LOMBA Menulis Surat kepada Presiden RI terkait Dampak Buruk Perdagangan Bebas : http://www.satudunia.net/content/lomba-menulis-surat-kepada-presiden-ri-terkait-dampak-buruk-perdagangan-bebas
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah (Rumah Kaca, h. 352)” Pramoedya Ananta Toer
Minggu, 22 September 2013
Surat Untuk Bapak Presiden
LOMBA Menulis Surat kepada Presiden RI terkait Dampak Buruk Perdagangan Bebas : http://www.satudunia.net/content/lomba-menulis-surat-kepada-presiden-ri-terkait-dampak-buruk-perdagangan-bebas
Terbanglah RajawaIi Bersama Generasi Emas Bangsa
“Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan
inilah harus menjadi Gitamu : “Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu
ghoiyiru ma biamfusihim”. ” Tuhan tidak akan merobah nasib manusia sebelum manusia
itu merobah nasibnya”
Pernyataan Bung Karno
diatas disampaikan pada HUT Proklamasi ke-18, tepatnya 18 Agustus 1963. Sosok
yang sangat familiar bagi bangsa Indonesia ini menekankan bahwa bangsa
Indonesia harus berjuang untuk mengubah nasibnya sendiri.
Mari kita tengok
perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Ketika enam puluh
delapan tahun lalu bangsa ini masih terbelenggu kejamnya penjajahan, teriakan
semangat merdeka terus berkobar dari dada rakyat Indonesia. Ratusan tahun
berjuang untuk melakukan sebuah perubahan yang didalamnya termasuk kebebasan
mengatur bangsanya sendiri. Kemerdekaan tersebut tidak akan pernah terwujud
jika berasal dari dari diri seorang saja. Ratusan bahkan ribuan jiwa telah
menyumbangkan darah, peluh, dan tenaga.
Hal ini menjadi bukti nyata dan catatan
sejarah betapa kuatnya keinginan bangsa ini untuk merdeka. Tiga setengah abad lebih
bangsa yang penuh dengan pesona khatulistiwa ini menjadi bangsa yang gersang karena kekayaan alam dan
manusianya dieksploitasi oleh penjajah.
Bahkan sampai saat ini
masih bisa dikatakan bahwa bangsa nan elok permata ini masih dijajah oleh
bangsa lain. Bangsa yang disebut Soekarno sebagai Rajawali pada HUT Proklamasi
ke-10 masih belum benar-benar terbebas dari belenggu penjajahan. Dan saat ini
semangat melawan penjajah masih menggema
meskipun tak seheroik dulu. Jika beberapa puluh tahun yang lalu bangsa ini
memerangi penjajah dengan kekuatan fisik, persenjataan yang kuat dan semangat
merdeka yang terus dikoarkan, lalu bagaimana dengan sekarang?
Akan terlihat konyol jika
saat ini kita masih meneriakkan kata merdeka. Karena saat ini sudah bukan
waktunya lagi melawan penjajahan dengan persenjataan seperti tombak, bamboo
runcing, mesiu, meriam, pistol dll untuk berperang. Melainkan memerangi
penjajahan di era modern ini dengan intelektualitas, kecerdasan otak, kepekaan
hati, dan kepedulian sosial. Karena penjajah di zaman sekarang adalah
kebodohan, kemiskinan, pengangguran, korupsi , globalisasi, kemajuan tehnologi,
dll. Bahkan seorang Pakar Hukum Tata Negara (Margito) mengatakan bahwa saat ini
banyak masyarakat Indonesia tidak pancasilais.
Pernyataan Margarito
disampaikan pada dialog kepemimpinan bersama Ketua The Presiden Center Eddy
Herwani Didied Mahaswara, dan pengamat politik UI Boni Hargens, di Jakarta,
Minggu (2/6/2013). Margarito dalam dialog tersebut menekankan bahwa masih banyak
calon legislatif (Caleg), dan Capres, yang jejak rekamnya tidak Pancasilais,
melainkan kapitalis, impresialis, dan neoliberalisme. Seluruh kebijakan
ekonomi, sosial politik, pendidikan, budaya, agama, dan sebagainya kurang menjiwai
Pancasila.
Namun sikap tidak
pancasilais tak hanya menjangkiti para politikus kita. Sebenarnya banyak
generasi muda yang sikapnya tidak pancasilais. Buktinya, masih banyak
diberitakan di media terjadinya sex bebas, abortus, mengkonsumsi obat-obaran
terlarang, tidak jujur dalam mengerjakan ulangan, tidak disiplin dll. Sikap
tidak pancasilais dapat merutuhkan kekokohan bangsa Indonesia. Ditambah lagi westernisasi mulai merasuki jiwa-jiwa
rakyat Indonesia yang semakin mengendur semangat nasionalismenya.
Ketika enam puluh delapan
tahun yang lalu bangsa ini membutuhkan pelajar, mahasiswa, pemuda, dan tokoh
masyarakat untuk menjadi gerilyawan dalam melawan penjajah, kini bangsa ini
tengah membutuhkan kaum berintelektual untuk berperang. Dan siapakah sosok yang
mendapatkan predikat berintelektualitas dalam bahasan ini? Tentunya kita, para
pelajar yang tengah mengenyam bangku pendidikan. Yang telah berkali-kali mendapat
asupan nutrisi pembelajaran mengenai wawasan kebangsaan, semangat, jiwa
nasionalisme dan patriotisme. Tentunya bukan hanya sebagai pelajar yang berkewajiban
untuk belajar yang duduk diam saat guru menerangkan dan menghalalkan segala
cara untuk mendapatkan nilai terbaik. Melainkan sebagai pelajar yang memiliki
kesadaran diri karena memegang sebuah kewajiban untuk bersikap pancasiais untuk
menjadi pewaris bangsa ini.
Generasi muda haruslah
menjadi sosok yang mampu menciptakan kreativitas, inovasi, menjadi revolusioner
dan serangkaian perubahan lainnya. Karena generasi muda adalah sosok yang
secara naluriah telah dipilih menjadi pemilik tongkat estafet kepemimpinan selanjutnya.
Kreativ juga memiliki
pengertian di banyak bidang. Bidang ekonomi misalnya, David Mc
Clelland menyatakan bahwa sebuah bangsa akan makmur jika memiliki entrepreneur sebesar 2% dari total
penduduknya. Sedangkan
Indonesia pada tahun 2012 hanya sebesar 1,56% dari jumlah penduduk, sedangkan
di negara tetangga seperti Malaysia mencapai 4%, Thailand 4,1% dan Singapura
telah mencatat 7,2%.
Bangsa
Indonesia dibesarkan oleh semangat, seperti semangat untuk meraih kemerdekaan.
Bangsa Indonesia juga dibesarkan oleh budaya yang jumlahnya ribuan karena
Indonesia sendiri adalah negara plural. Namun satu yang sangat disayangkan,
bangsa Indonesia tidak dibesarkan oleh budaya wirausaha. Budaya wirausaha baru
beberapa tahun terakhir mulai digerakkan. Padahal Indonesia memiliki kekayaan
alam yang melimpah ruah. Hasil kelapa sawit Indonesia menduduki nomor satu di
dunia, disusul karet menduduki peringkat tiga, tembaga nomor lima, emas nomor
tujuh dan gas alam nomor delapan, serta kekayaan laut yang banyak.
Jika seorang generasi
muda kreativ dan memiliki jiwa berwirausaha akan memberikan warna yang baru
bagi dunia perekonomian, karena bisa diketahui bahwa Indonesia juga bagian dari
pasar bebas dunia yang menyebabkan banyak investor dan produk asing masuk
Indonesia.
Buktinya, gas alam
Indonesia banyak dikelola oleh perusahaan asing seperti PT Freeport di Papua,
Exxon Mobil dan Petrocina di Bojonegoro. Selain itu produk asing juga semakin
merajai pasar Indonesia yang mengakibatkan terjadi politik dumping yang merugikan pasaran lokal utamanya usaha mikro.
Jika generasi muda
bersemangat dalam menggapai mimpi, kelak juga akan mampu menjadi pembisnis atau
wirausaha yang hebat. Perekonomian Indonesia dapat meningkat karena produk
lokal diminati oleh masyarakat Indonesia sendiri dan mampu merambah ke luar negeri,
selain itu dengan membuka bisnis dapat mengurangi pengangguran karena menyerap
tenaga kerja. Hingga akhirnya dapat berkontribusi dalam memperbaiki roda
perekonomian, turut serta mensejahterkan rakyat.
Bukankah kita yang sekarang
ini tengah mengenyam pendidikan bangku sekolah menengah atas seringkali disosialisasikan
mengenai pendidikan entrepreneurship agar
memiliki softskill setelah lulus. Dan tak hanya softskill di bidang ekonomi saja, tentunya setiap pribadi memiliki softskill yang berbeda-beda. Yang perlu
dipahami adalah, bagaimanapun juga seorang pemuda harus memberikan kontribusi
untuk bangsanya sesuai potensi yang dimiliki.
Karena pada umumnya, masa
keeemasan orang berada di saat dia menjadi seorang pemuda. Jiwa dan kewajiban
pemuda tidak akan berubah. Pemuda ketika zaman penjajahan, pemuda di zaman
global ini dan pemuda di zaman millennium yang akan datang tetap akan menjadi penggerak
peradaban. Pemuda adalah monitor penggerak sebuah bangsa, akan menjadi apa
bangsanya nanti juga tergantung bagaimana pemuda bermimpi, berinovasi,
berkreasi dan bercita-cita. Karena pemuda
kelak akan menduduki kursi pemerintahan, menjadi tokoh masyarakat dan menjadi
pemimpin bangsa.
Jika ditelisik lebih dalam dapat kita ketahui mulai
dari terbentuknya gerakan Boedi Oetomo
sebagai organisasi yang dapat dikatakan sebagai awal dibentuknya organisasi nasional
yang bersifat kepemudaan. Dilanjutkan dengan perjuangan di tahun 1928 yang
berhasil mempelopori persatuan nasional melalui Sumpah Pemuda. Dahsyatnya semangat Yusuf Kunto dan WIkana dalam yang
membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok agar segera memproklamirkan
kemerdekaan dan tidak terpengaruh oleh Jepang, penghapusan anggota PKI yang
mengakibatkan aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh para pemuda di tahun 1965 yang
mengakibatkan beberapa mahasiswa tewas akibat tembakan pasukan cakrabirawa dan
mendapatkan gelar Pahlawan Ampera serta gerakan reformasi tahun 1998 juga
dilatarbelakangi oleh pemuda.
Menurut Rizal Ramli
mantan Menteri Perekonomian Indonesia yang memberikan sambutan pada saat
diadakannya Leaders Dialogue 9 di Universitas Indonesia, beliau mengemukakan
bahwa ada banyak cara yang bisa pemuda lakukan sebagai bentuk kontribusinya
pada pemerintahan. Pertama dengan kita taat hukum, maka setidaknya kita sudah
berkontribusi pada Indonesia. Yang kedua, dengan mengikuti pendidikan sosial
yang baik, pendidikan sosial bisa meningkatkan kesejahteraan kita dan pemaknaan
kita akan hidup yang baik. Yang ketiga adalah realisasikan impian-impianmu yang
sudah dibuat dulu. Selain itu sebagai pemuda kita harus gesit otak, gesit
tangan dan gesit gaul. Kegesitan itu harus dipupuk dan dilatih sedari sekarang
dengan jalan mengikuti pendidikan softskill dan berorganisasi, karena Anda di
25 tahun mendatang adalah akumulasi tindakan yang anda lakukan sekarang ketika
masih menjadi pemuda.
Bung
Karno, presiden pertama kita juga berkata bahwa “Gantungkan cita-cita mu
setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau
akan jatuh di antara bintang-bintang”.
Rajawali
tengah mencari sosok-sosok yang mampu membawanya melambung tinggi ke angkasa,
membawa
Rajawali terbang bebas menyusuri cakrawala dunia. Melepaskan diri dari jeratan
sangkar emasnya dan itulah kewajiban kita sebagai generasi muda Indonesia
Betapa
hebatnya kekuatan seorang pemuda yang menjadi ruang penggerak sebuah perubahan.
Sebuah bangsa tidak akan berdiri dengan kokoh dan maju jika para pemuda tidak
bersatu membentuk sebuah pergerakan perubahan. Dan hanyalah pemuda yang kritis
dan berani yang akan membuat perubahan itu. Jangan hanya menjadi pemilik bangsa
yang hanya pandai membuat slogan, namun jadilah bangsa yang mampu
merealisasikan sebuah slogan.
Terbanglah Rajawali, Hidup Generasi
Emas Indonesia!
Mahasiswa dan Ranah Organsiasi
Ini adalah catatan yang mampu membantu menjabarkan pikiran pemuda
Indonesia. Bagaimana seharusnya mahasiswa berperan dalam membangun masa depan
bangsa.
Kemelut
politik dan ekonomi yang terjadi di masa orde lama atau biasa disebut dengan
ORLA terjadi dari thun 1965-1966 dan mengalami gejolak yang kian memanas pada
bulan Januari hingga Pebruari 1966. Sejarah mencatat bahwa pada tanggal 24
Pebruari 1966 seorang mahasiswa bernama Arief Rahman Hakim gugur saat melakukan
unjuk rasa yang bertujuan untuk menumbangkan rezim orde lama. Tak hanya Arief
Rahman Hakim saja yang gugur dalam aksi unjuk rasa saat itu, ada sederet nama
yag menyertainya, seperti Zubaedah, Ikhwan Ridwan Rais, dll.
Aksi unjuk
rasa tersebut terjadi karena ketidakpuasan masyarakat terhadap tindakan Presiden Soekarno pada 24 Pebruari 1966 yang bermaksud
melantik menteri kabinet baru yaitu "Kabinet Seratus Menteri” yang
anggotanya mencerminkankan ketidakberdayaan Soekarno dalam mengendalikan
situasi politik dan ekonomi Indonesia yang semakin memanas.
Salah satu
anggota menteri yang akan dilantik oleh Soekarno adalah seorang tokoh militer
yang dikenal masyarakat sebagai pemimpin copet di Jakarta. Kabinet yang nama
resminya disebut sebagai “Kabinet Gotongroyong yang lebih disempurnakan lagi”
itu ditolak keberadaannya oleh para mahasiswa, pelajar dan berbagai kelompok
masyarakat yang lain.
Salah satu
upaya penolakan itu dengan dilakukannya unjuk rasa pada hari itu. Mereka yang
berunjuk rasa bukan hanya mahasiswa dan pelajar dari atau di Jakarta saja,
melainkan dari mana-mana. Pagi itu, seorang mahasiswa UI bernama Arief Rahman
Hakim turut serta melakukan aksi unjuk rasa bersama para demonstran yang lain
di depan Markas Resimen Cakrabirawa.
Selayaknya
orang berdemo, para demonstran terus meneriakkan tuntutan mereka dan tak
segan-segan mengutarakan kata-kata pedas bagi tokoh yang mereka maksud. Pasukan
Cakrabirawa yang bertugas di seberang jalan merasa tak tahan dengan teriakan
dan ejekan para demonstran hingga akhirnya pasukan cakrabirawa meletupkan
tembakan bertubi-tubi ke arah para demonstran.
Para
demonstran panik dan berpencar tak karuan. Dan ditengah kepanikan itulah Arief
Rahman Hakim terkena rentetan timah panas pasukan cakrabirawa. Arief Rahman
Hakim tewas ketika perjalanan menuju rumah sakit. Ya, mahasiswa dari
Universitas Indonesia yang mengenakan almamater berwarna kuning itu tewas
bersimbah darah dalam perjuangan menurunkan tirani Indonesia. Arief Rahman
Hakim dan para demonstran yang tewas pada waktu itu diangkat sebagai pahlawan
ampera dan dikukuhkan dalam TAP MPRS No. XXIX/MPRS/1996.
Sedikit
cuplikan catatan sejarah bagaimana generasi muda atau mahasiswa menjadi agen
perubahan suatu bangsa. Para aktivis yang notabenenya adalah para mahasiswa kala
itu tengah berjuang untuk menuntut perubahan bangsanya menjadi lebih baik, yang
menuntut sebuah keadilan dan kebijakan agar bisa dirasakan masyarakat utamanya.
Sosok Arief
Rahman Hakim dan mahasiswa yang menjadi aktivis saat itu sudah sepatutnya
menjadi contoh bagi generasi muda sekarang ini. Tentunya generasi muda sekarang
ini harus mengambil contoh dalam segi positifnya, semangatnya. Bagaimana tidak?
Mahasiswa lah yang nantinya akan menjadi agent
of change alias agen perubahan bagi dirinya, lingkungannya dan
masyarakatnya. Oleh karena itu, diharapkan mahasiswa sebagai generasi muda
dapat turut serta berkecimpung di ranah organisasi untuk menggambleng
mentalitas. Walaupun sudah banyak mahasiswa yang berkecimpung di ranah
organisasi, namun jumlahnya masih sepersekian kecil dari jumlah mahasiswa yang
ada.
Mahasiswa tak
hanya dituntut untuk menjadi agent of
change saja, melainkan juga menjadi agen pemberdayaan alias moral force atau sebagai pemertahan
nilai-nilai moral yang terdapat di masyarakat, dan diharapkan menjadi ironstock alias seorang pemimpin yang
sesuai dengan criteria Indonesia yang menganut ideologi terbuka pancasila. Namun
pada kenyataannya masih banyak mahasiswa yang beranggapan bahwa perannya hanyalah
ngampus. Mengerjakan tugas kuliah dan
mendengarkan dosen saat menerangkan mata pelajaran kuliah agar bisa mendapatkan
indeks prestasi tinggi yang berguna di dunia kerja nanti.
Paradigma
yang seperti inilah yang hasus diluruskan, memang benar bahwa tugas mahasiswa
adalah seperti yang dijelaskan diatas, namun seorang mahasiswa sesungguhnya
juga memiliki peran-peran lain diluar jam kuliah atau urusan kampus. Masih
ingatkah dengan Tridharma perguruan tinggi yang merupakan tiga pilar dasar pola
pikir yang menjadi kewajiban bagi mahasiswa sebagai golongan intelektual di
negara ini. Tentunya Tridharma bukan saja harus diingat oleh mahasiswa, melainkan
harus dilaksanakan karena Tridharma adalah sebuah kewajiban yang harus
dikerjakan dan diamalkan.
Mahasiswa adalah
kaum intelektual berpendidikan tinggi yang nantinya dapat mengimplementasikan
apa yang didapatkan pada saat kuliah dalam kehidupan bermasyarakat sehingga
seorang mahasiswa dapat mengabdikan dirinya dalam masyarakat, karena mahasiswa
berperan menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah.
Mahasiswa
juga beperan untuk membela kepentingan masyarakat yang artinya menjunjung
tinggi nilai-nilai luhur pendidikan, lalu mengkaji terlebih dahulu, setelah itu
memahami, dan kemudian mensosialisasikannya pada masyarakat. Mahasiswa memiliki
ilmu tentang permasalahan yang ada, mahasiswa juga yang dapat membuka mata masyarakat
sebagai salah satu bentuk pengabdian terhadap masyarakat.
Lalu, apa
peran organisasi dalam hal ini?
Seperti yang
sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa organisasi dapat dijadikan sebagi media
untuk menggambleng mentalitas generasi muda. Organisasi mampu mencetak manusia menjadi
insan yang lebih peka terhadap lingkungan. Dengan berorganisasi sesorang akan
belajar bagaimana berkomunikasi dengan berbagai pihak, berargumentasi dalam
menyelesaikan masalah, mengeksplorasi dan mempresentasikan suatu gagasan atau
konsep sebuah rencana kegiatan.
Organisasi senderung menuntut bagaimana
seseorang harus bekerja rasa totalitas dan loyalitas yang tinggi. Agar apa yang
menjadi tujuan dari organisasi tersebut dapat dicapai sesuai hasil yang
diharapkan. Perlu diingat bahwa organisasi kemahasiswaan bukanlah sekadar wadah
politik kampus melainkan organisasi mahasiswa juga menanamkan nilai-nilai
ilmiah yang juga dapat menunjang proses belajar mahasiswa secara akademis. Jika
mahasiswa acuh terhadap lingkungan atau misalnya tidak suka berorganisasi akan
mengakibatkan sikap individualis.
Lalu apakah
bisa menggantungkan sebuah harapan pada mahasiswa jika mahasiswa (baca:generasi
muda) acuh terhadap lingkungan? Tentunya tidak. Karena mahasiswa membutuhkan softskill selain di jurusan yang
dipelajarinya. Misalnya softskill mengenai kepemimpinan, kemampuan
memposisiskan diri, interaksi lintas generasi dan sensitivitas atau kepekaan
lingkungan yang tinggi.
Dicontohkan Institut
Pertanian Bogor yang memiliki banyak organisasi kemahasiswaan. Seperti DPM dan
BEM. BEM di kampus IPB juga terbagi menjadi 10 BEM yaitu BEM A - BEM J. BEM J
memiliki desa binaan untuk mensosialisasikan mengenai dunia pertanian untuk masyarakat
desa agar para petani memiliki pemahaman yang lebih detail darpipada hanya
sekedar bertani lalu panen. Namun lebih menekankan bagaimana menjadi petani
yang berkualitas agar bisa bertani sesuai dengan harapan yang utamanya adalah
memanen hasil yang semaksimal mungkin. Dan tentunya juga memberikan pemahaman
mengenai bagaimana caranya meminimalisir biaya operasional perawatan tanaman,
bagaimana cara menghalau penyakit dan hama yang menyerang tanaman sehingga
dapat memanen hasil yang maksimal.
Selain desa
binaan BEM J juga bertugas untuk mengurus mahasiswa berprestasi, menyalurkan
beasiswa bagi mahasiswa yang secara materi kurang memadai, menyampaikan
aspirasi mahasiswa kepada civitas akademik, mengembangkan sumber daya manusia
khususnya potensi yang dimiliki oleh mahasiswa-mahasiswi Institut Pertanian
Bogor dan masih banyak peran BEM J.
Dan peryataan
diatas merupakan beberapa bukti konkret yang dapat menyatakan bahwa sebuah
organisasi berfungsi sebagai mediator agar seseorang bisa mengenali
lingkungannya dan dapat berkontribusi untuk lingkungannya.
Dan sosok Arief
Rahman Hakim serta pahlawan ampera lain, seyogyangya mampu menjadi pemantik
semangat generasi muda saat ini. Ironis jika sosok mahasiswa yang berkewajiban menjadi
agent of change, moral value dan ironstock tak melaksanakan
kewajiban-kewajiban tersebut. Karena masa depan sebuah bangsa tergantung
bagaimana generasi mudanya berusaha.
Jaya
Mahasiswa, Jaya Indonesia raih Masa Depan Nan Jaya!
Langganan:
Postingan (Atom)