yang dijelaskan diatas, namun seorang mahasiswa sesungguhnya juga memiliki peran-peran lain diluar jam kuliah atau urusan kampus. Masih ingatkah dengan Tridharma perguruan tinggi yang merupakan tiga pilar dasar pola pikir yang menjadi kewajiban bagi mahasiswa sebagai golongan intelektual di negara ini. Tentunya Tridharma bukan saja harus diingat oleh mahasiswa, melainkan harus dilaksanakan karena Tridharma adalah sebuah kewajiban yang harus dikerjakan dan diamalkan.
Mahasiswa adalah kaum intelektual berpendidikan tinggi yang nantinya dapat mengimplementasikan apa yang didapatkan pada saat kuliah dalam kehidupan bermasyarakat sehingga seorang mahasiswa dapat mengabdikan dirinya dalam masyarakat, karena mahasiswa berperan menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah.
Mahasiswa juga beperan untuk membela kepentingan masyarakat yang artinya menjunjung tinggi nilai-nilai luhur pendidikan, lalu mengkaji terlebih dahulu, setelah itu memahami, dan kemudian mensosialisasikannya pada masyarakat. Mahasiswa memiliki ilmu tentang permasalahan yang ada, mahasiswa juga yang dapat membuka mata masyarakat sebagai salah satu bentuk pengabdian terhadap masyarakat.
Lalu, apa peran organisasi dalam hal ini?
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa organisasi dapat dijadikan sebagi media untuk menggambleng mentalitas generasi muda.  Organisasi mampu mencetak manusia menjadi insan yang lebih peka terhadap lingkungan. Dengan berorganisasi sesorang akan belajar bagaimana berkomunikasi dengan berbagai pihak, berargumentasi dalam menyelesaikan masalah, mengeksplorasi dan mempresentasikan suatu gagasan atau konsep sebuah rencana kegiatan.
 Organisasi senderung menuntut bagaimana seseorang harus bekerja rasa totalitas dan loyalitas yang tinggi. Agar apa yang menjadi tujuan dari organisasi tersebut dapat dicapai sesuai hasil yang diharapkan. Perlu diingat bahwa organisasi kemahasiswaan bukanlah sekadar wadah politik kampus melainkan organisasi mahasiswa juga menanamkan nilai-nilai ilmiah yang juga dapat menunjang proses belajar mahasiswa secara akademis. Jika mahasiswa acuh terhadap lingkungan atau misalnya tidak suka berorganisasi akan mengakibatkan sikap individualis.
Lalu apakah bisa menggantungkan sebuah harapan pada mahasiswa jika mahasiswa (baca:generasi muda) acuh terhadap lingkungan? Tentunya tidak. Karena mahasiswa membutuhkan softskill selain di jurusan yang dipelajarinya. Misalnya softskill mengenai kepemimpinan, kemampuan memposisiskan diri, interaksi lintas generasi dan sensitivitas atau kepekaan lingkungan yang tinggi.
Dicontohkan Institut Pertanian Bogor yang memiliki banyak organisasi kemahasiswaan. Seperti DPM dan BEM. BEM di kampus IPB juga terbagi menjadi 10 BEM yaitu BEM A - BEM J. BEM J memiliki desa binaan untuk mensosialisasikan mengenai dunia pertanian untuk masyarakat desa agar para petani memiliki pemahaman yang lebih detail darpipada hanya sekedar bertani lalu panen. Namun lebih menekankan bagaimana menjadi petani yang berkualitas agar bisa bertani sesuai dengan harapan yang utamanya adalah memanen hasil yang semaksimal mungkin. Dan tentunya juga memberikan pemahaman mengenai bagaimana caranya meminimalisir biaya operasional perawatan tanaman, bagaimana cara menghalau penyakit dan hama yang menyerang tanaman sehingga dapat memanen hasil yang maksimal.
Selain desa binaan BEM J juga bertugas untuk mengurus mahasiswa berprestasi, menyalurkan beasiswa bagi mahasiswa yang secara materi kurang memadai, menyampaikan aspirasi mahasiswa kepada civitas akademik, mengembangkan sumber daya manusia khususnya potensi yang dimiliki oleh mahasiswa-mahasiswi Institut Pertanian Bogor dan masih banyak peran BEM J.
Dan peryataan diatas merupakan beberapa bukti konkret yang dapat menyatakan bahwa sebuah organisasi berfungsi sebagai mediator agar seseorang bisa mengenali lingkungannya dan dapat berkontribusi untuk lingkungannya.
Dan sosok Arief Rahman Hakim serta pahlawan ampera lain, seyogyangya mampu menjadi pemantik semangat generasi muda saat ini. Ironis jika sosok mahasiswa yang berkewajiban menjadi agent of change, moral value dan ironstock tak melaksanakan kewajiban-kewajiban tersebut. Karena masa depan sebuah bangsa tergantung bagaimana generasi mudanya berusaha.
Jaya Mahasiswa, Jaya Indonesia raih Masa Depan Nan Jaya!