Minggu, 22 September 2013

Surat Untuk Bapak Presiden


LOMBA Menulis Surat kepada Presiden RI terkait Dampak Buruk Perdagangan Bebas : http://www.satudunia.net/content/lomba-menulis-surat-kepada-presiden-ri-terkait-dampak-buruk-perdagangan-bebas 

 

Teruntuk Bapak Presiden,
Kemajuan tehnologi yang semakin tak terkendali menuntut seluruh elemen masyarakat Indonesia siap tidak siap harus siap menghadapi era persaingan yang semakin global. Tehnologi yang semakin canggih tentu saja dapat mempermudah kehidupan manusia. Masyarakat Indonesia yang konsumtif haruslah selektif dalam menyikapi perkembangan tehnologi. Karena kemajuan tehnologi juga berdampak pada sektor perekonomian. Ditambah lagi dengan adanya perdagangan bebas yang berkembang 10 tahun terakhir mengakibatkan pergeseran sistem perekonomian yang sebelumnya padat karya menjadi padat modal.
Perdagangan bebas memang memberikan keuntungan. Khususnya pemerintah dan pelaku bisnis berskala nasional hingga internasional. Namun di Indonesia pelaku bisnis dalam skala internasional dan nasional jumlahnya lebih kecil dibandingkan dalam skala lokal atau mikro. Keikutsertaan Indonesia dalam perdagangan bebas sepertinya perlu dikaji lagi. Saya yang sekarang ini tengah mengenyam pendidikan SMA mencoba untuk mengkaji adanya perdagangan bebas. Terlebih lagi karenakan saya juga mendapatkan materi mengenai perdagangan bebas di sekolah.
Pak, saya pernah membaca sebuah slideshow yang dibuat oleh Dr.Ir.Ciputra (Founder of UCEC) yang  digunakan untuk memberikan seminar yang bertajuk “Pendidikan Entrepeneurship di Abad 21”. Beliau mengulas pendapat dari Mc Clelland yang menyatakan bahwa negara dapat dikatakan makmur jika memiliki entrepreneur sejumlah 2% dari total penduduk. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Beliau menginformasikan bahwa pada tahun 2007 jumlah entrepreneur di Indonesia hanya 0.18% saja. Meskipun data tersebut dikaji 6 tahun yang lalu saya menyakini bahwa sampai saat ini jumlah entrepeneur di Indonesia belum mencapai 2%. Menurut data yang saya peroleh, di awal tahun 2012 jumah wirausaha di Indonesia masih 1.58%.
Pak, guru saya pernah bercerita bahwa ketika beliau berada di Singapura, beliau melihat kerajinan tas yang berasal dari Tanggulangin Sidoarjo dijual dengan diberi label Made In Singapura. Ironis melihat kenyataan tersebut, tidak hanya budaya saja yang diklaim oleh negara lain. Bahkan dari sektor bisnis yang pelakunya bukan dari sekelompok orang kini mulai mengklaim hasil kerajinan Indonesia.
Jika hal ini terus dibiarkan terjadi bagaimana dengan nasib Indonesia selanjutnya? Apakah Indonesia sudah siap dengan terjadinya perdagangan bebas? Menurut saya pribadi belum. Karena masih banyak diberitakan di media massa terkait pengusaha lokal yang terancam gulung tikar karena produk asing semakin merajai pasaran. Ditambah lagi, para pengusaha mengeluh karena omzet yang didapatkan menurun akibat rendahnya permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa yang mereka perdagangkan. Karena dalam diri masyarakat Indonesia sekarang ini tengah berkembang budaya konsumtif dengan pemikiran produk luar negeri lebih terjamin kualitasnya dan lebih murah. Ditambah lagi bangsa kita ini tengah mengalami kemerosotan moral akibat westernisasi yang terus masuk dalam sendi-sendi kehidupan rakyat Indonesia.
Semoga saja apa yang saya tulis ini dapat memberikan asupan semangat bagi siapapun yang membacanya agar lebih mencintai produk dalam negeri dan lebih kreatif serta inovatif dalam berwirausaha.

Terbanglah RajawaIi Bersama Generasi Emas Bangsa


 “Firman Tuhan inilah gitaku, Firman Tuhan inilah harus menjadi Gitamu : “Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim”. ” Tuhan tidak akan merobah nasib manusia sebelum manusia itu merobah nasibnya” 

Pernyataan Bung Karno diatas disampaikan pada HUT Proklamasi ke-18, tepatnya 18 Agustus 1963. Sosok yang sangat familiar bagi bangsa Indonesia ini menekankan bahwa bangsa Indonesia harus berjuang untuk mengubah nasibnya sendiri.
Mari kita tengok perjuangan bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Ketika enam puluh delapan tahun lalu bangsa ini masih terbelenggu kejamnya penjajahan, teriakan semangat merdeka terus berkobar dari dada rakyat Indonesia. Ratusan tahun berjuang untuk melakukan sebuah perubahan yang didalamnya termasuk kebebasan mengatur bangsanya sendiri. Kemerdekaan tersebut tidak akan pernah terwujud jika berasal dari dari diri seorang saja. Ratusan bahkan ribuan jiwa telah menyumbangkan darah, peluh, dan tenaga.
 Hal ini menjadi bukti nyata dan catatan sejarah betapa kuatnya keinginan bangsa ini untuk merdeka. Tiga setengah abad lebih bangsa yang penuh dengan pesona khatulistiwa ini menjadi  bangsa yang gersang karena kekayaan alam dan manusianya dieksploitasi oleh penjajah.
Bahkan sampai saat ini masih bisa dikatakan bahwa bangsa nan elok permata ini masih dijajah oleh bangsa lain. Bangsa yang disebut Soekarno sebagai Rajawali pada HUT Proklamasi ke-10 masih belum benar-benar terbebas dari belenggu penjajahan. Dan saat ini semangat melawan penjajah masih  menggema meskipun tak seheroik dulu. Jika beberapa puluh tahun yang lalu bangsa ini memerangi penjajah dengan kekuatan fisik, persenjataan yang kuat dan semangat merdeka yang terus dikoarkan, lalu bagaimana dengan sekarang?
Akan terlihat konyol jika saat ini kita masih meneriakkan kata merdeka. Karena saat ini sudah bukan waktunya lagi melawan penjajahan dengan persenjataan seperti tombak, bamboo runcing, mesiu, meriam, pistol dll untuk berperang. Melainkan memerangi penjajahan di era modern ini dengan intelektualitas, kecerdasan otak, kepekaan hati, dan kepedulian sosial. Karena penjajah di zaman sekarang adalah kebodohan, kemiskinan, pengangguran, korupsi , globalisasi, kemajuan tehnologi, dll. Bahkan seorang Pakar Hukum Tata Negara (Margito) mengatakan bahwa saat ini banyak masyarakat Indonesia tidak pancasilais.
Pernyataan Margarito disampaikan pada dialog kepemimpinan bersama Ketua The Presiden Center Eddy Herwani Didied Mahaswara, dan pengamat politik UI Boni Hargens, di Jakarta, Minggu (2/6/2013). Margarito dalam dialog tersebut menekankan bahwa masih banyak calon legislatif (Caleg), dan Capres, yang jejak rekamnya tidak Pancasilais, melainkan kapitalis, impresialis, dan neoliberalisme. Seluruh kebijakan ekonomi, sosial politik, pendidikan, budaya, agama, dan sebagainya kurang menjiwai Pancasila.
Namun sikap tidak pancasilais tak hanya menjangkiti para politikus kita. Sebenarnya banyak generasi muda yang sikapnya tidak pancasilais. Buktinya, masih banyak diberitakan di media terjadinya sex bebas, abortus, mengkonsumsi obat-obaran terlarang, tidak jujur dalam mengerjakan ulangan, tidak disiplin dll. Sikap tidak pancasilais dapat merutuhkan kekokohan bangsa Indonesia. Ditambah lagi westernisasi mulai merasuki jiwa-jiwa rakyat Indonesia yang semakin mengendur semangat nasionalismenya.
Ketika enam puluh delapan tahun yang lalu bangsa ini membutuhkan pelajar, mahasiswa, pemuda, dan tokoh masyarakat untuk menjadi gerilyawan dalam melawan penjajah, kini bangsa ini tengah membutuhkan kaum berintelektual untuk berperang. Dan siapakah sosok yang mendapatkan predikat berintelektualitas dalam bahasan ini? Tentunya kita, para pelajar yang tengah mengenyam bangku pendidikan. Yang telah berkali-kali mendapat asupan nutrisi pembelajaran mengenai wawasan kebangsaan, semangat, jiwa nasionalisme dan patriotisme. Tentunya bukan hanya sebagai pelajar yang berkewajiban untuk belajar yang duduk diam saat guru menerangkan dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan nilai terbaik. Melainkan sebagai pelajar yang memiliki kesadaran diri karena memegang sebuah kewajiban untuk bersikap pancasiais untuk menjadi pewaris bangsa ini.
Generasi muda haruslah menjadi sosok yang mampu menciptakan kreativitas, inovasi, menjadi revolusioner dan serangkaian perubahan lainnya. Karena generasi muda adalah sosok yang secara naluriah telah dipilih menjadi pemilik tongkat estafet kepemimpinan selanjutnya.
Kreativ juga memiliki pengertian di banyak bidang. Bidang ekonomi misalnya, David Mc Clelland menyatakan bahwa sebuah bangsa akan makmur jika memiliki entrepreneur sebesar 2% dari total penduduknya. Sedangkan Indonesia pada tahun 2012 hanya sebesar 1,56% dari jumlah penduduk, sedangkan di negara tetangga seperti Malaysia mencapai 4%, Thailand 4,1% dan Singapura telah mencatat 7,2%.
Bangsa Indonesia dibesarkan oleh semangat, seperti semangat untuk meraih kemerdekaan. Bangsa Indonesia juga dibesarkan oleh budaya yang jumlahnya ribuan karena Indonesia sendiri adalah negara plural. Namun satu yang sangat disayangkan, bangsa Indonesia tidak dibesarkan oleh budaya wirausaha. Budaya wirausaha baru beberapa tahun terakhir mulai digerakkan. Padahal Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah. Hasil kelapa sawit Indonesia menduduki nomor satu di dunia, disusul karet menduduki peringkat tiga, tembaga nomor lima, emas nomor tujuh dan gas alam nomor delapan, serta kekayaan laut yang banyak.
Jika seorang generasi muda kreativ dan memiliki jiwa berwirausaha akan memberikan warna yang baru bagi dunia perekonomian, karena bisa diketahui bahwa Indonesia juga bagian dari pasar bebas dunia yang menyebabkan banyak investor dan produk asing masuk Indonesia.
Buktinya, gas alam Indonesia banyak dikelola oleh perusahaan asing seperti PT Freeport di Papua, Exxon Mobil dan Petrocina di Bojonegoro. Selain itu produk asing juga semakin merajai pasar Indonesia yang mengakibatkan terjadi politik dumping yang merugikan pasaran lokal utamanya usaha mikro.
Jika generasi muda bersemangat dalam menggapai mimpi, kelak juga akan mampu menjadi pembisnis atau wirausaha yang hebat. Perekonomian Indonesia dapat meningkat karena produk lokal diminati oleh masyarakat Indonesia sendiri dan mampu merambah ke luar negeri, selain itu dengan membuka bisnis dapat mengurangi pengangguran karena menyerap tenaga kerja. Hingga akhirnya dapat berkontribusi dalam memperbaiki roda perekonomian, turut serta mensejahterkan rakyat.
Bukankah kita yang sekarang ini tengah mengenyam pendidikan bangku sekolah menengah atas seringkali disosialisasikan mengenai pendidikan entrepreneurship agar memiliki softskill setelah lulus.  Dan tak hanya softskill di bidang ekonomi saja, tentunya setiap pribadi memiliki softskill yang berbeda-beda. Yang perlu dipahami adalah, bagaimanapun juga seorang pemuda harus memberikan kontribusi untuk bangsanya sesuai potensi yang dimiliki.
Karena pada umumnya, masa keeemasan orang berada di saat dia menjadi seorang pemuda. Jiwa dan kewajiban pemuda tidak akan berubah. Pemuda ketika zaman penjajahan, pemuda di zaman global ini dan pemuda di zaman millennium yang akan datang tetap akan menjadi penggerak peradaban. Pemuda adalah monitor penggerak sebuah bangsa, akan menjadi apa bangsanya nanti juga tergantung bagaimana pemuda bermimpi, berinovasi, berkreasi dan bercita-cita. Karena  pemuda kelak akan menduduki kursi pemerintahan, menjadi tokoh masyarakat dan menjadi pemimpin bangsa.
 Jika ditelisik lebih dalam dapat kita ketahui mulai dari terbentuknya gerakan Boedi Oetomo sebagai organisasi yang dapat dikatakan sebagai awal dibentuknya organisasi nasional yang bersifat kepemudaan. Dilanjutkan dengan perjuangan di tahun 1928 yang berhasil mempelopori persatuan nasional melalui Sumpah Pemuda. Dahsyatnya semangat Yusuf Kunto dan WIkana dalam yang membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok agar segera memproklamirkan kemerdekaan dan tidak terpengaruh oleh Jepang, penghapusan anggota PKI yang mengakibatkan aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh para pemuda di tahun 1965 yang mengakibatkan beberapa mahasiswa tewas akibat tembakan pasukan cakrabirawa dan mendapatkan gelar Pahlawan Ampera serta gerakan reformasi tahun 1998 juga dilatarbelakangi oleh pemuda.
Menurut Rizal Ramli mantan Menteri Perekonomian Indonesia yang memberikan sambutan pada saat diadakannya Leaders Dialogue 9 di Universitas Indonesia, beliau mengemukakan bahwa ada banyak cara yang bisa pemuda lakukan sebagai bentuk kontribusinya pada pemerintahan. Pertama dengan kita taat hukum, maka setidaknya kita sudah berkontribusi pada Indonesia. Yang kedua, dengan mengikuti pendidikan sosial yang baik, pendidikan sosial bisa meningkatkan kesejahteraan kita dan pemaknaan kita akan hidup yang baik. Yang ketiga adalah realisasikan impian-impianmu yang sudah dibuat dulu. Selain itu sebagai pemuda kita harus gesit otak, gesit tangan dan gesit gaul. Kegesitan itu harus dipupuk dan dilatih sedari sekarang dengan jalan mengikuti pendidikan softskill dan berorganisasi, karena Anda di 25 tahun mendatang adalah akumulasi tindakan yang anda lakukan sekarang ketika masih menjadi pemuda.  
Bung Karno, presiden pertama kita juga berkata bahwa “Gantungkan cita-cita mu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit.  Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang”.
Rajawali tengah mencari sosok-sosok yang mampu membawanya melambung tinggi ke angkasa, membawa Rajawali terbang bebas menyusuri cakrawala dunia. Melepaskan diri dari jeratan sangkar emasnya dan itulah kewajiban kita sebagai generasi muda Indonesia
            Betapa hebatnya kekuatan seorang pemuda yang menjadi ruang penggerak sebuah perubahan. Sebuah bangsa tidak akan berdiri dengan kokoh dan maju jika para pemuda tidak bersatu membentuk sebuah pergerakan perubahan. Dan hanyalah pemuda yang kritis dan berani yang akan membuat perubahan itu. Jangan hanya menjadi pemilik bangsa yang hanya pandai membuat slogan, namun jadilah bangsa yang mampu merealisasikan sebuah slogan.
Terbanglah Rajawali, Hidup Generasi Emas Indonesia!


Mahasiswa dan Ranah Organsiasi



Ini adalah catatan yang mampu membantu menjabarkan pikiran pemuda Indonesia. Bagaimana seharusnya mahasiswa berperan dalam membangun masa depan bangsa.

Kemelut politik dan ekonomi yang terjadi di masa orde lama atau biasa disebut dengan ORLA terjadi dari thun 1965-1966 dan mengalami gejolak yang kian memanas pada bulan Januari hingga Pebruari 1966. Sejarah mencatat bahwa pada tanggal 24 Pebruari 1966 seorang mahasiswa bernama Arief Rahman Hakim gugur saat melakukan unjuk rasa yang bertujuan untuk menumbangkan rezim orde lama. Tak hanya Arief Rahman Hakim saja yang gugur dalam aksi unjuk rasa saat itu, ada sederet nama yag menyertainya, seperti Zubaedah, Ikhwan Ridwan Rais, dll.
Aksi unjuk rasa tersebut terjadi karena ketidakpuasan masyarakat terhadap tindakan  Presiden Soekarno pada 24 Pebruari 1966 yang bermaksud melantik menteri kabinet baru yaitu "Kabinet Seratus Menteri” yang anggotanya mencerminkankan ketidakberdayaan Soekarno dalam mengendalikan situasi politik dan ekonomi Indonesia yang semakin memanas.
Salah satu anggota menteri yang akan dilantik oleh Soekarno adalah seorang tokoh militer yang dikenal masyarakat sebagai pemimpin copet di Jakarta. Kabinet yang nama resminya disebut sebagai “Kabinet Gotongroyong yang lebih disempurnakan lagi” itu ditolak keberadaannya oleh para mahasiswa, pelajar dan berbagai kelompok masyarakat yang lain.
Salah satu upaya penolakan itu dengan dilakukannya unjuk rasa pada hari itu. Mereka yang berunjuk rasa bukan hanya mahasiswa dan pelajar dari atau di Jakarta saja, melainkan dari mana-mana. Pagi itu, seorang mahasiswa UI bernama Arief Rahman Hakim turut serta melakukan aksi unjuk rasa bersama para demonstran yang lain di depan Markas Resimen Cakrabirawa.
Selayaknya orang berdemo, para demonstran terus meneriakkan tuntutan mereka dan tak segan-segan mengutarakan kata-kata pedas bagi tokoh yang mereka maksud. Pasukan Cakrabirawa yang bertugas di seberang jalan merasa tak tahan dengan teriakan dan ejekan para demonstran hingga akhirnya pasukan cakrabirawa meletupkan tembakan bertubi-tubi ke arah para demonstran.
Para demonstran panik dan berpencar tak karuan. Dan ditengah kepanikan itulah Arief Rahman Hakim terkena rentetan timah panas pasukan cakrabirawa. Arief Rahman Hakim tewas ketika perjalanan menuju rumah sakit. Ya, mahasiswa dari Universitas Indonesia yang mengenakan almamater berwarna kuning itu tewas bersimbah darah dalam perjuangan menurunkan tirani Indonesia. Arief Rahman Hakim dan para demonstran yang tewas pada waktu itu diangkat sebagai pahlawan ampera dan dikukuhkan dalam TAP MPRS No. XXIX/MPRS/1996.
Sedikit cuplikan catatan sejarah bagaimana generasi muda atau mahasiswa menjadi agen perubahan suatu bangsa. Para aktivis yang notabenenya adalah para mahasiswa kala itu tengah berjuang untuk menuntut perubahan bangsanya menjadi lebih baik, yang menuntut sebuah keadilan dan kebijakan agar bisa dirasakan masyarakat utamanya.
Sosok Arief Rahman Hakim dan mahasiswa yang menjadi aktivis saat itu sudah sepatutnya menjadi contoh bagi generasi muda sekarang ini. Tentunya generasi muda sekarang ini harus mengambil contoh dalam segi positifnya, semangatnya. Bagaimana tidak? Mahasiswa lah yang nantinya akan menjadi agent of change alias agen perubahan bagi dirinya, lingkungannya dan masyarakatnya. Oleh karena itu, diharapkan mahasiswa sebagai generasi muda dapat turut serta berkecimpung di ranah organisasi untuk menggambleng mentalitas. Walaupun sudah banyak mahasiswa yang berkecimpung di ranah organisasi, namun jumlahnya masih sepersekian kecil dari jumlah mahasiswa yang ada.
Mahasiswa tak hanya dituntut untuk menjadi agent of change saja, melainkan juga menjadi agen pemberdayaan alias moral force atau sebagai pemertahan nilai-nilai moral yang terdapat di masyarakat, dan diharapkan menjadi ironstock alias seorang pemimpin yang sesuai dengan criteria Indonesia yang menganut ideologi terbuka pancasila. Namun pada kenyataannya masih banyak mahasiswa yang beranggapan bahwa perannya hanyalah ngampus. Mengerjakan tugas kuliah dan mendengarkan dosen saat menerangkan mata pelajaran kuliah agar bisa mendapatkan indeks prestasi tinggi yang berguna di dunia kerja nanti.
Paradigma yang seperti inilah yang hasus diluruskan, memang benar bahwa tugas mahasiswa adalah seperti yang dijelaskan diatas, namun seorang mahasiswa sesungguhnya juga memiliki peran-peran lain diluar jam kuliah atau urusan kampus. Masih ingatkah dengan Tridharma perguruan tinggi yang merupakan tiga pilar dasar pola pikir yang menjadi kewajiban bagi mahasiswa sebagai golongan intelektual di negara ini. Tentunya Tridharma bukan saja harus diingat oleh mahasiswa, melainkan harus dilaksanakan karena Tridharma adalah sebuah kewajiban yang harus dikerjakan dan diamalkan.
Mahasiswa adalah kaum intelektual berpendidikan tinggi yang nantinya dapat mengimplementasikan apa yang didapatkan pada saat kuliah dalam kehidupan bermasyarakat sehingga seorang mahasiswa dapat mengabdikan dirinya dalam masyarakat, karena mahasiswa berperan menjadi penghubung antara masyarakat dan pemerintah.
Mahasiswa juga beperan untuk membela kepentingan masyarakat yang artinya menjunjung tinggi nilai-nilai luhur pendidikan, lalu mengkaji terlebih dahulu, setelah itu memahami, dan kemudian mensosialisasikannya pada masyarakat. Mahasiswa memiliki ilmu tentang permasalahan yang ada, mahasiswa juga yang dapat membuka mata masyarakat sebagai salah satu bentuk pengabdian terhadap masyarakat.
Lalu, apa peran organisasi dalam hal ini?
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa organisasi dapat dijadikan sebagi media untuk menggambleng mentalitas generasi muda.  Organisasi mampu mencetak manusia menjadi insan yang lebih peka terhadap lingkungan. Dengan berorganisasi sesorang akan belajar bagaimana berkomunikasi dengan berbagai pihak, berargumentasi dalam menyelesaikan masalah, mengeksplorasi dan mempresentasikan suatu gagasan atau konsep sebuah rencana kegiatan.
 Organisasi senderung menuntut bagaimana seseorang harus bekerja rasa totalitas dan loyalitas yang tinggi. Agar apa yang menjadi tujuan dari organisasi tersebut dapat dicapai sesuai hasil yang diharapkan. Perlu diingat bahwa organisasi kemahasiswaan bukanlah sekadar wadah politik kampus melainkan organisasi mahasiswa juga menanamkan nilai-nilai ilmiah yang juga dapat menunjang proses belajar mahasiswa secara akademis. Jika mahasiswa acuh terhadap lingkungan atau misalnya tidak suka berorganisasi akan mengakibatkan sikap individualis.
Lalu apakah bisa menggantungkan sebuah harapan pada mahasiswa jika mahasiswa (baca:generasi muda) acuh terhadap lingkungan? Tentunya tidak. Karena mahasiswa membutuhkan softskill selain di jurusan yang dipelajarinya. Misalnya softskill mengenai kepemimpinan, kemampuan memposisiskan diri, interaksi lintas generasi dan sensitivitas atau kepekaan lingkungan yang tinggi.
Dicontohkan Institut Pertanian Bogor yang memiliki banyak organisasi kemahasiswaan. Seperti DPM dan BEM. BEM di kampus IPB juga terbagi menjadi 10 BEM yaitu BEM A - BEM J. BEM J memiliki desa binaan untuk mensosialisasikan mengenai dunia pertanian untuk masyarakat desa agar para petani memiliki pemahaman yang lebih detail darpipada hanya sekedar bertani lalu panen. Namun lebih menekankan bagaimana menjadi petani yang berkualitas agar bisa bertani sesuai dengan harapan yang utamanya adalah memanen hasil yang semaksimal mungkin. Dan tentunya juga memberikan pemahaman mengenai bagaimana caranya meminimalisir biaya operasional perawatan tanaman, bagaimana cara menghalau penyakit dan hama yang menyerang tanaman sehingga dapat memanen hasil yang maksimal.
Selain desa binaan BEM J juga bertugas untuk mengurus mahasiswa berprestasi, menyalurkan beasiswa bagi mahasiswa yang secara materi kurang memadai, menyampaikan aspirasi mahasiswa kepada civitas akademik, mengembangkan sumber daya manusia khususnya potensi yang dimiliki oleh mahasiswa-mahasiswi Institut Pertanian Bogor dan masih banyak peran BEM J.
Dan peryataan diatas merupakan beberapa bukti konkret yang dapat menyatakan bahwa sebuah organisasi berfungsi sebagai mediator agar seseorang bisa mengenali lingkungannya dan dapat berkontribusi untuk lingkungannya.
Dan sosok Arief Rahman Hakim serta pahlawan ampera lain, seyogyangya mampu menjadi pemantik semangat generasi muda saat ini. Ironis jika sosok mahasiswa yang berkewajiban menjadi agent of change, moral value dan ironstock tak melaksanakan kewajiban-kewajiban tersebut. Karena masa depan sebuah bangsa tergantung bagaimana generasi mudanya berusaha.
Jaya Mahasiswa, Jaya Indonesia raih Masa Depan Nan Jaya!